Surat Al Qalam Ayat 4: Alasan Tidak Terputusnya Pahala Rasulullah

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Jumat, 26 Nov 2021 06:00 WIB
ilustrasi nabi muhammad
Ilustrasi Nabi Muhammad yang akhlak mulianya diungkap dalam Surat Al Qalam ayat 4. (Foto: iStock)
Jakarta - Surat Al Qalam ayat 4 mengungkapkan satu alasan di balik tidak terputusnya pahala yang diperoleh Rasulullah SAW. Menurut tafsir dari Al Quran Kementerian Agama (Kemenag), hal itu disebaban akhlak mulia beliau semasa hidupnya.

"Ayat ini memperkuat alasan yang dikemukakan ayat di atas dengan menyatakan bahwa pahala yang tidak terputus itu diperoleh Rasulullah SAW sebagai buah dari akhlak beliau yang mulia," tulis Kemenag dalam tafsirnya.

Bacaan surat Al Qalam ayat 4 lengkap dengan artinya dapat disimak pada penjelasan berikut,

Surat Al Qalam Ayat 4, Arab, latin, dan artinya

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Bacaan latin: Wa innaka la'alā khuluqin 'aẓīm

Artinya: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur."

Berkenaan dengan akhlak mulia Rasulullah SAW, istrinya, Aisyah RA pernah ditanya oleh Qatadah mengenai gambaran akhlak dari beliau. Aisyah menyebut bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran, artinya seluruh aspek perilakunya termaktub di dalam Al Quran.

Mengutip dari tafsir Ibnu Katsir, surat Al Qalam ayat 4 ini juga bermakna Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu mengamalkan isi Al Quran. Apapun yang diperintahkan di dalam kitab suci pasti dikerjakan.

Sebaliknya, semua yang dilarang dalam Al Quran akan ditinggalkan Rasulullah SAW. Banyak bukti terkait akhlak mulia Rasulullah SAW dari keterangan-keterangan sahabat. Salah satunya yang disebutkan dalam kitab Sahibain, dari Anas RA, ia berkata,

"Aku menjadi pelayan Rasulullah SAW. selama sepuluh tahun, dan beliau sama sekali belum pernah membentakku dengan kata, "Husy!"

Dan belum pernah mengatakan terhadapku tentang sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, "Mengapa engkau melakukannya?"

Dan tidak pula terhadap sesuatu yang seharusnya kulakukan, "Mengapa tidak engkau lakukan?" Beliau adalah seorang yang paling baik akhlaknya.

Dan aku belum pernah memegang kain sutra, baik yang tebal maupun yang tipis dan tidak pula sesuatu yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah SAW. Dan aku belum pernah mencium minyak kesturi dan tidak pula wewangian lainnya yang lebih harum daripada bau keringat Rasulullah SAW."

Hal senada juga diungkapkan dari Imam Ahmad yang telah diceritakan dari Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dan dari Aisyah bahwa Rasulullah tidak pernah menggunakan tangannya untuk memukul para pelayan atau istrinya.

Selain menggambarkan akhlak mulia Rasulullah SAW, ayat ini juga disebut menggambarkan tugas Rasulullah SAW sebagai perantara dalam menyampaikan risalahNya kepada umatnya. Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Bacaan latin: Laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā

Artinya: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Melalui hadits riwayat Ahmad dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW juga mengatakan tujuan Allah SWT mengutusnya semata-mata hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Nah, dengan penjelasan ini semoga kita semua bisa meneladani Nabi Muhammad SAW seperti dalam surat Al Qalam ayat 4 ya, detikers. Aamiin.

Simak Video "Melihat Madrasah di Afghanistan di Bawah Kepemimpinan Taliban"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia