Kisah Helen Keller, Penulis Buta dan Tuli yang Bisa Menerbangkan Pesawat

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 07 Des 2021 20:00 WIB
Kisah Helen Keller, penulis, pendidik, dan aktivis buta-Tuli yang menerbangkan pesawat.
Kisah Helen Keller, penulis, pendidik, dan aktivis buta-Tuli yang menerbangkan pesawat. Foto: Library of Congress, Washington D.C. (Mavis identifier: 93858)
Jakarta - Penulis, pendidik, dan aktivis asal Amerika Dr. Helen Keller sudah buta dan Tuli sejak kecil. Namun pada Juni 1946, aktivis disabilitas ini menerbangkan pesawat selama 20 menit perjalanan rute Roma-Paris. Bagaimana bisa?

Dikutip dari Encyclopaedia Britannica, perempuan di masanya jarang yang pernah bepergian dengan pesawat. Keller sendiri naik pesawat pertama kali pada tahun 1919 di lokasi syuting Deliverance, semacam film biografi tentang dirinya.

Saat itu, Keller sudah dikenal sejak usia 16 di Amerika Serikat dan usia 24 di skena mancanegara sebagai anak muda buta dan Tuli yang bisa berkomunikasi dengan orang Dengar dan lulus perguruan tinggi. Film tersebut kelak mengantarkan Hellen Keller menerbangkan pesawatnya sendiri 27 tahun kemudian.

Kisah Helen Keller, Menerbangkan Pesawat

Tayangan Inklusif

Kendati populer, kecakapan Helen Keller dalam berkomunikasi dan meraih pendidikan rupanya masih dipandang skeptis sebagian anggota masyarakat. Untuk menepis praduga tersebut, produser film Deliverance ingin "menampilkannya melakukan semua hal yang bisa dilakukan orang pada umumnya," termasuk "scene saat dia berpakaian sendiri, untuk menunjukkan bahwa ia bisa."

Pesawat merupakan teknologi baru di masa itu. Karena itu, produser Keller memutuskan dirinya juga harus tampil naik pesawat.

Keller mengaku, sejumlah adegan di film tersebut tidak jarang absurd, sampai-sampai dia sering adu mulut dengan tim produksi menyoal naskah yang tidak realistis. Salah satu adegan juga memfilmkan dirinya tidur, hanya untuk membuktikan pada orang-orang bahwa dirinya juga memejamkan mata saat tidur. Di sisi lain, Keller menuturkan dirinya senang berkesempatan untuk naik pesawat.

Pesawat Simbol Kebebasan

Pada artikel yang mengulas film tersebut, para penulis membahas aksi Helen Keller, termasuk saat naik pesawat. Salah satunya menyebut bahwa Helen Keller mengaku merasakan kebebasan fisik paling bebas sepanjang hidupnya.

"Helen Keller sendiri tidak pernah takut dengan kegiatan fisik. Sejak kecil, ia belajar menyelam di lautan dengan tali di pinggang, yang diikatkan pada tiang di pantai.Dia juga suka tobogganing, dan menyusuri jalan terjal di New England," bunyi arsip berita tentang sepak terjang Keller dalam Encyclopaedia Britannica.

"Dan ia tahu, kalau itu semua bisa menarik perhatian orang atas apa yang orang buta bisa lakukan, maka apapun yang ia lakukan untuk mendapat perhatian itu impas. Helen di udara (naik pesawat) selama setengah jam, dan berkata dirinya merasakan kebebasan fisik paling bebas seumur hidupnya," demikian tertulis dalam artikel tersebut.

Keller kelak mendapat kesempatan lebih banyak merasakan kebebasan fisik seiring meningkatnya teknologi penerbangan. Pada tahun 1931, Keller naik pesawat rute Newark, New Jersey - Washington, D.C. yang membuatnya bertemu Presiden Amerika Serikat. The New York Times yang meliput penerbangan tersebut mencatat, Keller menyebut pesawat sebagai "seekor burung anggun besar berlayar melintasi langit tak berbatas."

Kopilot

Pada 1946, Helen Keller menerbangkan pesawatnya sendiri di atas kawasan Mediterania. Saat itu, ia dan interpreter-nya, Polly Thomson berkeliling Eropa sebagai perwakilan American Foundation for the Overseas Blind.

Polly Thomson sehari-hari menerjemahkan ucapan Keller ke orang-orang dan berbicara pada Keller dengan menekankan simbol-simbol ke telapak tangannya. Bersama Thomson, Keller akan melanjutkan perjalanan dari Eropa ke India, Afrika, dan Timur Tengah. Ketika pesawat di melintas di atas Laut Tengah, Keller mengambil alih kontrol pesawat.

Keller menuturkan, sambil mengendarai pesawat, ia berbicara dengan Thomson lewat bahasa isyarat telapak tangan. Thomson menerjemahkan instruksi-instruksi pilot ke telapak tangan Keller yang duduk di kursi kopilot.

"Kru pesawat kagum pada sikapnya yang sensitif pada kemudi. Tidak ada guncangan atau getaran. Dia hanya duduk di sana dan menerbangkan pesawat dengan tenang dan stabil," kata Thomson.

Sementara itu, sebagai pilot, Keller merasa pergerakan halus pesawat di kemudinya sangat baik.

Helen Keller Kedua

Jejak Helen Keller kelak diteruskan pada 2012 oleh Katie Inman, anak buta-Tuli 15 tahun yang juga menggunakan bahasa isyarat telapak tangan untuk berkomunikasi. Saat itu, Inman mengemudikan pesawat di Florida. Setelah instruktur terbang membantunya lepas landas, Inman mengambil alih kemudi di ketinggian 2.600 kaki atau sekitar 792 meter.

Semula, pesawat menjadi simbol kebebasan fisik bagi Helen Keller. Namun dengan sepak terjangnya, Helen Keller terus tumbuh menjadi simbol kebebasan fisik dari stigma disabilitas.

Kendati skeptisisme masyarakat tidak serta-merta hilang, reputasi Helen Keller sebagai penulis, sosok yang piawai dalam berkomunikasi, aktivis, dan pengalamannya menerbangkan pesawat sebagai orang buta-Tuli membantu menghapus stigma di masanya.


Sebelum Helen Keller dikenal, kebutaan sempat dianggap berhubungan dengan penyakit kelamin, tabu dibahas di majalah perempuan.

Saat ia terkenal, Ladies' Home Journal bahkan menerbitkan tulisannya tentang kebutaan dan disabilitas. Popularitas karya Heler Keller, mulai dari buku, kelas-kelasnya, dan pengalamannya menerbangkan pesawat, orang-orang di masanya mau tidak mau belajar mengenal lebih dalam isu kebutaan, Tuli dan disabilitas.

Gimana detikers, sudah kenal bahasa isyarat yang biasa digunakan orang Tuli dan buta, belum?



Simak Video "Ini Program Pemerintah yang Bantu Disabilitas untuk Perlindungan Sosial"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia