Mengenal Kalium Sianida, Racun dari Tragedi Sate Takjil

Rahma I Harbani - detikEdu
Selasa, 04 Mei 2021 12:30 WIB
sianida
Foto: Getty Images/iStockphoto/yongyut Chanthaboot/Mengenal Kalium Sianida, Racun dari Tragedi Sate Takjil
Jakarta -

Tragedi sate takjil beracun memakan korban seorang anak berusia 10 tahun asal Yogyakarta, Naba Faiz Prasetya, pada 25 April lalu. Diketahui, korban tidak sengaja menyantap sate lontong pemberian ayahnya, Bandiman.

Sate tersebut ternyata sudah diracuni oleh seorang wanita bernama Nani Apriliani.

Sang anak pun dibawa ke rumah sakit setelah menyantap sate takjil tersebut. Namun nyawanya tidak terselamatkan. Terungkap pada Senin (3/5/2021), pihak kepolisian menyebut bahwa jenis racun yang terkandung dalam sate takjil tersebut adalah kalium sianida (KCN), yakni sianida berjenis padat.

"Racunnya berupa kalium sianida atau KCN," ujar Dirreskrimum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta Kombes Burkan Rudy Satria melalui jumpa pers di Mapolres Bantul, pada Senin (3/5/2020).

Diketahui kalium sianida tersebut ditaburkan oleh pelaku di bumbu sate.

Sebenarnya apa itu kalium sianida? Berikut penjelasan singkat terkait kalium sianida yang dilansir dari detikHealth.

Sianida (CN-) termasuk dalam kelompok senyawa yang tersusun oleh atom karbon (C) dan nitrogen (N). Kelompok senyawa ini ditemukan dalam bentuk gas Hidrogen sianida (HCN), dan bentuk garamnya adalah potasium/kalium sianida (KCN) atau sodium/natrium sianida (NaCN).

Dalam bentuk gas, Hidrogen sianida, tidak memiliki warna dan dalam temperatur tertentu berwarna biru pucat. Sementara dalam bentuk garam, potasium/kalium sianida (KCN) atau sodium/natrium sianida (NaCN), racun ini mempunyai wujud sebagai kristal putih yang larut air. Racun ini dapat dikenali melalui baunya yang khas, tepatnya bau almond.

Racun sianida akan menghambat kerja enzim cytochrome-x-oxidase, enzim yang berada dalam mitokondria, jika masuk ke dalam tubuh. Enzim ini memilik fungsi yang vital yaitu mengikat oksigen untuk memenuhi kebutuhan pernapasan sel-sel tubuh.

Jika proses kerja dari enzim tersebut terhambat oleh racun sianida, maka sel-sel tubuh akan mengalami kematian.

Oleh karena itu, jantung dan otak adalah 2 organ yang paling cepat berhenti bekerja jika tubuh dalam kondisi keracunan sianida. Sebab keduanya paling banyak membutuhkan oksigen agar dapat bekerja normal.

Sebenarnya sianida banyak ditemukan di alam. Ia berasal dari zat alami yang dilepaskan oleh beberapa makanan dan tumbuhan, seperti singkong, kacang lima, dan almond. Biji sejumlah buah-buahan, yaitu apel, aprikot, dan persik, mengandung bahan kimia yang juga memiliki potensi untuk dimetabolisme menjadi sianida.

Selain itu, sianida juga ditemukan pada asap rokok. Darah seorang perokok mengandung racun sianida dengan kadar rata-rata 0,123 mg/L. Sementara pada non perokok kadar normalnya sekitar 0,059 mg/L.

Pada kadar 1,1 mg/L, racun sianida dalam darah sudah bisa memberikan dampak yang fatal, seperti yang dikutip dari Toxicology of Cyanides and Cyanogens: Experimental, Applied and Clinical Aspects.

Di bidang manufaktur juga membutuhkan sianida untuk membuat kertas, plastik, dan tekstil.

Klik halaman selanjutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia