Pithecanthropus Erectus: Sejarah, Ciri-ciri, dan Kontroversi

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 23 Agu 2021 20:25 WIB
Fosil asli Pithecanthropus erectus di pameran Dubois di Museum Nasional Sejarah Alam Naturalis di Leiden, Belanda.
Fosil asli Pithecanthropus erectus di pameran 'Dubois' di Museum Nasional Sejarah Alam 'Naturalis' di Leiden, Belanda. Foto: Wikimedia Commons/Peter Maas
Jakarta - Pithecanthropus erectus adalah manusia purba yang pertama kali ditemukan fosilnya di Pulau Jawa, Indonesia. Fosil Pithecanthropus erectus ditemukan di desa Trinil, Solo, Jawa Tengah pada tahun 1891.

Sejarah Penemuan Pithecanthropus erectus

Pertama kali, fosil yang ditemukan adalah sebuah atap tulang tengkorak dan femur atau tulang paha, seperti dikutip dari Encyclopaedia Britannica. Penemu Pithecanthropus erectus adalah Eugène Dubois, ahli geologi dan ahli anatomi asal Belanda.

Dubois semula melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menemukan nenek moyang manusia modern. Setelah mencari fosil di Sumatera, ia pindah ke Pulau Jawa pada 1890.


Eugene Dubois mulai melakukan pencarian fosil di sepanjang sungai Bengawan Solo di desa Trinil pada Agustus 1891. Atap tulang tengkorak manusia purba ditemukan Dubois pada Oktober 1891, sementara femur ditemukan setelahnya di lubang yang sama.

Dubois mengklasifikasikan temuannya sebagai Pithecanthropus erectus yang juga memiliki arti manusia kera yang berjalan tegak.

  • Ciri-ciri Pithecanthropus erectus


Ciri Pithecanthropus erectus adalah sebagai berikut:

- Volume otak Pithecanthropus erectus adalah 900 cm kubik (cc)

- Tengkorak datar dengan dahi sempit

- Bagian naik di sepanjang bagian atas kepala untuk merekatkan otot rahang yang kuat

- Tulang tengkorak yang sangat tebal

- Alis tebal

- Rahang besar tanpa dagu

- Gigi pada dasarnya seperti gigi manusia, meskipun dengan beberapa fitur mirip kera, seperti taring besar yang sebagian tumpang tindih.

- Berjalan tegak sepenuhnya seperti manusia modern (dengan adanya tulang femur)

- Tinggi mencapai 170 cm (5 kaki 8 inci)

  • Kontroversi Pithecanthropus erectus


Dengan temuan tulang atap tengkorak sebagai sebuah otak yang kecil dan tulang femor, Dubois berargumen bahwa ia telah menemukan Missing Link. Missing Link sebuah makhluk yang posisi evolusinya berada di antara kera dan manusia.

Selama lebih dari tiga dekade, Dubois tidak mengizinkan ilmuwan lain untuk memeriksa tulang atap tengkorak dan femur tersebut sampai 1923.

Sejumlah orang mengkritik bahwa temuan Pithecanthropus erectus Dubois adalah hoax. Mereka melontarkan kritik tersebut karena kecenderungan Dubois untuk berahasia terkait fosil tersebut dan sindiran bahwa fosil tersebut mungkin milik makhluk primitif yang lebih mirip kera atau owa daripada manusia. Sindiran itu ditulis Dubois sendiri dalam surat-suratnya sesaat sebelum meninggal pada tahun 1940.

Namun, setelah penyelidikan lebih lanjut ahli biologi Amerika Ernst Mayr pada tahun 1944, Pithecanthropus erectus diklasifikasikan sebagai bagian dari Homo erectus.

Simak Video "Melihat Tengkorak Hyena Raksasa yang Punah 400 Juta Tahun Lalu"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia