Pakar Epidemiologi Unair Minta Rencana PTM Terbatas Dikaji Ulang, Ini Sarannya

Kristina - detikEdu
Sabtu, 19 Jun 2021 19:04 WIB
empty classroom view
Pakar Epidemiologi Unair Minta Rencana PTM Terbatas Dikaji Ulang, Ini Sarannya (Foto: iStock )
Jakarta - Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo, meminta pemerintah untuk meninjau ulang rencana PTM terbatas. Pihaknya khawatir mobilitas siswa yang tidak terkontrol beresiko tinggi terhadap penularan virus.

Windhu menyampaikan, saat PTM dibuka akan terjadi mobilitas yang dilakukan oleh siswa. Terutama saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, maupun sebaliknya.

"Jadi kalau kita nekad melakukan pembukaan PTM, kita sengaja membuat para siswa bergerak ke sekolah. Kemudian di sekolah mereka berinteraksi dengan orang lain dan yang paling berbahaya adalah saat di perjalanan dari rumah ke sekolah kemudian pulang dari sekolah menuju rumah. Justru itu lah yang berisiko tinggi," jelas Windhu dalam keterangannya seperti dikutip, Sabtu (19/6/2021).


Hal tersebut cukup mengkhawatirkan terlebih bagi siswa yang menggunakan kendaraan umum sebagai alat transportasi. Selain itu, kebiasaan siswa yang suka bergerombol juga beresiko tinggi terhadap penularan COVID-19.

Inisiator Tim Advokasi PSBB & Surveilans COVID-19 Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair ini memaparkan, PTM bukan sekadar masalah siswa dan sekolah, melainkan juga masalah keluarga di rumah dan lingkungan sekitar di luar sekolah.

"Anak-anak usia di bawah 18 tahun itu relatif imunitasnya baik. Kecuali bila mereka punya komorbid, itu yang bisa berisiko meninggal ketika mereka (anak-anak, Red) tertular yang punya kelainan bawaan saat lahir, dan seterusnya. Secara umum anak-anak itu lebih sehat. Kenapa? Karena daya tahan tubuh mereka relatif lebih bagus karena masih muda," ucap Windhu.

Windu menegaskan, kebijakan PTM Terbatas harus dilihat dari kondisi epidemiologi terlebih dahulu. Menurutnya, peta zonasi risiko yang ada tidak cukup untuk membuka sekolah tatap muka.

Pasalnya, jumlah kasus positif yang dilaporkan selama ini diestimasi maksimum hanya seperdelapan dari kasus real yang ada. Adapun syarat lain, seharusnya angka positivitas tidak boleh lebih dari lima persen.

"Lihat kondisi epidemiologi, angka positivitas saat ini belum di bawah 5 persen. Angka positivitas Indonesia beberapa hari terakhir ini pernah 33 persen, itu tinggi banget, dari 100 orang yang diperiksa 33 orang positif. Bayangkan, luar biasa menakutkan," tegas Windhu.

Lebih lanjut Windu menegaskan, dasar keputusan melaksanakan PTM Terbatas harus menimbang dari berbagai ilmu, seperti ilmu kesehatan masyarakat, ilmu epidemiologi, dan ilmu penyakit menular.

"Melihat data epidemiologi terlebih dahulu, jika aman barulah dapat dilakukan PTM," ucapnya.

Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyatakan bahwa PTM Terbatas akan dimulai pada bulan Juli 2021. Hanya saja, sampai saat ini angka konfirmasi positif COVID-19 terus melonjak di beberapa daerah.

Simak Video "Bekali Anak dengan 'Alat Perang' saat Sekolah Tatap Muka"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia