6 Cara Mengatasi Kesepian untuk Mahasiswa, agar Hidup Lebih Semangat

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 26 Nov 2021 20:00 WIB
beautiful and young black girl who studies and works with a laptop around the city, blogger and smart worker in times of epidemic surf the internet, use multimedia content, use of protective mask in times of epidemic
Cara mengatasi kesepian saat kuliah selama pandemi. Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrea Migliarini
Jakarta - Kampus-kampus di berbagai negara ditutup selama pandemi. Dampaknya, mahasiswa harus menjalani kuliah daring dan tidak meninggalkan tempat tinggal jika tidak perlu. Kendati sejumlah negara kini melonggarkan kebijakan sosial terkait pandemi, periode lockdown dan pembelajaran jarak jauh sudah berdampak pada tingkat kesepian mahasiswa.

Survei Office for National Statistics, UK contohnya, mendapati 48,5 persen orang merasa kesepian hanya dari satu bulan pertama pembatasan sosial saja. Sementara itu, survei Save the Student mendapati dua pertiga mahasiswa merasa kesehatan mentalnya terpuruk selama pandemi.

Associate Professor dari Rotterdam School of Management, Erasmus University Dr. Meir Shemla dan peneliti Hodar Lam dalam laman QS Top Universities mengatakan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan mahasiswa dalam mengatasi kesepian.

Cara Mengatasi Kesepian saat Kuliah

Memahami Penyebab Kesepian saat Kuliah

Lam menjelaskan, ada dua penyebab utama munculnya kesepian. Pertama yaitu kurangnya hubungan yang bermakna. Contohnya seperti memiliki support system yang tidak mencukupi atau memiliki hubungan virtual yang dangkal.

Penyebab kedua yaitu memegang ekspektasi terlalu tinggi atas interaksi sosial di sekitar. Lam mengatakan, kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi merupakan inti kesepian.

Ia mencontohkan, ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap orang lain dan sinis menilai niat orang saat mereka mengontak juga berperan akan munculnya rasa kesepian. Sementara itu, harapan besar pada kampus sebagai tempat mengembangkan ilmu dan skill juga dipengaruhi adanya pandemi.

"Mahasiswa mungkin menganggap kampus sebagai tempat persiapan diri untuk mengembangkan karier, mengikuti organisasi kampus, nongkrong, ikut tim olahraga kampus, dan kegiatan lain yang mendefinisikan dan membangun rasa kemandirian dari segi finansial dan meninggalkan rumah," kata Lam.

Ia menambahkan, belajar dari rumah juga mungkin tidak mencukupi harapan mahasiswa akan kehidupan kampus yang penuh interaksi langsung. Padahal, kata Lam, usia kuliah merupakan fase hidup saat teman sebaya dan romansa penting untuk pengembangan identitas melalui penerimaan sebagai teman dekat atau pasangan. Interaksi sosial tersebut penting sebagai transisi dari masa remaja ke dewasa muda.

Lebih Sedikit Hubungan, Tapi Lebih Tinggi Kualitasnya

Penelitian Shemla dan Lam mendapati, sedikit hubungan yang lebih berkualitas punya dampak besar untuk mengurangi rasa kesepian ketimbang memiliki banyak hubungan yang tidak karib. Shemla menjelaskan, hal ini disebabkan karena kesepian tidak hanya berakar dari isolasi diri, tetapi juga kurangnya hubungan sosial yang mendalam dan bermakna.

"Berada di tengah-tengah orang banyak hanya membuatnya jadi dangkal saja. Makin banyak koneksi, maka hubungan yang terjalin cenderung makin kurang dalam, kurang personal, dan kurang bermakna," kata Shemla.

Mau Membuka Diri

Kendati kesepian kerap mendapat stigma, mengakui kondisi kesepian, cemas, kesulitan, dan kebiasaan saat pandemi rupanya dapat merawat hubungan pertemanan di kuliah lebih dekat. Menjadi terbuka akan kendala yang dihadapi saat pos-pos di media sosial menampilkan hal-hal yang kelihatan sempurna, kata Shemla, dapat membuat rasa terhubung dan relatable.

Berusaha Membantu Orang Lain

Secara sadar berusaha membantu orang lain dengan membicarakan tentang kesepian juga rupanya membantu mengurangi rasa kesepian. Di samping menormalisasi kondisi tersebut, membantu dan melakukan hal baik pada seorang teman juga dapat membuatnya merasa hubungan pertemanan tersebut lebih bermakna dan positif.

Percakapan Akrab dengan Teman dan Keluarga

Jujur pada teman dan keluarga atas rasa kesepian merupakan hal yang penting. Jangan lupa mengontak keluarga dan teman saat kesepian sambil membicarakan hal-hal positif. Contohnya seperti nostalgia liburan, jalan-jalan, dan tahun baru. Lam mengatakan, pembicaraan tersebut dapat memunculkan kehangatan emosional ketika membahasnya.

Ia menggarisbawahi, percakapan terbuka atau open ended questions bisa mengusir rasa kesepian. Pertanyaan-pertanyaan "bagaimana.." atau "seperti apa.." dapat mendorong teman dan keluarga berbicara tentang dirinya, sehingga kamu tidak hanya berbicara tentang diri sendiri.

Menghubungi Teman yang Mungkin Kesepian

Ingat rasa senangnya ketika orang mengontak saat kita sedang kesepian? Nah, kamu juga bisa mengontak teman untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja dan tidak kesepian. Di samping membantu teman yang mungkin sedang kesepian, hal in rupanya juga menumbuhkan rasa bahagia karena membantu orang.

Shemla mengatakan, proaktif memulai kontak dengan teman juga juga membantu kita untuk mengubah pemikiran sebelumnya bahwa kita merupakan korban keadaan. Saat mengontak, belajar berempati dengan aktif mendengar dan lebih sedikit berbicara. Di samping itu, dengarkan perasaan teman dan perhatikan apa yang ia maksud namun tidak terkatakan.

Mengontak Tenaga Profesional

Jika rasa kesepian tidak juga pergi, jangan ragu untuk mengontak tenaga profesional seperti psikolog di layanan konseling milik kampus atau di berbagai platform kini. Di samping mengatasi kesepian, konseling juga membantu kamu berdiskusi mengenai pengembangan potensi karier dan belajar tentang kebutuhan sosio-emosional.

Nah, itu dia cara mengatasi kesepian saat kuliah untuk mahasiswa. Yuk, rawa kesehatan mental kita.



Simak Video "Waktu Terbaik untuk Memulai Self Healing Menurut Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia