3 Upaya yang Dilakukan Sultan Hasanuddin dalam Melawan Penjajahan

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 02 Nov 2021 18:50 WIB
Foto Drone Fort Rotterdam
Fort Rotterdam atau Benteng Rotterdam, peninggalan rakyat Kerajaan Gowa-Tallo dan upaya Sultan Hasanuddin dalam melawan penjajahan Belanda. Foto: (Didik Dwi/detikTravel)
Jakarta -

Sultan Hasanuddin memimpin Kerajaan Gowa-Tallo saat berlanda sedang berusaha memperluas monopoli perdagangan rempah-rempah. Bagaimana upaya yang dilakukan Sultan Hasanuddin dalam melawan penjajahan?

Kerajaan Gowa-Tallo merupakan kerajaan yang menguasai perdagangan rempah-rempah di wilayah nusantara yang kelak menjadi Indonesia bagian timur. Pada tahun 1666, Belanda berusaha menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tersebut, seperti dikutip dari buku Kreatif Tematik Tema 5 Pahlawanku untuk Kelas 4 SD/MI oleh Tim Tunas Karya Guru: Sudwiyanto M.Pd., Imas Mulyasari, M.Pd.

Kerajaan Gowa berpusat di sekitar Makassar dan Somba Opu, kini termasuk wilayah Sulawesi Selatan. Pelabuhan Somba Opu adalah pelabuhan strategis di jalur perdagangan internasional, di antaranya untuk perdagangan rempah-rempah, beras, kayu, sutra, dan porselen. Hal ini menjadikan VOC ingin menguasai Kerajaan Gowa.

Lewat kekuatan militer dan jalan damai, VOC berusaha melakukan monopoli perdagangan atas Kerajaan Gowa. Hal ini bagi rakyat Gowa menimbulkan gangguan kebebasan perdagangan dan merendahkan harga diri kerajaan. Sejak 1615, Kerajaan Gowa melakukan perlawanan, yang diperkuat di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddn (1653-1670).

Upaya Sultan Hasanuddin dalam Melawan Penjajahan

Di bawah komando Sultan Hasanuddin, Belanda tidak berhasil menaklukkan Kerajaan Gowa-Tallo. Berikut upaya Sultan Hasanuddin melawan penjajahan Belanda.

Kerjasama dengan Kerajaan-Kerajaan Sekitar

Sultan Hasanuddin bekerjasama dengan kerajaan-kerajaan sekitar untuk melawan VOC. Belanda lalu menerapkan politik adu domba atau devide et impera untuk memecah Kerajaan Gowa-Tallo dengan Kerajaan Bone, sehingga Kerajaan Bone memihak VOC, dikutip dari Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI oleh Dr. Abdurakhman, S.S., M.Hum., Arif Pradono, S.S., M.I.Kom.

Pembangunan Benteng

Sultan Hasanuddin menghimpun kekuatan warga untuk menyerang VOC. Untuk memperkuat pertahanan kerajaan dari serangan oleh Belanda, benteng-benteng dibangun di sepanjang pantai.

Pada 21 Desember 1666, pecah perang terbuka antara VOC dan Kerajaan Gowa yang dipimpin langsung Sultan Hasanuddin. Tentara VOC yang menyerang dari darat dan laut tidak membuat rakyat Gowa-Tallo mundur. Tetapi, Benteng Barombong berhasil dikuasai VOC pada 23 Oktober 1667, sepuluh bulan kemudian.

Kekalahan tersebut membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Isi perjanjian Bongaya di antaranya yaitu Kerajaan Gowa harus mengaki hak monopoli perdagangan VOC, membayar biaya perang, semua orang Barat kecuali Belanda harus meninggalkan wilayah kerjaaan, dan kapal kerajaan dilarang berlayar tanpa izin VOC.

Menggerakkan Rakyat untuk Kembali Berperang

Sultan Hasanuddin berusaha kembali menggerakkan rakyat untuk berperang melawan VOC pada 1668. Akan tetapi, perlawanan ini mengalami kegagalan, hingga benteng terkuat Gowa jatuh ke tangan VOC dan dinamai Benteng Rotterdam.

Nah, begitu gambaran bagaimana upaya yang dilakukan Sultan Hasanuddin dalam melawan penjajahan Belanda melalui VOC. Kelak, memasuki abad ke-19, perlawanan di nusantara bagian timur menggeliat kembali, di antaranya dipimpin oleh Pattimura dan Martha Kristina Tiahahu.



Simak Video "Tempat Bersejarah di Pulau Buru, Riau"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia