5 Alasan Orang Membeli NFT Seni Digital dengan Harga hingga Miliaran Rupiah

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 16 Jan 2022 10:00 WIB
Ghozali Everyday
Ghozali Everyday, mahasiswa Udinus yang meraup Rp 1,5 miliar dari penjualan koleksi NFT foto selfie-nya.Foto: Angling Adhitya Purbaya
Jakarta -

Ghozali Everyday meraup Rp 1,5 miliar setelah menjual koleksi Non Fungible Token (NFT) foto selfie di platform marketplace NFT OpenSea. Di platform ini, berbagai penjual, pembeli, dan kreator aset digital dapat bertransaksi dengan mata uang kripto Ethereum (ETH). Kenapa orang membeli NFT?

Mahasiswa D4 Animasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang bernama asli Sultan Gustaf Al Ghozali tersebut menuturkan, sebanyak 932 foto wajahnya ia unggah OpenSea. Foto sejak lulus SMK pada 2017 tersebut, sambungnya, akan bertambah seiring melanjutkan proyek selfie ini sampai lulus kuliah.

"Awalnya saya hanya bergurau dengan teman tentang foto wajah yang saya upload di situs NFT. Foto-foto ini sudah saya upload sejak Desember 2021 lalu di Opensea NFT dan akan saya lanjutkan hingga lulus kuliah," kata Ghozali seperti dikutip dari laman resmi Udinus, Sabtu (15/1/2022).

Kenapa Orang Membeli NFT?

1. Garis Riwayat Kepemilikan

NFT adalah rangkaian data digital yang merekam bukti kepemilikan sebuah benda di dunia virtual. Benda ini termasuk karya seni digital, aset keuangan, atau paten. Nah, teknologi NFT memungkinkan cryptocurrency atau mata uang kripto seperti bitcoin atau eter menjadi alat tukar benda digital tersebut, seperti dijelaskan tim University of Zurich dikutip dari Futurity.

2. Semua Transaksi Terlacak

Robert Zumkeller, desainer grafis dan praktisi NFT mengatakan, NFT seni memungkinkan seseorang untuk melacak semua transaksi setelah penjualan awal sebuah objek digital. Karena itu, fitur pelacakan juga memungkinkan pemilik awal objek mendapat royalti abadi dari objek digital tersebut.

Zumkeller mengatakan, dirinya juga mulai membuat karya ilustrasi NFT saat kuliah di Akademi Seni dan Desain Fachhochschule Nordwestschweiz (FHNW), Basel, Swiss di bawah nama Vicarivs. Seniman ini menjelaskan, ia akan menerima 10 persen royalti dari penjualan berikutnya atas karyanya. Kondisi mendapat royalti abadi ini, sambungnya, jarang terjadi pada karya fisik yang dijual galeri atau kolektor.

Ia memaparkan, dalam karya seni fisik, biasanya hanya ada satu salinan asli atau beberapa lusin karya seni cetak. Karya asli dapat dibedakan dari karya reproduksi dan karya palsu.

Zumkeller menjelaskan, sebagai karya digital, sebuah karya seni adalah sebuah file data. Ini artinya, karya digital bisa punya salinan atau copy sempurna yang tidak terbatas jumlahnya. Karena itu, NFT bukanlah soal jual-beli file karya, tetapi menjadi soal jual-beli bukti kepemilikan asli sebuah objek digital, termasuk karya digital.

"Saya tidak yakin akan menemukan galeri fisik yang bersedia memamerkan karya digital saya atau pembeli yang betul-betul ingin membelinya. Dengan NFT, saya bisa menggunakan galeri online, Superrare.com, untuk memamerkan karya saya dan menjualnya," kata Zumkeller.

3. Barang Mewah Versi Digital

Di samping pasar seni rupa, NFT juga memasuki pasar barang mewah, musik, dan film. Serge Maillard, redaktur pelaksana majalah jam tangan Europa Star mengatakan, NFT karya foto atau animasi 3D jam mewah dapat digunakan perusahaan jam tangah mewah untuk memelihara hubungan yang lebih dekat dan lebih pribadi dengan klien tanpa perantara.

Perusahaan keamanan TI Swiss Wisekey juga pindah ke bisnis NFT. CEO Wisekey Carlos Moreira mengatakan, perusahaannya sekarang menyediakan NFT untuk melindungi benda-benda mewah, membuat pasar seni, dan membuat manajemen hak digital musik dan film.

"Salinan digital barang-barang mewah dan seni memang pasar utama sejauh ini, tetapi penggunaan NFT lainnya muncul, khususnya untuk sertifikasi kekayaan intelektual dan identitas," kata Moreira.

4. Pembuatnya Terbatas Jadi Harganya Dapat Tinggi

Dosen Blokchain Universitas Zurich Claudio Tessone, mengatakan, desain teknologi NFT memicu spekulasi. Tessone menjelaskan, karena jumlah barang digital yang dibuat satu seniman masih terbatas, sementara yang mencarinya kian banyak, maka muncul investor dan spekulasi yang sama-sama membuat harga jual sebuah NFT makin mahal.

"Sejauh ini, pilihan desain pada teknologi telah membantu memicu spekulasi," jelas Tessone.

Dosen Manajemen Massachussetts Institute of Technology Catherine Tucker mengatakan, dirinya menyesali fokus para pegiat NFT pada spekulasi.

"Sebagian besar pelaporan NFT berada pada aspek spekulatif. Ini agak membuat frustrasi, karena dapat menyebabkan lebih sedikit eksperimen pada kasus penggunaan NFT yang ideal," kata dosen yang berspesialisasi di bidang blockchain ini.

5. Identitas Dapat Ditelusuri

Salah satu masalah yang juga disukai penjahat NFT adalah anonimitas pada teknologi blockchain memungkinkan terjadinya penipuan keuangan. Contoh, pada September 2021, marketplace NFT OpenSea mengungkapkan bahwa salah satu karyawannya sudah membeli barang tepat sebelum ditampilkan untuk dijual di halaman depannya.

Perdagangan 'orang dalam' lewat celah identitas anonim tersebut memungkinkan seorang kreator objek digital bersekongkol dengan seseorang untuk membeli karya dalam jumlah besar. Namun, alih-alih dijual sungguhan, transaksi ini disengaja untuk menaikkan harga dan menahan sebuah objek ditawar dengan harga murah.

Di sisi lain, Tesson mengingatkan, privasi dalam mata uang kripto adalah ilusi. Sebab, transaksi dan identitas pengguna tetap dapat ditelusuri. Senada dengan Tesson, Tucker mengatakan, pada akhirnya, teknologi hanyalah teknologi.

Nah, rupanya ada beragam penyebab kenapa orang membeli NFT karya seni dan objek digital hingga miliaran rupiah seperti foto selfie Ghozali Everyday, ya. Gimana detikers, apakah kamu tertarik bergelut di transaksi NFT?



Simak Video "Bertemu Ghozali, Pemuda Semarang yang Cuan Miliaran Rupiah dari NFT"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia