Kenapa di Indonesia Orang Ulang Tahun Malah Ntraktir?

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 05 Jan 2022 20:00 WIB
Makan bersama dengan keluarga di cafe dan restoran. Hasan Alhabshy/ilustrasi/detikfoto
Kenapa orang ulang tahun di Indonesia malah nraktir? Begini penjelasannya. Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Sudah berapa kali kamu mentraktir teman-teman saat ulang tahun? Atau, apakah kamu termasuk yang sering kebagian traktiran? Budaya traktir saat berulang tahun yang umum di Indonesia ini rupanya enggak umum di negara-negara lain, lho, terutama di negara Barat.

Di Amerika Serikat, perayaan ulang tahun anak usia TK hingga SD memang juga diisi pesta ulang tahun bagi yang ingin mengadakan seperti halnya di Indonesia. Namun, ulang siswa yang mulai memasuki remaja lebih umum dirayakan bersama keluarga inti dengan makan malam, kue, dan lilin.

Beberapa pelajar di AS di antaranya juga merayakan dengan pergi bersama teman, makan, dan minum. Namun, budaya traktiran tidak mengakar di antara pertemanan dan kenalan. Justru, orang yang berulang tahun lebih umum diberikan makanan, diberi kado, atau diajak nonton ke bioskop.

Lantas, kenapa orang yang ulang tahun malah yang mentraktir makan di Indonesia?

Kenapa Orang Ulang Tahun Malah Nraktir

Masyarakat Komunal

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati menuturkan, traktiran merupakan cara masyarakat Indonesia dalam membagikan rasa bahagia saat ulang tahun. Cara berbagi bahagia ini punya kaitan dengan karakter masyarakat Indonesia sebagai masyarakat komunal, kontras dengan warga Barat yang sebagai masyarakat individual.

Devie menjelaskan, masyarakat komunal Indonesia tidak cukup membagikan rasa bahagia dan bersyukur atas sesuatu dengan hanya berbagi untuk diri sendiri atau keluarga terdekat.

"Sudah jadi kearifan budaya lokal kita syukur itu diungkapkan dengan membagikannya dengan orang yang lebih luas, karena kita merupakan masyarakat yang snang berkumpull secara komunal, secara bersama-sama," kata Devie pada detikEdu, Rabu (5/1/2022).

Cara Bersyukur

Devie menjelaskan, basis orang Indonesia sebagai masyarakat komunal membuat momen bersyukur saat ulang tahun, mendapat rezeki, hingga momen kelulusan kelulusan diekspresikan dengan mengeluarkan sumber daya materil. Termasuk di antaranya yaitu merogoh kocek untuk mentraktir makanan, menggelar kegiatan, dan mengundang orang banyak yang bertujuan untuk berbagi.

Keluarga Sosial

Sebaliknya, sambung Devie, orang Indonesia sebagai masyarakat komunal juga menginginkan orang lain melakukan hal yang sama sebagai bukti bahwa dirinya merupakan bagian dari sebuah keluarga sosial besar.

Perbedaan tradisi traktiran ulang tahun di Indonesia dengan di Barat menurut Devie juga berawal dari konsepsi keluarga yang melekat pada karakter masyarakat. Ia menjelaskan, konsepsi keluarga di Indonesia adalah keluarga sosial, sementara di Barat adalah keluarga inti.

"Di Indonesia, sebagai masyarakat komunal, kehidupan ini bukan kehidupan sendiri, tetapi bersama. Karena itu juga di Barat tidak biasa menanyakan pada orang lain 'Ibu-Bapak gimana?' Di sini biasa berbagi hal pribadi. Bahkan tetangga juga bagian keluarga. Jadi apapun dibagikan, termasuk cerita dan lainnya. Orang Barat tidak membagikan banyak hal, entah traktiran dan cerita hidup," tuturnya.

Devie menambahkan, basis sebagai masyarakat komunal yang melekat juga membuat budaya traktiran masih awet di Indonesia kendati orang di perkotaan mengadaptasi kehidupan masyarakat individual. Atas alasan yang sama, sambungnya, orang Barat yang juga tetap berkumpul dalam perayaan seperti Thanksgiving dan Natal bersama keluarga besar dan teman-teman tidak akrab dengan budaya traktiran.

Tidak Hanya Ulang Tahun

Kebiasaan bersyukur dengan cara berbagi, sambung Devie, tidak hanya tercermin pada perayaan dan traktiran ulang tahun. Ia mencontohkan, orang Indonesia juga biasa mengirimkan nasi uduk atau penganan lainnya jika tidak bisa menggelar syukuran di rumah atau di restoran.

Ia menjelaskan, atas dasar ekspresi syukur yang sama, orang Indonesia yang mudik juga datang secara fisik dan materil, seperti membawa oleh-oleh kue, kerupuk, dan lain-lain. Ia menekankan, poinnya bukan di nominal harga, namun perhatian dan wujud kasih sayang simbolis berupa pemberian pada keluarga sosial.

"(sementara di Barat) Kalau ultah, kelulusan, dan lain-lain bisa makan bareng-bareng, tapi bisa bayar sendiri. Di kita tidak," ucapnya.

Jika Tidak Ditraktir

Devie menuturkan, karakter masyarakat ini juga yang membuat seseorang bisa merasa tidak nyaman secara sosial jika tidak diikutkan dalam daftar undangan traktiran teman atau kerabatnya. Sebab, dari tidak mengundang traktiran, bisa muncul anggapan bahwa yang berulang tahun tidak ingin lagi jadi bagian sebuah komunitas sosial tersebut.

"Secara ekstrem, hal tersebut (tidak mengundang traktiran) juga bisa menimbulkan pengucilan," jelasnya.

Jangan Terbebani

Devie mengatakan, sebagai bagian masyarakat komunal, traktiran juga sesungguhnya penting bagi orang yang berulang tahun. Sebab, traktiran merupakan bagian dari upaya merekatkan diri pada komunitas atau hubungan sosial.

Di sisi lain, ia menekankan, jangan jadikan traktiran sebagai beban bagi yang berulang tahun. Ia menuturkan, sebuah keluarga sosial yang memang dasarnya dekat dapat terbuka atas kemampuan dan keterbatasannya dalam mentraktir teman-teman dan kerabat. Untuk itu, sambungnya, kesampingkan gengsi.


"Tidak ada yang salah dengan berbagi rasa, terutama dengan teman dan kerabat karena merupakan warisan tradisi sosial masyarakat timur. Namun, tradisi tersebut tidak kemudian jadi beban bagi kita. Gengsi itu yang jadi problem. Padahal buat penerima, yang penting adalah mengingat dia sebagai keluarga sosial tadi," jelasnya.

Ia menambahkan, esensi traktiran juga terletak pada berkumpul atau nongkrong. Untuk itu, ketimbang berfokus pada gengsi untuk menyediakan makanan di atas kemampuan sesungguhnya.

"Mau (kumpul) pegang gadget, ada yang tidur, tapi (yang penting) kebersamaannya. Sebab kita DNA-nya masyarakat guyub, baru nyaman dan merasa hidup kalau bersama-sama orang lain," tuturnya.

Nah, itu dia ternyata jawaban kenapa orang ulang tahun di Indonesia malah nraktir, bukan ditraktir. Hayo, apakah detikers salah satu yang hobi nraktir setiap ulang tahun?



Simak Video "Megawati Ulang Tahun ke-75, Ucapan dan Doa Mengalir dari Masyarakat-Pejabat "
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia