Ciri Omicron, Epidemiolog Unair: Daya Tular 5 Kali Lebih Cepat dari Delta

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Senin, 03 Jan 2022 09:00 WIB
Amerika Serikat (AS) melaporkan lebih dari 441.000 kasus virus Coronadalam sehari. Lonjakan kasus ini tercatat sebagai yang tertinggi sejak pandemi merebak di AS.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Kasus COVID-19 varian terbaru atau varian Omicron makin santer akhir-akhir ini. Pasalnya, semenjak kasus yang pertama kali ditemukan pada Kamis (16/12/2021) dari pekerja di Wisma Atlet berinisial N.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan ada 68 kasus Corona varian Omicron baru di Indonesia per hari Sabtu (1/1/2021) kemarin. Sehingga total kasus keseluruhan kasus Omicron meningkat menjadi 136, sebagaimana yang diberitakan dari detikNews.

Untuk itu, epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) Laura Navika Yamani, S.Si., M.Si., Ph.D membagikan empat ciri utama dari varian baru ini. Khususnya, karakteristik yang membedakan varian Omicron dengan varian lainnya.

4 Ciri Utama Varian Omicron dari Epidemiolog Unair

1. Daya Tular 5 Kali Lebih Cepat dari Delta

Laura mengungkapkan, daya tular varian Omicron dapat dikatakan lima kali lebih cepat dibandingkan dengan varian Delta sebelumnya. Hal ini bercermin pada kasus Omicron pertama yang ditemukan di Afrika Selatan.

Kasus Omicron mengalami peningkatan sebanyak dua hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu satu minggu saja.

"Virus COVID-19 varian Delta daya tularnya tujuh kali lebih cepat apabila dibandingkan dengan virus yang pertama kali muncul di Wuhan, sedangkan Omicron lima kali lebih cepat apabila dibandingkan dengan varian delta. Jadi bisa dibayangkan bagaimana berbahayanya varian omicron ini," papar Laura, seperti yang dilansir dari laman Unair, Minggu (2/12/2021).

2. Tingkat Keparahan Lebih Rendah dari Delta

Meskipun daya tularnya cepat, Laura mengatakan, varian Omicron memiliki tingkat keparahan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan varian Delta.

Namun, kasus Omicron tetap akan menjadi kasus penularan yang luas bila tidak ditangani dengan cepat maupun antisipasi di awal. Dampak panjangnya menyebabkan fasilitas kesehatan yang overload.

"Apabila tidak dibendung maka kasusnya akan semakin banyak dan mungkin bisa menyebabkan fasilitas kesehatan overload. Ketika fasilitas kesehatan penuh, maka penanganan pasien bisa terlambat sehingga keparahan penyakit pasien meningkat atau bahkan bisa menyebabkan kematian," ungkapnya.

3. Menggunakan PCR-SGTF untuk Deteksi

Berbeda dengan varian lainnya yang menggunakan tes metode Whole Genome Sequencing (WGS), tes yang efektif untuk memastikan seseorang terinfeksi varian Omicron adalah tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan S Gene Target Failure (SGTF).

"Jadi, memang pemerintah telah menyiapkan metode tes terbaru yakni menggunakan PCR-SGTF agar deteksi kasus COVID-19 varian Omicron bisa dilaksanakan dengan cepat," ungkap Laura.

4. Efektivitas Vaksin COVID-19 Menurun hingga 50 Persen

Berdasarkan penuturan Laura, ada penurunan efektivitas vaksin COVID-19. Meskipun antibodi dari vaksin COVID-19 ini masih mampu melawan varian baru tersebut.

Sebab, kata Laura, dikhawatirkan antibodi dalam tubuh masih belum familiar dengan virus varian baru yang masuk. Mulanya, efektivitas vaksin bisa mencapai 95 persen. Namun, untuk kasus Omicron hanya bisa mencapai sebesar 50% saja.

"Pada varian virus COVID-19 yang muncul pertama kali di Wuhan, vaksin COVID-19 memiliki efektivitas hingga 95 persen. Namun untuk melawan varian Omicron ini, efektivitas vaksin COVID-19 menurun dan hanya sebesar 50 persen. Peneliti masih terus melakukan investigasi terkait hal ini," paparnya.

Meskipun demikian, Laura tetap mengimbau masyarakat untuk tetap melakukan vaksinasi. Sebab, vaksin masih efektif untuk melawan virus COVID-19 yang masuk ke dalam tubuh.

"Kalau tidak divaksin, maka varian apapun bisa menyebabkan kematian," ujar dia.

Untuk itu, epidemiolog Unair ini berpesan agar seluruh masyarakat Indonesia tidak lalai dalam menerapkan 3M. Sebagai kunci utama untuk melawan varian COVID-19 apapun.



Simak Video "5 Kali Vaksinasi Covid, Ini KIPI yang Dirasakan Dicky Budiman"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia