Viral Alya Masuk SD Umur 5 & Alami Cemas, Apa Dampak Sekolah Terlalu Awal?

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 18 Nov 2021 13:30 WIB
Sad caucasian autistic little girl
Ilustrasi anak masuk sekolah terlalu dini dan dampak yang mungkin terjadi. Foto: iStock
Jakarta - Persoalan usia masuk sekolah terlalu awal sekaligus dampaknya, sempat ramai dibahas di Twitter beberapa hari lalu. Hal ini berawal dari unggahan akun @alyacholid yang menceritakan pengalaman akademiknya.

"Saya bisa calistung usia 2,5 tahun. Dimasukin ke SD usia 5 tahun. Tulisan pertama saya dimuat di koran usia 10 tahun. Nulis novel usia 11 tahun. Novel saya diterbitkan usia 12 tahun. Gedenya? Gangguan kecemasan, depresi, dan gampang burnout," tulis @alyacholid.



"Yang penting sehat dan bahagia!! I know it sounds cliche. Tapi kalo bisa balik ke masa lalu, saya pengen ngomong itu ke diri saya. Selama ini saya hidup begitu cepat, kalo saya pelanin langkah atau istirahat malah jadi takut bakal gagal. Sehat dan bahagia nggak pernah jd prioritas," lanjutnya.

Saat dikonfirmasi oleh detikedu pada Rabu (17/11/2021), sosok bernama lengkap Alya Faradisa Cholid tersebut bahkan mengungkap, tanda gangguan kecemasan yang dialaminya sudah tampak sejak TK. Dia menyebutkan masuk TK sejak umur 3 tahun.

Alya pun mengaku sulit dalam berteman, kaku, dan tidak segera memahami candaan. "Baru saat SMP aku mulai sulit menerima kegagalan dan menaruh segala self worth-ku pada produktivitas dan prestasiku. Pas kuliah aku tinggal sendirian di luar kota dan segala gejala yang sudah aku rasakan sejak lama malah jadi makin buruk," tambahnya.

Unggahan Alya itu membuat warganet menceritakan pengalaman serupa. Beberapa di antaranya membahas soal imbasnya di masa depan. Mantan dosen Universitas Sanata Dharma yang kini menjadi psikolog klinis anak-anak, Maria Limyati juga pernah mengatakan kepada detikhealth pada 2016 lalu soal dampak sekolah saat usia belum cukup.

Dampak Sekolah Terlalu Awal

Melansir arsip detikhealth, Maria menyampaikan, anak bisa saja merasa tidak nyaman dan pelajarannya terganggu ketika usianya belum cukup untuk sekolah.

"Butuh kematangan untuk menyekolahkan anak dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti kognitif, sosial emosi, serta fisik-motorik. Bisa saja anak terlihat menonjol dalam aspek kognitif, tapi secara emosional masih berubah-ubah, task emosional belum bagus, tanggung jawab kurang, atau kemandirian belum mumpuni," terang Maria.

Ditambahkannya, sistem pendidikan untuk SD dan TK berbeda. Jenjang taman kanak-kanak membebaskan untuk tidak masuk dan tidak membebani dengan tugas. Sementara, siswa SD sudah diberi tanggung-jawab tugas, ulangan, dan pelajaran yang wajib diikuti.

"Jadi kalau menurut tahapan perkembangan, usia 7 tahun itu termasuk ke tahap school child (middle childhood). Sedangkan pada usia 3-6 tahun itu early childhood. Kenapa dibedakan? Karena banyak kemampuan yang berkembang secara berbeda tiap tahapan usia walaupun ada juga anak yang berkembang lebih cepat dibandingkan dengan usia seharusnya," papar Maria.

Ketentuan Usia Masuk SD Menurut Kemendikbudristek

Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi juga mempunyai ketentuan sendiri soal standar usia masuk sekolah, mulai jenjang TK sampai SMA/SMK.

Syarat usia masuk sekolah dasar (SD) dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 1/2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada TK, SD, SMP, SMA, dan SMK adalah 7 tahun atau 6 tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan.

Meski demikian, ketentuan ini bisa menjadi pengecualian dengan usia paling rendah adalah 5 tahun 6 bulan tanggal 1 Juli tahun berjalan. Pengecualian ini berlaku bagi calon peserta didik yang punya kecerdasan dan/atau bakat istimewa dan sudah memiliki kesiapan psikis.

Kecerdasan/bakat istimewa dan kesiapan psikis itu pun harus dibuktikan dengan rekomendasi tertulis psikolog profesional atau dewan guru apabila tidak ada psikolog profesional tersedia.

Kembali pada Maria, dosen itu menyarankan orang tua agar tidak memaksa anaknya yang masih di bawah 7 tahun untuk sekolah. Pasalnya, usia 7 tahun dinilai lebih matang secara emosional, motorik, kognitif, dan siap menghadapi lingkungan baru.

Simak Video "Begini Penampakan Ruangan SD di Kota Bogor yang Ambruk"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia