Mengapa Kucing Punya Tingkah seperti Bayi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 22 Nov 2021 13:30 WIB
Young Asian Woman Cuddling With Domestic Cat In The Kitchen
Foto: iStock
Jakarta - Kucing kerap dianggap sebagai hewan imut dan punya tingkah seperti bayi atau anak-anak. Salah satu contohnya, suara kucing bisa menyerupai suara tangisan bayi.

Melansir dari The Spruce Pets, seorang pakar hewan bernama Christina Donnely mengatakan, penelitian telah menunjukkan sebagian kucing memang dapat bersuara dengan frekuensi yang sama dengan tangisan bayi.

Lebih lanjut, sekelompok peneliti dari laboratorium Interaksi Hewan-Manusia Oregon State University juga menemukan bagaimana kucing membangun keterikatan dengan yang merawatnya seperti seorang bayi ataupun anjing.

Mengapa Kucing Bisa Bertingkah seperti Bayi

Ketua kelompok peneliti tersebut, Kristyn Vitale menjelaskan, kucing yang merasa tidak aman akan cenderung lari, sembunyi, atau menyendiri. Stigma seperti ini sudah lama diberikan pada semua kucing.

Padahal, sebagian besar kucing memperlakukan pemiliknya seperti tempat yang aman. Kucing bergantung pada pemiliknya ketika mereka merasa stres atau tertekan.

Para peneliti melakukan eksperimen dengan cara menempatkan kucing dan pemiliknya selama dua menit di sebuah lingkungan yang asing. Kemudian, pemilik tersebut meninggalkan kucing selama dua menit.

Dari sikap kucing setelah pengasuhnya kembali, ada dua hal yang disimpulkan berdasarkan eksperimen. Pertama, secure attachment atau ikatan yang aman.

Dalam hal ini, kucing tetap bisa mengeksplorasi lingkungan yang asing dengan tenang saat pemiliknya kembali. Mereka juga memperlihatkan tingkat stres yang lebih sedikit.

Penemuan kedua, kucing menunjukkan kecemasan dalam beberapa cara. Beberapa di antaranya adalah ekornya berkedut atau mereka menjilat bibir. Sebagian kucing lain juga menunjukkan perasaan stres dengan cara menghindari pemiliknya atau malah melompat ke pemiliknya lalu berdiam diri.

Studi ini menunjukkan bahwa ikatan kucing dengan pengasuhnya, mirip dengan bayi atau anjing. Para peneliti ini juga mencatat, penelitian yang sebelumnya menemukan 65 persen bayi manusia membentuk ikatan yang aman (secure attachment). Sedangkan 35 persen dari mereka membentuk ikatan yang tidak aman (insecure attachment).

Sementara, anjing membentuk ikatan aman atau secure attachment dengan pemiliknya sebesar 58 persen dan 42 persen lainnya membentuk ikatan tidak aman atau insecure attachment.

Vitale menyebutkan, kucing dan anjing masih dapat merasakan manfaat dari rasa aman. Dia lebih lanjut menerangkan, keterikatan atau kelekatan adalah perilaku yang relevan secara biologis.

"Studi kami memperlihatkan, saat kucing bergantung pada manusia, perilaku keterikatan itu sifatnya fleksibel dan sebagian besar kucing menggunakan manusia sebagai sumber kenyamanan," tambahnya.

Vitale juga menegaskan, sekali saja keterikatan atau attachment antara kucing dan pengasuhnya ini terbentuk, maka hal ini cenderung stabil sepanjang waktu meskipun kondisi tertentu terjadi.

Simak Video "Polisi Selamatkan 53 Anjing di Sukoharjo yang Akan Dijual Buat Dikonsumsi"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia