Isi Perundingan Roem-Royen dan Pernyataan Indonesia-Belanda

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 26 Agu 2021 19:00 WIB
perjanjian roem royen/roem roijen
Foto: www.anri.go.id/Isi Perundingan Roem-Royen dan Pernyataan Indonesia-Belanda
Jakarta - Perjanjian atau perundingan Roem-Royen adalah upaya diplomasi Indonesia untuk membebaskan diri dari Belanda. Perundingan ini dilaksanakan pada 7 Mei 1948.


Perundingan tersebut merupakan buntut dari Belanda yang secara sepihak tidak terikat lagi dengan perjanjian Renville. Kemudian pada Desember 1948, Belanda melakukan Agresi Militer II di Ibu Kota Indonesia saat itu yakni Yogyakarta.


Latar belakang perundingan Roem-Royen


Dikutip dari laman resmi Kemdikbud, Belanda menyadari bahwa Agresi Militer yang dilakukannya tidak memberikan manfaat dan justru menjadikan perlawanan rakyat Indonesia semakin meluas.


Selain itu, dunia internasional melakukan tekanan kepada Belanda. Maka, tidak ada jalan lain selain mengikuti anjuran PBB untuk kembali ke meja perundingan.


Perundingan Roem Royen diadakan di Hotel Des Indes Jakarta dan dipimpin oleh Merle Cochran, delegasi RI diwakili oleh Mr. Muhammad Roem dan Belanda diketuai oleh Dr. JH. Van Royen.


Perundingan berakhir pada 7 Mei 1949 dengan hasil: pemerintah RI termasuk para pemimpin yang ditawan akan dikembalikan ke Yogyakarta dan kedua pihak sepakat untuk melaksanakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.


Keikutsertaan pemerintah RI dalam perundingan selanjutnya bukan tanpa syarat. Pihak pemerintah RI menuntut agar Tentara Belanda ditarik dari wilayah Yogyakarta. Akhirnya Belanda menerima persyaratan tersebut.


Pada 2 Juni 1949 pengosongan wilayah Yogyakarta dimulai di bawah pengawasan UNCI (United Nations Commissioner for Indonesia).


Pada perundingan Roem Royen Indonesia dan Belanda menyatakan bahwa...

Adapun isi dari perundingan Roem-Royen atau dikenal dengan "Roem-Royem Statements" adalah sebagai berikut.


Ketua Delegasi Indonesia, Mr. Roem menyatakan bahwa:


1) Pengeluaran perintah kepada pengikut-pengikut Republik yang bersenjata untuk menghentikan perang gerilya


2) Kerja sama dalam hal mengembalikan perdamaian dan menjaga ketertiban dan keamanan; dan turut serta pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag dengan maksud untuk mempercepat penyerahan kedaulatan yang sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat, dengan tidak bersyarat.


Sementara itu, dalam perundingan tersebut, Belanda menyatakan bahwa:


1) Menyetujui kembalinya Pemerintah RI ke Yogyakarta


2) Menjamin penghentian gerakan-gerakan militer dan membebaskan semua tahanan politik


3) Tidak akan mendirikan atau mengakui Negara-negara yang ada di daerah yang dikuasai RI sebelum 19 Desember 1949, dan tidak akan meluaskan Negara atau daerah dengan merugikan Republik


4) Menyetujui adanya RI sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat


5) Berusaha dengan sesungguh-sungguhnya supaya KMB segera diadakan sesudah Pemerintah Republik kembali ke Yogyakarta.


Jadi, pada perundingan Roem Royen Indonesia dan Belanda menyatakan bahwa akan mengembalikan perdamaian dengan menghentikan gencatan senjata hingga kembalinya pemerintahan Indonesia ke Yogyakarta, ya detikers!

Simak Video "Pagi yang Muram di Roermond Belanda, Kota Diterjang Banjir Dahsyat"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia