Kapak Perimbas, Peninggalan Manusia Purba dari Zaman Paleolitikum

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 07 Okt 2021 09:00 WIB
Gua Bashian, Taiwan, tempat tinggal manusia zaman paleolitikum.
Gua Bashian, Taiwan, tempat tinggal manusia zaman paleolitikum. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta - Kapak perimbas merupakan bagian dari peninggalan kebudayaan food gathering di zaman Paleolitikum. Rupanya, walau masih mengumpulkan makanan dan berburu, manusia purba di zaman Batu Tua juga membutuhkan dan menggunakan alat untuk melakukan kegiatan tersebut.

Kapak perimbas dan alat-alat di zaman Batu Tua masih berbentuk kasar. Alat-alat di zaman Paleolitikum dibuat dari batu, tulang, dan kayu. Hanya saja, alat-alat yang dibuat dari kayu sudah hancur, sehingga peninggalan dari batu dan tulang yang bisa ditemukan saat ini, seperti dikutip dari buku Seri IPS Sejarah SMP Kelas VII oleh Drs. Prawoto, M.Pd.

Kapak Perimbas

Kapak perimbas umumnya berbentuk setrika di antara alat paleolitikum lainnya. Salah satu sisi kapak perimbas melebar dasar, lalu kedua sisi vertikal bertemu di bagian tengah atas, tegak lurus terhadap sisi datarnya, dan menimbulkan irisan melintang segi tiga, seperti dikutip dari Modul Menelisik Prasejarah Sumatera Selatan oleh Dr. Hudaidah RMDM, M.Pd, dkk.

Kapak perimbas tidak mempunya tangkai, sehingga kapak ini digunakan dengan cara digenggam. Sedikit berbeda dengan kapak genggam, kapak perimbas memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari kapak genggam, seperti dikutip dari buku Presejarah Indonesia oleh Afran Diansyah, Flores Tanjung, dan Abdul Haris Nasution.

Kapak ini dibuat dengan cara memangkas salah satu sisi batu agar tajam, yang juga disebut dengan istilah pemangkasan monofasial. Kapak perimbas ditemukan di banyak tempat di Indonesia bersama tradisi alat-alat serpih. Biasanya, kapak perimbas ditemukan di tempat yang banyak mengandung batu-batuan bahan baku pembuatan kapak tersebut.

Kapak perimbas di Sumatera Selatan contohnya, ditemukan di bagian tengah goa dengan batu-batu andesit. Dari lokasi penemuannya, fungsi kapak perimbas saat itu adalah untuk membantu pembuatan alat-alat serpih dan pekerjaan berat seperti sebagai alat pemecah tulang. Kapak perimbas yang ditemukan di Sumatera Selatan tersebut tidak digunakan dalam perburuan binatang di zaman Paleolitikum Plestosen, melainkan digunakan dalam kehidupan di gua.

Fungsi Kapak Perimbas

Paleontolog Jerman-Belanda Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald menemukan beberapa hasil teknologi bebatuan atau alat-alat dari batu, termasuk kapak perimbas di Sunga Baksoka di dekat Punung, Pacitan Jawa Timur. Lokasi penemuan ini membuat kebudayaan batu awal di Indonesia ini juga disebut kebudayaan atau budaya Pacitan, seperti dikutip dari buku Sejarah Nasional Indonesia Edisi Revisi 2013 oleh Edi Hernadi.

Von Koenigswald mendapati, batu-batu tersebut memiliki keruncingan berbeda sesuai fungsinya, yaitu sebagai berikut:

  • a. Menusuk binatang
  • b. Menggali tanah saat mencari umbi-umbian

Lokasi Penemuan Kapak Perimbas

Kapak perimbas banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Flores, dan Timor. Daerah Punung merupakan daerah yang terkaya akan penemuan kapak perimbas. Hingga saat ini, Punung menjadi tempat penemuan terpenting di Indonesia terkait alat-alat batu di zaman Paleolitikum.

Kapak perimbas menurut ahli digunakan oleh jenis manusia Pithecanthropus atau keturunannya di tengah berkembangnya budaya Pacitan. Sebagai informasi, Pithecanthropus dianggap sebagai pencipta budaya Pacitan. Pendapat ini sesuai dengan pendapat tentang umur budaya Pacitan yang diduga ada pada tingkat akhir Plestosen Tengah dan awal Plestosen Akhir.



Simak Video "Studi: Hanya 7% Populasi Dunia yang Punya DNA Unik 'Manusia Modern'"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia