Belajar dari Pakar

Penemuan Matematika yang Merenggut Nyawa

- detikEdu
Selasa, 14 Sep 2021 11:17 WIB
Dhika Widayat Founder Ngajimatematika
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta - Matematika itu sebenarnya sesuatu yang sangat menarik. Menarik dari sisi teorinya, penerapannya, bahkan yang lebih menarik adalah tentang bagaimana sejarah penemuannya. Suatu konsep matematika kalau boleh saya golongkan, biasanya tercipta dari tiga kejadian. Pertama, karena kebutuhan terhadap penyelesaian suatu masalah. Kedua, sebab pengembangan dari konsep matematika sebelumnya. Dan ketiga, karena matematikawan atau ilmuwan yang iseng aja.

Perilaku iseng para matematikawan ini juga suatu yang ajaib. Awalnya mungkin karena kesenangan mereka terhadap utak atik bilangan dan konsep matematika, mereka menemukan suatu konsep baru bagi perkembangan matematika. Seringnya hal tersebut tidak ada gunanya. Seiring berjalannya waktu, ternyata konsep yang muncul dari keisengan tersebut bisa digunakan untuk memecahkan suatu masalah.

Penemuan matematika tidak selamanya memberikan kabar yang baik. Beberapa kisah penemuan matematika yang luar biasa justru bisa membuat orang yang mempublikasikannya terancam nyawanya. Salah satunya terjadi pada Hippasus ketika beliau memberitahukan tentang adanya bilangan irrasional.

Teman-teman sudah mengenal Phytagoras kan? Seorang matematikawan luar biasa yang terkenal dengan teoremanya. Kita menyebutnya dengan teorema Phytagoras. Teorema yang menyatakan bahwa panjang kuadrat dari suatu sisi miring (hipotenusa) sebuah segitiga siku-siku adalah jumlah dari kuadrat sisi-sisi lainnya.

Sepeninggalan Phytagoras, beliau masih memiliki banyak sekali murid yang sangat loyal. Mereka sangat bangga kepada gurunya dan menjaga kehormatan sang guru. Bahkan saat Phytagoras memiliki falsasah bahwa, "Semua adalah bilangan", para muridnya menjaga falsafah ini tetap benar. Bilangan yang dimaksud disini adalah bilangan rasional.

Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai perbandingan dua bilangan bulat (dapat dinyatakan dengan bentuk a/b, dimana a dan b adalah bilangan bulat dan b tak nol), decimal yang berakhir atau memiliki pola berulang jika tidak berakhir, atau persentase.

Hippasus adalah seorang murid Phytagoras yang cukup cerdas dan berani. Saat beliau mempelajari tentang teorema Phytagoras, ditemukanlah suatu persoalan. Jika panjang sisi-sisi selain hiptenusa adalah satu, maka berdasarkan teorema Phytagoras nilai hipotenusanya adalah akar kuadrat 2 (√2). Hippasus menyadari bahwa √2 ini tidak bisa dinyatakan dalam perbandingan dua bilangan bulat, karena tidak ada bilangan rasional yang dapat dikalikan dengan dirinya sendiri yang menghasilkan tepat bernilai 2. Sehingga ini bukanlah bilangan rasional, yang kemudian kita sebut dengan irrasional.

Hippasus tidak sendirian menyadari hal ini. Murid-murid Phytagoras yang lain juga telah mengetahui adanya bilang yang tak rasional. Hanya saja mereka menyembunyikan hal tersebut dan tidak melanjutkan pengembangannya. Hal ini dikarenakan untuk menjaga kehormatan guru mereka, yakni Phytagoras. Sebab adanya bilangan tak rasional ini bertentangan dengan falsafah Phytagoras.

Informasi adanya bilangan √2 sebagai irrasional ini tetap tersebar. Pelakunya dalah Hippasus yang membocorkan rahasia para murid Phytagoras. Bahkan Hippasus terus mengembangkan kajian tentang bilangan irrasional ini. Sebab itu, Hippasus dianggap telah membangkang dari kesepakatan dan telah menjatuhkan martabat gurunya. Hippasus menjadi musuh bagi para murid Phytagoras. Konon kabarnya, para murid Phytagoras tega membunuh Hippasus.

Apa yang dilakukan oleh Hippasus ini sebenarnya bukan sebagai bentuk pembangkangan. Bukan juga termasuk dari menjatuhkan kehormatan Phytagoras. Apa yang dilakukan Hippasus ini sebenarnya menguatkan kebenaran teorema Phytagoras. Mungkin Phytagoras sebenarnya bangga pada Hippasus , karena dengan kejadian tersebut teoremanya menjadi semakin kuat terbukti.

Konsep bilangan irrasional ini awalnya memang sulit diterima. Ini sebenarnya wajar saja, sebab banyak penemuan matematika yang juga awalnya ditolak. Namun para matematikawan Yunani dan India terus mengembangkannya. Bahkan bilangan irrasional pada abad ke-9 oleh para matematikawan Arab (Muslim) telah dapat diaplikasikan dalam Aljabar.

Dhika Widayat

Seorang pengemar berat matematika sejak SD, Founder ngajimatematika.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Simak Video "Sosok Stanve, Jago Matematika Tingkat Dunia Asal Tangerang"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia