Ius Sanguinis dan Ius Soli, Indonesia Pakai Asas yang Mana?

Rika Pangesti - detikEdu
Senin, 13 Des 2021 17:00 WIB
Cara Mengurus KTP Hilang di Luar Kota Bisa Dilakukan, Cek di Sini!
Status kewarganegaraan di Indonesia memakai asas ius soli atau ius sanguinis? (Foto: Nadia Permatasari W/detikcom)
Jakarta -

Ius sanguinis dan ius soli adalah dua asas yang dianut negara-negara di dunia untuk memberikan status kewarganegaraan pada seseorang.

Seperti diketahui, kewarganegaraan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu. Setiap individu dianjurkan memiliki ikatan legal kepada sebuah negara untuk kepentingan administrasi dan kelangsungan hidupnya.

Pengertian kewarganegaraan menurut buku "Panduan Praktis Mendapatkan Kewarganegaraan" adalah adanya ikatan hukum antara orang-orang dengan negara atau sebagai status legal.

Fungsi kewarganegaraan adalah supaya orang yang sudah memiliki kewarganegaraan tidak terjerat pada kekuasaan negara lain. Negara lain tidak berhak memperlakukan hukumnya kepada orang yang bukan warga negaranya.

Setelah memahami pengertian dan fungsi kewarganegaraan, yuk simak dua asas untuk mendapat status kewarganegaraan menurut buku "Pendidikan Kewarganegaraan".

1. Asas Ius Sanguinis

Ius Sanguinis adalah asas yang menetapkan seseorang mempunyai kewarganegaraan menurut kewarganegaraan orang tuanya tanpa melihat tempat dimana ia dilahirkan.

Misalkan, seorang anak dilahirkan di negara B yang menganut asas ius sanguinis, sedangkan orang tuanya warga negara A, maka anak tersebut tetap menjadi warga negara A.

Contoh negara yang menerapkan asas ini adalah Indonesia, Belanda, Jepang, Jerman dan China.

2. Asas Ius Soli

Ius soli adalah asas tempat kelahiran (law of the soil), menetapkan kewarganegaraan seseorang menurut tempat kelahirannya. Artinya kewarganegaraan anak akan diberikan jika anak tersebut lahir di negara yang menganut asas ius soli.

Misalnya, seorang anak harus menjadi warga negara B karena lahir di negara B, meskipun orang tuanya warga negara A.

Contoh negara yang menerapkan asas ini adalah Amerika Serikat, Kanada, Brasil dan Australia.

Karena perbedaan dasar kewarganegaraan yang dipakai dalam menentukan kewarganegaraan, ada kemungkinan seseorang tidak memiliki kewarganegaraan atau bahkan ada pula yang rangkap kewarganegaraan.

Masalah-masalah yang akan terjadi adalah sebagai berikut.

1. Apatride

Apatride adalah seseorang tidak memiliki kewarganegaraan. Contohnya, jika anak lahir di negara B yang menganut asas ius sanguinis sedangkan orang tua berasal dari negara A.

Si anak tidak mendapat kewarganegaraan negara B karena lahir dari orang tua yang bukan warga negara B. Anak juga tidak mendapat kewarganegaraan orang tuanya karena tidak lahir di negara A (ius soli - berdasarkan tempat lahir).

2. Bipatride

Bipatride adalah seseorang yang memiliki dua kewarganegaraan (kewarganegaraan ganda) yang bisa terjadi karena anak lahir di negara A yang menganut asas kewarganegaraan ius soli (tempat kelahiran), tapi orang tuanya warga negara B yang menganut asas ius sanguinis.

Anak tersebut akan mendapat 2 kewarganegaraan dari negara A berdasarkan tempat lahir dan dari negara B karena faktor keturunan.

3. Multipride

Multipride adalah seseorang yang memiliki 2 atau lebih kewarganegaraan. Hal ini bisa terjadi jika bipatride menerima juga pemberian status kewarganegaraan lain ketika dia telah dewasa, namun tidak melepaskan status kewarganegaraan yang lama.

Detikers, demikian cara-cara individu untuk mendapatkan status kewarganegaraannya. Di Indonesia menerapkan asas ius sanguinis bukan ius soli.

Detikers tidak memiliki hambatan kewarganegaraan, kan?



Simak Video "Australia Buka Perbatasan Internasional untuk Warga yang Sudah Divaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia