Hukum Takziah dalam Islam, Sunnah atau Wajib?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Kamis, 25 Nov 2021 16:00 WIB
HNW Hingga Menag Lukman Takziah ke Ponpes Az-Zikra
Ilustrasi, bagaimana hukum takziah dalam Islam? (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Hukum takziah adalah sunnah kepada semua keluarga dan sanak kerabat yang ditinggalkan, baik laki-laki maupun perempuan. Baik setelah jenazah dimakamkan, atau pun setelahnya hingga tiga hari seperti yang dilansir dalam buku Fikih Sunnah Jilid 2 karya Sayyiq Sabiq.

Landasan dari ketetapan hukum takziah dinukil dari hadits yang diriwayatkan dari Amru bin Hazm. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai keutamaan seseorang yang melakukan takziah bagi yang berduka,

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلاَّ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ حُلَل الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: "Tidaklah seorang mukmin yang turut berbelasungkawa atas musibah saudaranya kecuali Allah SWT memakaikan padanya perhiasan kemuliaan di hari kiamat," (HR Ibnu Majah dan Baihaqi).

Untuk diketahui, secara bahasa takziah berasal dari kata 'azza-yu'azzi ta'ziyatan yang artinya menghibur atau mendorong agar bersabar. Sebab itu, definisi takziah secara istilah yakni sebuah usaha untuk menjadikan keluarga yang meninggal dunia agar tetap bersabar dalam menghadapi cobaan yang sedang menimpanya.

Takziah yang hukumnya sunnah ini juga bertujuan untuk meringankan derita dan kesedihan keluarga orang yang meninggal dunia. Untuk itu, dalam Islam, memghidangkan makanan saat takziah disunnahkan bagi yang menghadiri takziah untuk keluarga jenazah. Bukan sebaliknya.

Hal ini tertuang dalam sabda Rasulullah SAW dari hadits Abdullah bin Ja'far. Ini bunyinya,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: لَمَّا جَاءَ نَعْىُ جَعْفَرٍ حِيْنَ قُتِلَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم: اصنعوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا طَعَامًا فَقَدْ أَتَا هُمْ أَمْرٌ يَشْغَلَهُمْ (رواه الخمسة)

Artinya: "Buatlah makanan untuk keluarga Ja'far karena mereka telah kedatangan apa-apa yang menjadikan mereka sangat sibuk," (HR Ahmad (1750 (1/253), Abu Daud (3131) (3/325), At Tirmidzi (999) (3/323), dan Ibnu Majah (1610) (2/274).)

Adapun waktu utama dalam pelaksanaan takziah dijelaskan oleh Dr. Musthafa Dib Al-Bugha dalam buku Ringkasan Fiqih Mazhab Syafii. Menurutnya, pelaksanaan takziah disesuaikan dengan kondisi dari keluarga yang sedang berduka.

"Waktu takziah yang lebih utama adalah setelah proses pemakaman karena keluarga mayit biasanya disibukkan dengan pengurusan jenazah sebelum pemakaman. Namun, apabila keluarga mayit sangat terpukul, takziah lebih utama didahulukan sebelum pemakaman untuk menghibur mereka," tulis Dr. Musthafa Dib Al-Bugha.

Buku tersebut juga menyebut, takziah dinilai makruh setelah melewati tiga hari pemakaman jenazah kecuali bagi musafir (menempuh perjalanan jauh). Pasalnya, setelah tiga hari tersebut dianggap kesedihan akan berkurang dan dikhawatirkan dapat membuka kesedihan baru. Wallahu'alam.

Semoga dengan memahami hukum takziah adalah sunnah berikut dengan ketentuannya dalam Islam dapat membuka wawasan baru dan bermanfaat bagi kita semua ya, detikers. Aamiin.

Simak Video "Catat! Ini Amalan Sunnah di Tahun Baru Islam"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia