Surat Yasin Ayat 40 Ungkap Sebagian Rahasia Alam Semesta Ini

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Sabtu, 13 Nov 2021 05:59 WIB
UNSPECIFIED:  In this NASA digital illustration handout released on February 22, 2017, an artists concept shows what the TRAPPIST-1 planetary system may look like, based on available data about the planets diameters, masses and distances from the host star. The system has been revealed through observations from NASAs Spitzer Space Telescope as well as other ground-based observatories, and the ground-based TRAPPIST telescope for which it was named after. The seven planets of TRAPPIST-1 are all Earth-sized and terrestrial, according to research published in 2017 in the journal Nature. TRAPPIST-1 is an ultra-cool dwarf star in the constellation Aquarius, and its planets orbit very close to it. They are likely all tidally locked, meaning the same face of the planet is always pointed at the star, as the same side of our moon is always pointed at Earth. This creates a perpetual night side and perpetual day side on each planet. TRAPPIST-1b and c receive the most light from the star and would be the warmest. TRAPPIST-1e, f and g all orbit in the habitable zone, the area where liquid water is most likely to be detected. But any of the planets could potentially harbor liquid water, depending on their compositions. In the imagined planets shown here, TRAPPIST-1b is shown as a larger analogue to Jupiters moon Io. TRAPPIST-1d is depicted with a narrow band of water near the terminator, the divide between a hot, dry day and an ice-covered night side. TRAPPIST-1e and TRAPPIST-1f are both shown covered in water, but with progressively larger ice caps on the night side. TRAPPIST-1g is portrayed with an atmosphere like Neptunes, although it is still a rocky world. TRAPPIST-1h, the farthest from the star, would be the coldest. It is portrayed here as an icy world, similar to Jupiters moon Europa, but the least is known about it. (Photo digital Illustration by NASA/NASA via Getty Images)
Surat Yasin Ayat 40 Ungkap Sebagian Rahasia Alam Semesta Ini (Foto: Pool/NASA/Getty Images)
Jakarta - Surat Yasin ayat 40 merupakan salah satu ayat dalam Al Quran yang menyinggung tentang ilmu falak atau astronomi. Melalui ayat ini, Allah SWT mengungkapkan sebagian rahasia alam semesta yang menjadi misteri bagi manusia.

Dari 83 ayat yang dikandungnya, surat Yasin menyinggung tiga pokok agama yakni tauhid, nubuwah, dan ma'ad. Sekaligus menceritakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat dibuktikan melalui bacaan ayat berikut,

Surat Yasin Ayat 40 Arab, Latin, Beserta Artinya

لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Bacaan latin: Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụn

Artinya: "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."

Berdasarkan ayat di atas, surat Yasin ayat 40 mengungkapkan sebagian rahasia alam semesta yaitu tentang pengaturan dan ketetapan benda-benda langit. Hal ini sebagaimana yang dirangkum dari tafsir Ibnu Katsir dan Al Quran Kemenag (Kementerian Agama).

"Masing-masing tetap bergerak menurut garis edarnya yang telah ditetapkan Allah untuknya. Betapa kecilnya kekuasaan manusia, dibanding dengan kekuasaan Allah yang menciptakan dan mengatur perjalanan benda-benda alam sehingga tetap berjalan dengan tertib," tulis Kemenag.

Lebih jelasnya, berikut ini poin-poin isi kandungan dari surat Yasin ayat 40 selengkapnya yang dirangkum detikEdu dari kedua sumber tafsir di atas,

1. Matahari dan bulan masing-masing mempunyai lintasan dan peran tersendiri yang tidak dapat dilampaui satu sama lain. Keduanya ditetapkan sedemikian rupa oleh Allah SWT untuk bekerja secara bergantian.

"Apabila masa kemunculan yang satu tiba, maka yang lainnya pergi; begitu pula sebaliknya bilamana yang lainnya datang, maka yang satunya pergi," tulis Ibnu Katsir dalam tafsir daringnya.

2. Begitu juga dengan pergantian malam dan siang. Keduanya memiliki batas masing-masing seperti, berakhirnya siang hari ditandai yang dengan matahari tenggelam.

Kemudian, peran matahari digantikan oleh bulan dan malam pun datang. Semua ini dapat terjadi karena ada pengaturan yang ditetapkan olehNya.

"Masing-masing dari keduanya datang menyusul kepergian yang lainnya tanpa tenggang waktu, karena keduanya telah diperintahkan untuk terus-menerus saling silih berganti dengan cepat," bunyi salah satu poin penafsiran Ibnu Katsir.

Hal ini menjadi bukti bahwa kekuasaan Allah SWT tidak dapat ditandingi oleh makhluk mana pun. Ada ketetapan Allah Yang Maha Kuasa di balik seluruh rahasia alam semesta tersebut.

Sebagai makhluk ciptaanNya, surat Yasin ayat 40 mengajak kita untuk membiasakan diri bertafakur (merenung) atas segala penciptaanNya ini.

Simak Video "Melihat Madrasah di Afghanistan di Bawah Kepemimpinan Taliban"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia