Ini Penyebab Jepang Alami Penurunan Jumlah Penduduk, Siswa Sudah Tahu?

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 23 Sep 2021 09:20 WIB
Peristiwa bom nuklir oleh sekutu saat perang dunia dua di Kota Hiroshima Jepang terjadi pada 6 Agustus 1945.  Masyarakat Jepang setiap pada tanggal tersebut selalu mengenang peristiwa itu dengan mengirimkan doa kepada korban di Hiroshima Peace Memorial Park.
Penyebab Jepang mengalami penurunan jumlah penduduk (Foto: Yuichi Yamazaki/Getty Images)
Jakarta - Jepang mengalami penurunan jumlah penduduk, di mana hal itu dapat dilihat dari Buku Tahunan Demografis PBB, seperti dikutip dari sebuah laporan Japan Times Mei 2021 lalu. Data pemerintah Jepang di bulan Mei juga menunjukkan bahwa perkiraan populasi anak-anak Jepang telah menyentuh titik terendah setelah melandai selama 40 tahun berturut-turut.

Pada laporan tersebut, Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menyebutkan bahwa jumlah anak usia 14 tahun atau lebih muda telah mencapai 14.93 juta pada April 2021. Jumlah ini 190 ribu lebih sedikit daripada tahun sebelumnya dan merupakan angka terendah di antara data pembandingnya sejak 1950.

Rasio anak-anak dalam populasi keseluruhan juga berada di titik terendah, 11.9 %, setelah 47 tahun mengalami penurunan. Berdasarkan Buku Tahunan Demografis PBB, Jepang adalah yang terendah di antara 33 negara dengan populasi lebih dari 40 juta. Negara ini ada di bawah Korea Selatan dan Italia.

Mengapa Jepang Mengalami Penurunan Populasi

Penyusutan jumlah penduduk Jepang telah lama ditimpakan kesalahannya pada para pemuda di Jepang. Namun, pada sebuah tulisan yang diterbitkan oleh the Atlantic, ada alasan lebih sederhana dari hal ini, yakni sedikitnya peluang kerja yang bagus pada kaum muda Jepang, khususnya laki-laki.

Di negara itu, laki-laki masih dianggap sebagai pencari nafkah dan penyokong keluarga, sehingga kurangnya peluang pekerjaan yang bagus menciptakan golongan pria tidak menikah dan tidak punya anak. Terlebih, calon pasangan mereka juga tahu bahwa mereka tidak mampu.

Seorang Profesor Antropologi Kultural di Duke University, Anne Allison, seperti dikutip dari The Atlantic, mengatakan bahwa orang-orang akan mengatakan bahwa alasan utama orang-orang ini adalah ketidakstabilan ekonomi.

Peluang ekonomi yang tidak stabil ini berakar dari tren yang lebih besar dan bersifat global, yaitu munculnya lapangan kerja yang tidak tetap.

Sejak bertahun-tahun pasca perang, Jepang punya tradisi "pekerjaan tetap". Namun, menurut seorang profesor di Temple University Jepang, Jeff Kingston, pada 2017 ada 40 persen tenaga kerja Jepang di sektor pekerjaan tidak tetap. Artinya, mereka melakukan pekerjaan tidak tetap dan part time yang menghasilkan upah rendah dan tanpa tunjangan.

Menurut Kingston, peningkatan pekerja tidak tetap di Jepang dimulai pada 1990-an ketika pemerintah di sana merevisi undang-undang perburuhan yang memungkinkan penggunaan pekerja sementara lebih luas serta pekerja kontrak yang dipekerjakan perusahaan perantara. Hal ini diperparah dengan tren global yang memberi tekanan lebih besar pada perusahaan untuk memangkas biaya sehingga mereka semakin mengandalkan pekerja sementara.

Dalam sebuah budaya yang menekankan laki-laki sebagai pencari nafkah seperti ini, fenomena tersebut menghasilkan implikasi yang serius soal pernikahan dan memiliki keturunan. Ryosuke Nishida, profesor di Tokyo Institute of Technology, berpendapat bahwa, bahkan ketika ada pasangan yang ingin menikah dan keduanya punya pekerjaan tidak tetap, orang tua mereka akan cenderung tidak mengizinkan.

"Jepang memiliki pemahaman bahwa laki-laki seharusnya memiliki pekerjaan tetap," ujar Nishida. Ia juga menambahkan bahwa ketika seseorang lulus dan tidak menemukan pekerjaan tetap, orang akan melihatnya sebagai sebuah kegagalan.

Di samping itu, pandemi COVID-19 juga disebut mempercepat penurunan populasi di Jepang, menurut sebuah laporan oleh Nippon pada Mei 2021 lalu. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang merilis statistik angka kehamilan pada akhir 2020.

Data hingga akhir Oktober 2020 tersebut menunjukkan bahwa setelah awal pandemi, angka kehamilan di Jepang menurun dibanding tahun sebelumnya.

Sejumlah faktor terkait COVID-19 dicatat ikut berperan. Pertama, adalah memburuknya perekonomian Jepang.

Kedua, orang-orang menghindari kunjungan yang tidak penting untuk ke dokter karena khawatir tertular COVID-19. Ketiga, turunnya kegiatan kencan dan pernikahan disebabkan seruan pemerintah Jepang untuk mengurangi interaksi tatap muka.

Simak Video "Jepang Bakal Akhiri Kondisi Darurat Covid-19 Per 30 September"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia