Belajar dari Pakar

Belajar Matematika Itu Hukumnya Wajib, Mengapa?

Dhika Widayat - detikEdu
Selasa, 12 Okt 2021 06:34 WIB
Dhika Widayat
Dhika Widayat
Dhika Widayat adalah founder dari akun instagram ngajimatematika. Akun yang membahas matematika dari sisi yang jarang dibahas. Dhika Widayat juga seorang penggemar berat matematika sejak SD.
Ilustrasi matematika atau kalkulus
Foto: Getty Images/iStockphoto/jittawit.21
Jakarta - Siapa bilang matematika itu ilmu dunia? Apa iya, belajar matematika itu tidak mendapat pahala? Tunggu dulu. Bagi Muslim sebenarnya tidak ada dikotomi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Semua yang kita lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Termasuk ilmu yang kita pelajari.

Al Khawarizmi belajar matematika lalu meletakkan dasar-dasar algoritma. Ilmu algoritma tersebut lalu tersebar ke penjuru dunia. Lantas dikembangkan oleh para ilmuwan setelahnya dan hari ini, dunia digital, membutuhkan algoritma. Kita banyak dimudahkan belajar dengan adanya YouTube dan platform lainnya yang berjalan dengan algoritma. Apakah al Khawarizmi tidak mendapat pahala?

Kewajiban utama seorang Muslim, yaitu sholat. Dilaksanakan pada waktu tertentu dan harus menghadap kiblat. Saat Islam tersebar luas ke seluruh penjuru dunia, maka Muslim yang posisinya jauh dari Mekkah akan kesulitan menentukan arah kiblat. Pun dengan waktu sholat. Seberapa banyak dari Muslim yang benar-benar memahami fenomena alam tentang waktu shalat?

Hadirlah seorang ilmuwan bernama al Battani, mengembangkan ilmu bernama trigonometri. Dikembangkan pula ilmu tersebut tidak hanya pada bilang datar, tetapi juga bidang bola. Kita mengenal dengan trigonometri sferis. Salah satu bagian ilmu matematika ini digunakan untuk menentukan arah kiblat dan waktu shalat. Sehingga kita lebih mudah menentukannya.

Banyak lagi ilmuwan Muslim yang belajar matematika untuk dikembangkan sebagai ilmu yang bisa memudahkan ibadah kaum Muslim. Mempelajari matematika menjadi bagian dari usaha untuk menyempurnakan ibadah. Itulah spirit belajar ilmuwan Muslim.

Termasuk ilmu Thaharah yang kita pelajari untuk shalat. Kita memerlukan pula ilmu tentang air yang suci dan menyucikan. Termasuk mengetahui volume air yang tidak mengubah sifat kesuciannya. Dua qullah. Ini ilmu matematika juga.

Maka sejatinya belajar matematika bagi seorang Muslim adalah wajib. Banyak dalam kehidupan kaum Muslim yang berhubungan dengan matematika. Tentu fardhu ini bisa dibagi menjadi, fardhu ain dan fardhu kifayah. Fardhu ain terhadap ilmu matematika yang berkaitan langsung dengan kewajiban masing-masing individu, misalnya operasi dasar matematika. Fardhu kifayah terhadap ilmu matematika yang berkaitan dengan kewajiban kolektif, seperti perhitungan waris yang sesuai syariah.

Judul artikel ini sebenarnya bukan karangan penulis. Penulis hanya mengutip dari buku karya Ulama besar Nusantara, yakni Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Beliau menulis sebuah karya berjudul 'Alam Hussab fi 'Ilm al Hisab, yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Matematika Nusantara Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi".

Buku tersebut merupakan buku tentang matematika yang ditulis oleh Syeikh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Di dalam buku tersebut, beliau menuliskan, "Hukum mempelajari ilmu hisab (matematika) adalah fardhu kifayah." Ya, karena sejatinya dengan matematika ibadah kaum Muslim bisa lebih mudah dan sempurna.

Simak Video "Sosok Stanve, Jago Matematika Tingkat Dunia Asal Tangerang"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia