Tak Seperti di Bumi, Ini yang Terjadi Jika Manusia Meninggal di Luar Angkasa

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 25 Okt 2021 16:02 WIB
Scientists participate in a demonstration of an experiment led by Austrian and Israeli agencies simulating a mission to Mars near Mitzpe Ramon, Israel October 10, 2021. REUTERS/Amir Cohen
Foto: REUTERS/Amir Cohen
Jakarta - Jika manusia yang meninggal di Bumi mengalami pembusukan alami dengan bantuan tanah dan unsur lainnya. Namun, apa yang terjadi jika manusia meninggal di luar angkasa?

Dosen antropologi biologi terapan di Teesside University, Inggris, Tim Thompson, menjelaskan jika manusia meninggal di luar angkasa, proses pembusukan tubuh akan berbeda.


Kondisi tubuh yang meninggal di Bumi

Pada manusia yang meninggal di Bumi, tubuhnya akan mengalami beberapa langkah saat proses pembusukan, di antaranya:

- mengalami livor mortis di mana aliran darah akan berhenti dan menggenang akibat gravitasi

- tubuh akan mendingin dan beralih ke tahap algor mortis

- otot di tubuh akan menjadi kaku karena penumpukan kalsium yang tidak terkendali di serat otot, atau yang dikenal sebagai rigor mortis.

- kemudian enzim dan protein akan bekerja untuk mempercepat reaksi kimia dan menghancurkan dinding sel.

- pada saat yang sama, bakteri di usus akan keluar dan menyebar ke seluruh tubuh. Bakteri ini melahap jaringan lunak dan gas yang mereka keluarkan membuat tubuh menjadi bengkak.

- setelah semua otot menghilang maka rigor mortis akan terhenti

- Lalu tubuh akan mulai mengeluarkan bau yang tidak sedap dan jaringan lunak mulai dipecahkan


Kondisi tubuh yang meninggal di luar angkasa

Tim Thompson menjelaskan kondisi tubuh manusia yang meninggal di luar angkasa memiliki perbedaan karena pengaruh gravitasi. Perbedaan proses pembusukan yang terjadi adalah:

- pada fase livor mortis darah tidak bisa menggenang karena tidak ada gravitasi

- jika tubuh yang meninggal ada di dalam pakaian luar angkasa, fase rigor mortis tetap akan terjadi karena itu merupakan hasil dari berhentinya fungsi tubuh.

- bakteri yang ada di usus tetap akan bisa melahap jaringan lunak dengan tetap membutuhkan oksigen agar bisa bekerja. Di luar angkasa proses ini bisa menjadi lambat jika pasokan oksigen terbatas.

- apabila tubuh sudah dikuburkan di luar angkasa, mikroba yang ada di tanah juga membantu proses pembusukan. Namun, jika tanah di planet lain ternyata sangat kering akan menghambat kerja mikroba sehingga jaringan lunak tetap akan awet.


Faktor yang mempengaruhi pembusukan tubuh

Ada juga faktor lain yang juga mempengaruhi proses pembusukan di planet yang kondisinya sangat berbeda dengan bumi, seperti faktor kondisi keasaman tanah, kondisi lingkungan, dan temperatur.

Pada saat proses pembusukan tubuh di planet lain yang tanahnya sangat asam, komponen organik seperti pembuluh darah dan kolagen akan bertahan dan komponen anorganik akan membusuk.

Sementara di bumi, hanya bagian organik tulang yang akan membusuk sehingga fosil dan tulang yang tersisa merupakan sisa bahan anorganik.

Faktor kedua adalah kondisi lingkungan sebuah planet. Pada kondisi Mars yang sangat kering dan seperti gurun jaringan lunak tubuh bisa saja mengering.

Selain itu, sedimen yang tertiup angin bisa mengikis dan merusak rangka tulang, seperti yang terjadi di bumi.

Terakhir, faktor ketiga yakni temperatur di luar angkasa. Misalnya di Bulan yang suhunya antara 120 sampai-170 derajat Celsius, maka tubuh yang sudah membusuk mungkin akan menunjukkan kerusakan yang diakibatkan suhu panas atau dingin.

Simak Video "Rencana China Sempurnakan Stasiun Luar Angkasa Tiangong"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia