Paus Pembunuh Pesta Makanan di Samudra Arktik: Apa Betul Kabar Buruk?

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 11 Des 2021 09:00 WIB
Peneliti mendapati paus pembunuh punya area berburu lebih luas sejak 2012.
Peneliti mendapati paus pembunuh punya area berburu lebih luas dalam 10 tahun terakhir. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Paus pembunuh biasa berenang dari satu laut ke laut lainnya untuk makan beragam jenis mangsa. Kebiasaan ini rupanya agak berbeda beberapa tahun belakangan.

Penelitian Byrnn Kimber dkk. mendapati, paus pembunuh (Orcinus orca) cenderung tinggal lebih lama di Samudra Arktik pada 2012-2019. Mencairnya es di kawasan tersebut diduga kuat menjadi penyebabnya. Kabar ini, menurut para peneliti, bukan kabar bagus buat dunia. Kenapa begitu, ya?

Paus Pembunuh di Samudra Arktik

Mikrofon Bawah Air

Para peneliti semula menaruh mikrofon bawah air di pesisir barat dan utara Alaska. Brynn Kimber, peneliti dari Cooperative Institute for Climate, Ocean, and Ecosystem Studies (CICOES) mengatakan, niat awalnya bukan untuk meneliti paus pembunuh. Alih-alih, mereka berencana mencari tahu pola migrasi spesies di Laut Bering, Chukchi, dan Beaufort berdasarkan keberadaan suara akustiknya.

"Tapi ketika aku mencari spesies lain, seperti paus beluga, aku mendapati lebih banyak dan lebih banyak lagi paus pembunuh di area-area yang tidak kusangka-sangka," kata peneliti alumnus University of Washington, AS ini dalam keterangan tertulis, Kamis (2/12/2021).

Tidak Lagi Perlu Takut Terjebak Es

Peneliti mendapati, sejak 2012, paus pembunuh tidak lagi takut terjebak es di Samudra Arktik saat berburu ikan dan makanan lain. Kecenderungan ini mengindikasikan naiknya tingkat pencairan es di Samudra Arktik, seperti dikutip dari studi Tracking Killer Whale Movements in the Alaskan Arctic Relative to a Loss of Sea Ice.

Kimber menjelaskan, sejumlah area yang didiami paus pembunuh dalam temuan peneliti bisa jadi sudah jadi tempat langganan mamalia tersebut. Tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah keberadaan paus-paus tersebut yang tampak lebih lama daripada biasanya. Ia menerangkan, kecenderungan ini dipicu lebih banyak dan lebih lamanya area Samudra Arktik yang tidak tertutup es.

Pesta Makanan

Berkurangnya es di lautan Arktik memungkinkan paus pembunuh pesta makanan karena punya tempat berburu lebih luas. Sebab, es di Samudra Arktik punya peran penting sebagai alat pelindung spesies mamalia dan ikan dari paus pembunuh.

"Meskipun ada perbedaan spasial dan antartahun, tingkat keberadaan minimal es di lautan Arktik menurun 13% per 10 tahun, jika dibandingkan dengan data pada 1981 ke 2010. Jadi paus pembunuh kini sedang diamati di Laut Chukchi, bagian dari Samudra Arktik pada bulan-bulan saat es seharusnya menutupi lautan, dan juga pada musim panas di sana," kata Kimber.

Kesenjangan Ekologis

Paus pembunuh dikenal sebagai predator yang adaptif, mamalia cerdas, dan berburu dalam kawanan untuk mendapatkan mangsa yang jauh lebih besar darinya. Karena itu, berkurangnya es di Samudra Arktik berpotensi besar membuka area berburu lebih luas. Dampaknya, es yang berkurang di Arktik dan aktivitas orca yang meningkat berisiko membuat kesenjangan ekologis.

Salah satu mangsa incaran paus pembunuh adalah paus kepala busur yang langka. Paus pembunuh adalah satu-satunya predator alami paus kepala busur.

Paus yang terancam punah ini sebetulnya tidak kalah besar dengan orca. Paus kepala busur (Balaena mysticetus) bisa tumbuh sepanjang 15-20 meter, cukup jauh dibandingkan paus pembunuh yang tumbuh hingga sepanjang 6-8 meter "saja". Tetapi, paus kepala busur biasanya pandai bersembunyi di balik es Arktik untuk menghindari kawanan paus pembunuh yang berusaha mengitarinya.

Musim gugur tahun lalu, peneliti pertama kalinya mendapati langsung penyerangan paus pembunuh pada paus kepala busur di Samudra Arktik. Sebelumnya, peneliti beberapa kali mendapati bangkai paus kepala busur mengambang di lautan Arktik, seperti dikutip dari penelitian Bowhead whale (Balaena mysticetus) and killer whale (Orcinus orca) co-occurrence in the U.S. Pacific Arctic, 2009-2018: evidence from bowhead whale carcasses.

Jadi, berkurangnya es di Samudra Arktik dan aktivitas paus pembunuh yang meningkat karena pemanasan global rupanya punya dampak pada kepunahan dan kesenjangan ekologis bagi alam dan manusia kelak. Yuk detikers, cari tahu bagaimana kamu bisa kurangi pemanasan global buat jaga alam.



Simak Video "Rekor! Suhu Arktik Mencapai 38 Derajat Celcius"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia