Ilmu Matematika Bisa Cegah Penyebaran Penyakit Menular? Ini Kata Dosen IPB

Anatasia Anjani - detikEdu
Jumat, 24 Des 2021 12:30 WIB
Newtons Equations. Rear view, close-up on young man standing back against green chalkboard. He explains, solves physics tasks, retro style. Processing for retro bleached look, slight vignette added.
Foto: Getty Images/iStock
Jakarta -

Guru Besar IPB University dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jaharuddin menjelaskan ilmu matematika dapat digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Hal tersebut dikarenakan sifat-sifat dinamik dari model matematika soal penyebaran penyakit menular.

"Bilangan yang menunjukkan penyebaran penyakit, yaitu bilangan reproduksi dasar, diformulasikan untuk mencegah wabah penyakit atau menghilangkan kompartemen infeksi dalam populasi. Teorema kestabilan titik tetap yang dirumuskan dapat memberikan informasi kapan penyebaran penyakit campak menghilang (bebas penyakit) dan menjadi wabah (endemik)," ujar Jaharuddin yang dikutip dari laman IPB.

Jaharuddin mencontohkan misalnya dalam penyebaran penyakit campak menggunakan model kompartemennya. Model tersebut dikembangkan berdasarkan fakta vaksinasi dan pengobatan merupakan strategi dalam pengelolaan dan mitigasi penyebaran penyakit.

"Bilangan reproduksi dasar yang diperoleh hanya bergantung pada nilai-nilai parameter model, maka perlu mengetahui parameter yang paling sensitif. Indeks sensitivitas ini memberikan informasi mengenai parameter fisis dari model yang perlu dikontrol agar penyebaran penyakit ini tidak menjadi wabah," ujar Jaharuddin.

Lebih lanjut, Jaharuddin menjelaskan berdasarkan analisis sensitivitas dengan data penyebaran penyakit campak di Indonesia tahun 2018, ia merekomendasikan untuk memperkecil kontak dan memperbanyak pengobatan pada individu yang terpapar.

Selain untuk menganalisis penyebaran penyakit, ilmu matematika juga berfungsi untuk menilai parameter-parameter gelombang. Prediksi tersebut bermanfaat untuk mengantisipasi risiko yang muncul.

"Gelombang internal adalah gelombang yang terjadi di bawah permukaan laut, sehingga tidak teramati secara kasat mata. Keberadaan gelombang internal ini disebabkan oleh perbedaan rapat massa air laut di setiap lapisan," jelas Jaharuddin.

"Gelombang soliter internal merupakan salah satu gelombang internal yang banyak diamati, karena gelombang ini terdeteksi melalui pola gelap terang yang teratur di permukaan laut yang dapat terekam oleh SAR (Synthetic Aperture Radar)," lanjut Jaharuddin.

Jahar bercerita, gelombang internal dapat membuat air menjadi dingin dan plankton-plankton atau nutrisi-nutrisi lain yang berada di dekat dasar laut akan bergerak ke lapisan dasar permukaan.

"Sejumlah peneliti melaporkan adanya gelombang soliter internal di perairan Indonesia, seperti di Selat Lombok, dan di Selat Makassar. Gelombang soliter internal juga dapat terjadi di atmosfir sebagai akibat rapat massa udara yang tidak konstan," jelas Jaharuddin.

Kontribusi model matematika untuk menjelaskan fenomena gelombang internal dan kompleksitas penyebaran penyakit menular sangat terlihat jelas. Menurutnya ilmu matematika dasar untuk mengendalikan fenomena tersebut.

"Namun, tantangan terhadap pemodelan matematika ini muncul ketika model tersebut diuji kesesuaiannya dengan data-data yang diketahui dalam permasalahan tersebut," jelas Jaharuddin.



Simak Video "Dampak Pemanasan Global Terhadap Munculnya Penyakit Menular Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia