Antisipasi Bencana Saat Hujan dan Angin Kencang, Pakar UGM Jelaskan Dua Hal Ini

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 16 Sep 2021 21:00 WIB
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti awan hitam di Jakarta, Kamis (24/6/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan wilayah Jakarta dan sekitarnya masih dilanda hujan dan hawa dingin di musim kemarau karena ada gangguan atmosfer Indian Ocean dipole mode yang masih negatif serta diperkirakan terjadi hingga akhir Juni. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.
Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA
Jakarta - Memasuki bulan September, beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai diguyur hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahkan memperkirakan terjadinya potensi hujan lebat disertai petir atau angin kencang.


Potensi tersebut bisa terjadi di 27 provinsi Indonesia selama periode 13-20 September 2021. Untuk itu, masyarakat diminta mewaspadai dan turut mengantisipasi bencana yang bisa saja terjadi.


Pakar Klimatologi UGM, Dr. Emilya Nurjani, mengatakan terdapat dua hal sebagai upaya mitigasi yang dapat dilakukan yakni mitigasi struktural dan mitigasi non struktural.


"Mitigasi struktural merupakan langkah pengurangan risiko bencana melalui rekayasa teknis bangunan tahan bencana. Lalu upaya mitigasi non struktural dengan kebijakan atau peraturan tertentu," terangnya seperti dikutip detikEdu dari laman resmi UGM (16/9).


Upaya mitigasi struktural dan non struktural


Adapun sejumlah upaya mitigasi struktural yang bisa diambil dalam menghadapi kerentanan bencana yang mungkin muncul akibat hujan lebat antara lain:


- membersihkan sampah yang ada di selokan, sungai maupun tubuh airnya untuk meningkatkan volume tangkapan sungai saat hujan


- memperbaiki tanggul baik tanggul beton atau tanggul alam sungai agar debit air sungai tidak meluap, memperbaiki pintu air bendung untuk pengaliran ke saluran irigasi


- memperkuat zona perakaran tanaman di tebing bukit.


"Selain itu, juga membangun tebing tembok untuk mengurangi bahaya longsor di lereng-lereng yang berpotensi longsor," imbuh Emilya.


Sementara untuk upaya mitigasi non struktural dengan kebijakan atau peraturan tertentu bisa dilakukan dengan sosialisasi kepada masyarakat secara bersama-sama terkait potensi bencana yang mungkin terjadi saat hujan lebat.


Tak hanya itu, Emilya juga menjelaskan perlu adanya pemberdayaan masyarakat sebagai relawan, regulasi dan peraturan untuk mitigasi dan adaptasi bencana.


"Langkah-langkah yang harus disiapkan guna mengantisipasi bencana akibat hujan lebat salah satunya ada regulasi atau peraturan (SOP) yang menyangkut tugas yang harus dilakukan dan di wilayah mana, termasuk sumber pendanaan," paparnya.


Menurut Dosen Fakultas Geografi ini, Pemerintah juga perlu membangun teknologi untuk mitigasi dan adaptasi karena dengan peningkatan kapasitas maka risiko bencana akan berkurang.


Antisipasi yang dilakukan masyarakat


Terkait antisipasi bencana akibat hujan lebat, Emilya menjelaskan bahwa pertama masyarakat dapat menerapkan teknologi rain water harvesting atau menampung air hujan yang jatuh di atap rumah lewat talang dan ditampung dalam penampungan air hujan.


Nantinya, air hasil tampungan bisa dimanfaatkan untuk simpanan air atau masukkan kedalam sumur resapan untuk pengisian air tanah, keperluan mencuci dan mandi, maupun untuk kolam. Langkah tersebut bisa ditempuh untuk mengurangi air hujan yang terbuang menjadi air larian yang bisa menjadi air genangan.


Langkah kedua adalah dengan menebang cabang pohon yang sudah tinggi atau memangkas ujung-ujung pohon untuk mengantisipasi bencana angin kencang yang mungkin terjadi saat hujan lebat.


"Tak hanya itu, masyarakat di daerah pedesaan juga bisa membuat sumur resapan bersama (biopori) atau membersihkannya sehingga tebal air hujan yang ditampung bisa lebih banyak," pungkasnya.



Simak Video "Hujan Intensitas Lebat Berpeluang Terjadi di Beberapa Daerah"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia