Meninggal di Bumi Vs Luar Angkasa, Mana yang Kamu Pilih?

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 07 Nov 2021 12:00 WIB
An CG astronaut in a modern space suit, connected to a tethered lifeline floats in deep space and looks at the lights of planet earth as the sun rises. Distant stars and galaxies are visible in the background. Credit: NASA https://earthobservatory.nasa.gov/images/79790/city-lights-of-asia-and-australiaand ESO for background images.
Foto: Getty Images/iStockphoto/peepo/Meninggal di Bumi Vs Luar Angkasa, Mana yang Kamu Pilih?
Jakarta - Apa yang terjadi jika manusia meninggal di luar angkasa? Di bumi, jasad akan mengalami pembusukan alami dengan tanah dan unsur yang lainnya. Sementara, dosen Antropologi Biologi Terapan di Teesside University, Inggris Tim Thompson mengatakan. pembusukan tubuh di luar angkasa berbeda.

Perbedaan proses pembusukan itu dipengaruhi beragam faktor. Apalagi, planet lain juga mempunyai kondisi yang bertolakan dengan bumi, sangat kering misalnya.

Proses Pembusukan Tubuh di Bumi

  • Tubuh akan mengalami livor mortis. Artinya aliran darah berhenti dan menggenang akibat gravitasi.
  • Tubuh mendingin dan memasuki tahap algor mortis.
  • Otot tubuh menjadi kaku karena penumpukan kalsium tak terkendali di serat otot. Hal ini disebut rogor mortis.
  • Enzim dan protein mempercepat reaksi kimia dan menghancurkan dinding sel.
  • Di saat poin 4 terjadi, bakteri di usus akan keluar dan menyebarke seluruh tubuh. Bakteri-bakteri tersebut akan melahap jaringan lunak. Gas yang mereka keluarkan juga akan membuat tubuh jadi bengkak.
  • Setelah seluruh otot menghilang, rigor mortis akan berhenti.
  • Tubuh mulai mengeluarkan bau tidak sedap dan jaringan lunak mulai dipecahkan.

Proses Pembusukan Tubuh di Luar Angkasa

Tim Thompson menyebutkan, jasad yang meninggal di luar angkasa mengalami tahap pembusukan berbeda karena pengaruh gravitasi. Seperti ini tahapannya:

  • Saat tahap livor mortis, darah tidak bisa mengenang karena tidak adanya gravitasi.
  • Apabila saat meninggal sedang di dalam pakaian luar angkasa, fase rigor mortis tetap saja akan terjadi. Sebab, ini merupakan akibat dari berhentinya fungsi tubuh.
  • Bakteri di usus tetap bisa melahap jaringan lunak dan tetap membutuhkan oksigen. Namun, tahap ini bisa berlangsung lambat apabila pasokan oksigen terbatas.
  • Ketika jasad dikubur di luar angkasa, mikroba juga akan membantu proses pembusukan. Tetapi, jika suatu planet rupanya sangat kering, kerja mikroba akan terhambat dan jaringan lunak akan awet.

Unsur yang Mempengaruhi Pembusukan Tubuh

Kondisi keasaman tanah, lingkungan, dan temperatur suatu planet turut mempengaruhi pembusukan. Pada planet yang kondisi tanahnya sangat asam, komponen organik tubuh seperti pembuluh darah dan kolagen akan bertahan. Sementara komponen anorganik akan membusuk.

Sedangkan di bumi, yang akan membusuk hanyalah bagian organik tulang. Sehingga, fosil dan tulang yang tersisa adalah sisa bahan anorganik. Faktor lainnya adalah kondisi lingkungan suatu planet.

Misalnya di planet Mars yang sangat kering dan seperti gurun itu, di sana jaringan lunak bisa mengering. Di bumi, sedimen yang tertiup angin juga bisa mengikis atau merusak rangka tulang.

Faktor terakhir adalah temperatur atau suhu di luar angkasa. Contohnya di Bulan yang mempunyai temperatur 120-170 derajat Celsius, tubuh yang membusuk bisa mengalami kerusakan akibat suhu panas atau dingin.

Proses pembusukan usai manusia meninggal di bumi dan luar angkasa memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing. Manusia tentu tak bisa memilih kapan dan di mana akan kembali pada Allah SWT, sehingga hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik tiap saat.



Simak Video "NASA Temukan 4 Planet Mirip Bumi di Antariksa"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia