Muncul Klaster Sekolah, Jam Pelajaran di DIY Maksimal 2,5 Jam

Heri Susanto - detikEdu
Rabu, 10 Nov 2021 20:00 WIB
Sekitar 3.050 sekolah di Jakarta bersiap untuk gelar sekolah tatap muka secara terbatas. Hal itu dilakukan seiring dengan pemberlakuan PPKM level 2 di ibu kota.
Foto: Pradita Utama
Yogyakarta - Pemerintah Daerah (Pemda) DIY saat ini masih melakukan investigasi atas adanya klaster COVID-19 di SMK N 1 Sedayu, Kabupaten Bantul. Nantinya, dari hasil investigasi itu, salah satunya akan diputuskan jam pelajaran di sekolah maksimal 2,5 jam.

"Ya kalau sudah evaluasi di Sedayu, kita berlakukan di semua tempat (pengurangan jam pelajaran menjadi dua setengah jam)," kata Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji, diwawancarai di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Rabu (10/11/2021).

Aji menjelaskan, pengurangan jam pelajaran akibat adanya klaster sekolah ini hanya maksimal 2,5 jam tiap hari. Jam pelajaran ini berlaku di seluruh DIY khusus tingkat SMP sampai SMA. Sedangkan untuk PAUD dan SD maksimal satu atau dua jam pelajaran.

"Berlaku seluruh DIY. Dua sesi, lima jam tapi dua kloter. Tidak semua sama. Paling banyak dua setengah jam. Karena kalau lebih butuh waktu untuk istirahat," imbuhnya.

Jika ada istirahat sekolah, lanjut Aji, siswa tidak bisa untuk menjaga protokol kesehatan (prokes) yaitu berkerumun. Saat berkerumun, siswa berpeluang melepas masker. Apalagi, anak-anak ini karena merasa sehat-sehat saja, melepaskan masker.

"Wong sekarang aja banyak yang menganggap pakai masker risih," ucapnya.

Ia mengungkapkan, saat ini masih berlangsung investigasi di SMK N 1 Sedayu. Hasil swab PCR, ada 64 siswa dan 15 guru yang positif.

"Jadi ada satu anak yang membawa, kemudian menularkan ke teman-teman yang lain bahkan juga ada guru ya. Kalau mau menularkan di sekolah berarti ini yang harus kita lakukan itu adalah bahwa semua keluarga yang anaknya sekolah di situ itu harus selalu melakukan pemantauan. Kalau dia sudah merasa badannya tidak nyaman, ya tidak masuk dulu," jelasnya.

Pemda, lanjut Aji, juga mendorong kepada Satgas tingkat sekolah untuk melakukan tes bagi siswa yang diketahui sakit. Siswa yang sakit atau bergejala bisa langsung melaporkan ke Satgas kemudian dilakukan tes antigen.

"Kalau dia merasa sakit di sekolah langsung laporan kepada Satgas di tingkat sekolah untuk dilakukan tes dari antigen dulu. Baru nanti PCR," imbuhnya.

Berdasarkan data Pemkab Sleman, klaster sekolah yang berasal dari SMK N 1 Sedayu ini mencapai 75 kasus positif. Kemudian, Pemkab Bantul melakukan tracing dari kontak erat klaster tersebut mencapai 80 siswa.



Simak Video "Jumlah Pelajar Terpapar Covid-19 di Kulon Progo Terus Bertambah"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia