Jejak Ki Sarmidi Mangunsarkoro di Dunia Pendidikan

Sang Menteri Bersarung yang Bersahaja

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Senin, 03 Mei 2021 11:00 WIB
Ki Sarmidi Mangunsarkoro bersama istri dan anak-anaknya (repro buku Guru Patriot)
Foto: Ki Sarmidi Mangunsarkoro bersama istri dan anak-anaknya (repro buku Guru Patriot)
Jakarta - Ki Sarmidi Mangunsarkoro selain jadi guru Taman Muda Perguruan Tamansiswa juga sangat aktif dalam pergerakan kebangsaan. Ia dipercaya memimpin Jong Java cabang Yogyakarta ketika kembali ke kota itu pada 1926.

Setahun kemudian Ki Sarmidi Mangunsarkoro turut membidani berdirinya organisasi Pemuda Indonesia cabang Yogyakarta. Lulusan Sekolah Guru Arjuna itu pun turut bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Sukarno.

Puncaknya saat pemuda kelahiran Colomadu, Surakarta itu turut ambil bagian dalam Kongres Pemuda II 27-28 Oktober 1928. Ki Sarmidi Mangunsarkoro mendapat kesempatan berbicara pada sidang hari kedua yang berlangsung di Gedung Oost Java Bioscoop.

Seperti yang dikutip dari buku Guru Patriot karya RH Widada, Ki Sarmidi membawakan pidato berjudul "Pentingnya Pendidikan Kebangsaan Bagi Pemuda". Kongres Pemuda II itu sendiri bermuara pada sebuah keputusan yang kini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Setelah PNI bubar dan berganti nama menjadi Partai Indonesia (Partindo), Ki Sarmidi Mangunsarkoro turut bergabung di dalamnya. Sejak di Partindo pula, bersama kawan-kawannya ia mulai menggunakan peci dan sarung sebagai simbol dan ciri khas pergerakan.

Ketika Jepang berkuasa, sejumlah tokoh pergerakan akhirnya menggantung sarung dan mengenakan celana panjang. Namun, Ki Sarmidi Mangunsarkoro tetap bertahan. Ia terus mengenakan sarung sebagai bagian dari cara berpakaian.

Karikatur Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam buku Apa dan SiapaKarikatur Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam buku Apa dan Siapa Foto: Karikatur Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam buku Apa dan Siapa (Repro buku Guru Patriot)

Pasca proklamasi kemerdekaan, Ki Sarmidi Mangunsarkoro duduk sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia dengan tegas menolak hasil Perundingan Linggarjati dalam sidang KNIP walau akhirnya kalah suara.

Saat agresi militer Belanda II pada Desember 1948, suami dari Sri Wulandari itu turut ditangkap di Yogyakarta. Ia pun sempat merasakan tinggal di balik jeruji besi Penjara Wirogunan.

Seolah mengikuti jejak Ki Hajar Dewantara, Ki Sarmidi Mangunsarkoro menjadi orang kedua dari Perguruan Tamansiswa menjadi Menteri Pengajaran/Pendidikan meskipun tidak berurutan. Seperti diketahui, Ki Hajar Dewantara adalah Menteri Pengajaran pertama pada 1945.

Ketika Presiden Sukarno memutuskan membentuk kabinet yang dipimpin Mohammad Hatta pada Agustus 1949, Ki Sarmidi Mangunsarkoro dipercaya menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Masa jabatannya sebagai menteri terbilang singkat.

Namun Ki Sarmidi punya jasa yang sangat besar. Ia memperjuangkan disahkannya Undang Undang No 4/1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk Seluruh Indonesia yang menjadi Undang Undang Pendidikan Nasional pertama dalam sejarah Indonesia.

"Pada waktu menjabat sebagai menteri PP dan K ini untuk pertama kalinya Indonesia berhasil membuat Undang-Undang Pendidikan," ujar menantu Ki Sarmidi Mangunsarkoro, Anik Yudhastowo, pada detikEdu beberapa waktu lalu. Selain itu, menurut Anik Ki Sarmidi juga membidani berdirinya Universitas Gadjah Mada.

Penampilannya sederhana sekali. Dia kemana-mana tetap sarungan dan kopiah hitam

Menariknya semasa menjadi menteri Ki Sarmidi Mangunsarkoro tidak mengubah penampilannya yang bersahaja.

"Penampilannya sederhana sekali. Dia kemana-mana tetap sarungan dan kopiah hitam," kata salah satu murid Ki Sarmidi Mangunsarkoro, Ki Priyo Dwiarso.

Cara berpakaian lulusan Technische School Prinses Juliana School itu baru berubah setelah Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan. Sarung dan peci sebagai simbol perlawanannya pada kolonialisme Belanda lalu dilepaskan. Ia merasa Indonesia telah berdaulat penuh secara politik.

Ki Sarmidi Mangunsarkoro melanjutkan kiprahnya dalam dunia politik. Pada Juni 1957, ia mengikuti Sidang Konstituante di Bandung sebagai wakil fraksi PNI. Karena merasa kurang sehat, ia memutuskan pulang ke Jakarta.

Ternyata penyakitnya bertambah parah. Setelah sempat dirawat di rumah sakit, Ki Sarmidi Mangunsarkoro akhirnya berpulang pada 8 Juni 1957. Jenazahnya kemudian dibawa ke Yogyakarta untuk dimakamkan di Makam Wijaya Brata, kompleks pemakaman Tamansiswa.

Ki Sarmidi Mangunsarkoro akhirnya diangkat menjadi pahlawan nasional 54 tahun setelah wafatnya.

Simak Video "Kilas Balik Perjuangan Ki Hajar Dewantara di Bidang Pendidikan"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia