Kudeta di Guinea: Sejarah Kudeta Presiden 3 Jabatan oleh Militer di Guinea

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 06 Sep 2021 20:45 WIB
Members of the Armed Forces of Guinea drive through the central neighbourhood of Kaloum in Conakry on September 5, 2021 after sustainable gunfire was heard. - Gunfire was heard in Conkary in the morning and troops were seen on the streets, witnesses told AFP. There was no immediate explanation for the incidents in Conakrys Kaloum peninsula, where the presidency, various institutions and offices are located. (Photo by CELLOU BINANI / AFP)
Kudeta terjadi di Guinea oleh militer. Pasukan militer berkeliling kota usai kudeta berjalan. Foto: AFP/CELLOU BINANI
Jakarta - Kudeta terjadi di Guinea, negara Afrika Barat yang terletak di pantai Atlantik. Kepala pasukan khusus Guinea Kolonel Mamady Dombouya mengatakan, tentara telah merebut kekuasaan melalui kudeta, menangkap Presiden Guinea Alpha Condé, dan berjanji mengubah susunan politik negara Afrika Barat tersebut. Apa yang terjadi di Guinea?

Guinea adalah negara dengan sumber daya alam berlimpah. Guinea dikenal sebagai negara dengan cadangan bauksit dunia yang besar, memiliki kekayaan besi, emas, dan juga berlian. Karena tiga sungai besar di Gambia, Nigeria, dan Senegal bermuara di Guinea, negara ini juga punya potensi pembangkit listrik tenaga air, seperti dikutip dari Encyclopaedia Britannica.

Kendati memiliki kekayaan alam, perekonomian Guinea sebagian besar didasarkan pada pertanian subsisten. Pertanian subsisten adalah pertanian swasembada dengan fokus petani pada usaha budidaya bahan pangan yang cukup untuk mereka sendiri dan keluarga.

Pemerintahan Guinea

Guinea bernama French Guinea, bagian dari Frech West Africa sebelum merdeka pada 1958. Guinea lalu dipimpin oleh Sekou Touré (1958-1984) dan Lansana Conté (1984-2008). Selama lebih dari 25 tahun di bawah Pres. Sekou Touré, Guinea adalah negara satu partai yang diperintah oleh Partai Demokrat Guinea (Parti Démocratique de Guinée; PDG).

Setelah kematian Touré pada April 1984, Lansana Conté mengambil kekuasaan melalui kudeta militer dan memimpin negara selama 24 tahun. Conté menghapuskan PDG dan semua komite revolusioner yang terkait dan menggantinya dengan Komite Militer untuk Pemulihan Nasional (Comité Militaire de Redressement National;CMRN).

Sebuah konstitusi baru pada tahun 1991 memulai transisi Guinea ke pemerintahan sipil. Konstitusi Guinea ini memungkinkan adanya presiden sipil dan legislatif unikameral, dan majelis nasional. Baik presiden maupun legislator dipilih dengan hak pilih universal untuk masa jabatan lima tahun.

Partai-partai politik di Guinea disahkan pada tahun 1992. Pemilihan multipartai pertama Guinea diadakan pada 1993. Pada pemilihan tersebut, Conté terpilih sebagai presiden. Conte terpilih kembali pada tahun 1998 dan 2003. Referendum nasional pada tahun 2001 mengubah konstitusi untuk memperpanjang masa jabatan presiden dari 5 menjadi 7 tahun, dan untuk memungkinkan masa jabatan presiden menjadi tidak terbatas.

Pemerintahan Alpha Condé dan Kudeta di Guinea

Setelah kematian Conté pada 2008, Guinea dipimpin oleh junta militer. Junta militer juga menangguhkan konstitusi yang telah diadopsi pada tahun 1991. Dewan Transisi Nasional (Conseil National de Transition; CNT), sebuah badan seperti legislatif, dibentuk pada Februari 2010. Salah satu tugas CNT adalah merancang konstitusi baru yang diundangkan pada Mei 2010.

Kekuasaan junta militer di Guinea diserahkan kepada pemerintahan sipil yang dipilih secara bebas pada tahun 2010. Alpha Condé terpilih menjadi presiden Guinea yang pertama dipilih secara demokratis setelah dialihkuasa oleh militer pada 1984 dan 2008, seperti dikutip dari New York Times.

Berdasarkan konstitusi Guinea per 2020, Guinea merupakan negara republik kesatuan. Kepala negara dipimpin oleh presiden Alpha Condé yang dipilih melalui pemilu dengan maksimal 2 kali masa jabatan, masing-masing 5 tahun. Sementara itu, kepala pemerintahan dipimpin oleh perdana menteri Ibrahima Kassory.

Pemerintahan Alpha Condé mengubah Guinea menjadi negara eksportir besar bauksit. Pemerintahan Condé semula diharapkan mengubah sejarah pemerintahan Guinea yang penuh korupsi dan otoriter.

Tetapi, sejumlah lembaga hak asasi manusia melaporkan perusahaan-perusahaan tambang di Guinea melakukan eksploitasi kehidupan warga di daerah terpencil di wilayah pertambangan. Oposisi lalu menuding Condé gagal meningkatkan kualitas hidup rakyat Guinea yang hidup dalam kemiskinan meskipun di di tengah kekayaan mineral, termasuk bauksit dan emas, seperti dikutip dari NPR.

Pada 2011, Condé hampir terbunuh dalam usaha pembunuhan menggunakan granat-roket. Pada usaha penggulingan ini, salah satu pengawal Condé tewas.

Pada Maret 2020, Condé mengubah konstitusi negara Guinea pada sehingga memungkinkan dirinya dapat kembali menjabat sebagai presiden lebih dari dua kali. Pada pemilu Guinea 2020, belasan warga tewas dalam baku hantam antara pendukung Condé dan calon presiden Cellou Dalein Diallo.

Kudeta di Guinea lalu dilaksanakan militer setelah Alpha Condé memenangkan pemilihan presiden ketiga kalinya. Lokasi Condé kini tidak diketahui. Sekjen PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) Antonio Guterres menyampaikan dirinya mengutuk keras "setiap pengambilalihan pemerintah secara paksa" dan menyerukan pembebasan segera Condé.



Simak Video "Militer Guinea Pastikan Presiden Alpha Conde dalam Keadaan Aman"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia