Bagaimana Radio Menyelamatkan Kapal Titanic? Ini Kisahnya

Anatasia Anjani - detikEdu
Jumat, 31 Des 2021 12:00 WIB
Antique Radio With Cassette Player
Foto: Getty Images/iStockphoto/ArisSu
Jakarta -

Radio menjadi salah satu media massa elektronik bagi warga dunia. Dalam sejarahnya radio juga memiliki peran penting dalam menyelamatkan penumpang kapal Titanic.

Sebanyak 1.500 penumpang dari total 2.224 penumpang dan awak di dalamnya hilang, tetapi empat hari setelah tenggelam, kapal Cunard Carpathia berlayar ke New York membawa lebih dari 700 orang yang selamat.

Menurut laman Science Museum, berikut adalah penjelasan bagaimana radio menyelamatkan penumpang kapal Titanic.

Cara Radio Bekerja di Kapal

Pada pelayaran perdana Titanic tahun 1912, kapal ini menggunakan instalasi yang dibuat oleh Guglielmo Marconi (penemu radio).

Melansir Britannica, Macroni adalah fisikawan yang lahir pada 1874 yang sudah tertarik dengan fisika elektro sejak kecil. Sebelum mencatatkan sejarah sebagai penemu radio, Macroni mulai mengikuti penemuan matematika James Clerk Maxwell dan eksperimen Heinrich Hertz yang pertama kali memproduksi dan mentransmisikan gelombang elektromagentik pada 1884 yang dikenal dengan frekuensi.

Komunikasi antara kapal dan pantai dilakukan menggunakan kode morse. Telegraf tanpa kabel dapat mengirimkan pesan sekitar 480 ribu km di siang hari. Namun dapat berlipat ganda hingga tiga kali lipat pada siang hari karena pembiasan radiasi gelombang di ionosfer.

Fungsi Radio Bagi Titanic

Selain untuk berkomunikasi dengan kapal lain, radio di dalam kapal Titanic juga dapat mengirimkan pesan ke darat. Akses ini hanya digunakan untuk penumpang kelas satu.

Titanic sendiri dilengkapi dengan peralatan nirkabel terbaik. Namun peralatan tersebut belum dilengkapi dengan saluran yang jelas untuk komunikasi darurat.

Radio di kapal Titanic bekerja dengan saluran terbuka yaitu hanya dapat digunakan berbarengan pada saat yang sama.

Hal tersebut dikarenakan operator nirkabel Titanic melakukan transmisi pada frekuensi yang sama dengan kapal lain, dan salurannya macet dengan komunikasi penumpang.

Dikarenakan salurannya yang macet beberapa peringatan es dari kapal lain terlewatkan atau diabaikan. Pada saat Titanic bertabrakan dengan gunung es di laut pada malam 14 April 1912, Harold Cottam, operator di dekat kapal Cunard Carpathia, masih terjaga.

Cottam menerima sinyal marabahaya pertama dari Titanic yang kemudian dikirim oleh operator nirkabel senior Jack Phillips.

Ketika kapal Carpathia menerima panggilan darurat, ia segera berbalik dan melaju sejauh 96 ribu km menuju posisi tertentu Titanic, perjalanan hampir empat jam.

Sinyal Bahaya Kapal Titanic

Konvensi Radiotelegrafi Internasional, yang ditandatangani pada tahun 1906, telah menyepakati SOS yaitu tiga titik, tiga garis, tiga titik dalam kode morse sebagai sinyal marabahaya internasional.

Konvensi tersebut mulai berlaku pada tahun 1908, dimana CQD sinyal marabahaya Perusahaan Marconi masih digunakan secara luas pada saat pelayaran Titanic, termasuk oleh Jack Phillips.

Selama dua jam di Titanic, Phillips dan asisten operator Harold Bride terus mengirimkan aliran sinyal dan pesan marabahaya yang diambil oleh kapal lain.

Mereka tidak mengetahui bahwa Carpathia sudah dalam perjalanan, seseorang pun berkata pada Philips untuk mengirimkan sinyal SOS. Menurut orang tersebut mungkin itu adalah kesempatan terakhir untuk mengirimkannya.

Saat matahari terbit, Carphatia tiba di referensi grid dari sinyal yang dikirim oleh Phillips. Dua jam sebelum Titanic kandas dan tenggelam.

Tanpa adanya bantuan dari radio, mungkin tidak ada yang selamat dari tenggelamnya kapal Titanic.



Simak Video "1 Korban Tenggelam di Sidrap Sulsel Ditemukan Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/atj)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia