Ramai Dibicarakan di Sosmed, Ini Sejarah Metaverse dari Pakar Unair

Anatasia Anjani - detikEdu
Selasa, 28 Des 2021 13:00 WIB
Mark Zuckerberg mengumumkan pergantian nama baru Facebook menjadi Meta di event Connect 2021. Meta nantinya akan menjadi induk perusahaan yang menaungi Facebook, Instagram, WhatsApp, Oculus, dan lainnya.
Foto: Getty Images
Jakarta -

Istilah Metaverse ramai dibicarakan di berbagai media sosial utamanya Twitter. Hal tersebut dikarenakan klaim Mark Zuckerberg yang mengatakan Metaverse adalah dunia masa depan.

Metaverse sendiri adalah gabungan dari aspek virtual reality (VR), augmented reality (AR), media sosial, dan cryptocurrency yang bertujuan agar pengguna dapat berinteraksi dalam realitas digital.

Pakar Kajian Media Universitas Airlangga (Unair) Rachman Ida menjelaskan jika Metaverse adalah perkembangan dari konsep yang telah ada sebelumnya.

"Konsep Metaverse bukan benar-benar baru, sebab pada tahun 2003 sudah ada dunia virtual bernama Second Life yang menawarkan adanya konsep virtual community yang dibuat dengan maksud menghubungkan orang tanpa harus bertemu secara langsung," ujar Ida yang dikutip dari laman Unair.

Keberhasilan Second Life sendiri sudah terlihat saat perusahaan sekelas International Business Machine Corporation (IBM), serta ratusan perusahaan lainnya saling mendirikan kantor virtual di sana.

"Sedangkan di dunia pendidikan, Stanford, MIT, Monash mencoba membuat virtual campus yang dibangun menggunakan Second Life," jelas Guru Besar bidang Kajian Media pertama di Indonesia tersebut.

Walaupun populer di luar negeri, virtual world sendiri belum mendapatkan perhatian khusus di hati masyarakat Indonesia. Untuk mengenalkan virtual world kepada mahasiswa, Ida menyuruh mahasiswa S2 Media dan Komunikasi Unair agar membuat akun dan berkelana di Sim City dan Second Life.

"Kendalanya ya tetap di infrastruktur karena membutuhkan kapasitas komputer yang sangat besar, dan internet yang memadai," ujar Ida.

Ida berpendapat agar teknologi Metaverse juga tetap didukung oleh infratruktur dan jaringan internet yang stabil.

"Harus didukung oleh infrastruktur dan jaringan yang established. Kalau internet sebagai jalurnya saja tidak stabil, akan susah untuk ikut serta dalam Metaverse," kata Ida.

Ida menjelaskan teknologi Second life, SimCity, bahkan Metaverse sebenarnya terinpirasi dari novel-novel science fiction seperti Frankenstein, Snow Crash, dan Ready Player One.

"Disitu media realitas virtual dijadikan medium melarikan diri atau escape dari dunia yang sedang mengalami kondisi mengerikan dan menakutkan," kata Ida.

Walaupun begitu, Second Life dan Sim City memiliki perbedaan yang signifikan dengan platform karya Mark Zuckerberg.

"Metaverse adalah pengembangan dari konsep-konsep virtual world yang pernah ada," ujar Ida.

Ida menjelaskan jika Metaverse dapat diterima dengan target pasar tertentu di Indonesia. Seperti kalangan muda urban yang terbisa dengan kecanggihan teknologi, memiliki pendapatan ekonomi, dan suka mencoba hal baru.

Mereka yang memiliki kriteria tersebut akan menjadi pengadopsi inovasi atau early adopter Metaverse.

"Lalu, untuk kalangan yang tidak melek teknologi, terus mungkin juga tidak ada resources, dan masih menggunakan konsep gemeinschaft dan gesselschaft meskipun teknologi digital sudah maju, nantinya akan sulit untuk ikut serta dalam inovasi media ini," ujar Ida.



Simak Video "Meta Akan Ambil Komisi Hampir 50% di Metaverse"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia