BRI Ramadan Update

Sejarah THR dan Angpao pada Anak-anak: Keduanya Ternyata Berhubungan!

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 03 Mei 2021 06:50 WIB
THR 2021
Sejarah THR dan Angpao pada Anak-anak Foto: THR 2021 (Denny Pratama/detikcom)
Jakarta - Sejarah THR dan angpao untuk anak-anak tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan orang Indonesia yang suka memberikan rezeki lebih ketika merayakan sesuatu.

Tentu saja, yang lebih dikenal sebelumnya adalah bagi-bagi Tunjangan Hari Raya (THR) untuk kalangan pegawai. Namun, kebiasaan tersebut pada akhirnya merembet ke kalangan antara orang tua dan anak-anak.

Sejarah THR awalnya hanya diberikan untuk PNS dan bersifat sebagai persekot (uang muka). Mereka yang meminta persekot harus mencicil pelunasan dengan cara potong gaji.

Seperti yang dikutip dari detiknews, gerakan buruh, yang didominasi oleh SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), kemudian mampu memperjuangkan THR sebagai hak penuh kaum buruh.

Tuntutan THR ini awalnya dipenuhi pemerintah hanya untuk pegawai negeri dengan keluarnya PP No. 27 tahun 1954 Tentang Pemberian Persekot Hari Raya Kepada Pegawai Negeri.

Persekot ini ditentukan nilainya sebesar separuh penghasilan bersih di akhir bulan. Penerima persekot harus mengembalikan bantuan persekot dalam jangka enam bulan secara potong gaji.

Belakangan ini banyak beredar informasi bahwa THR pertama kali dicetuskan oleh Soekiman Wirjosandjojo. Politikus Partai Masyumi yang menjabat Perdana Menteri pada 27 April 1951 hingga 3 April 1952.

Salah satu program kerja Kabinet Soekiman yang dilantik pada April 1951 itu adalah meningkatkan kesejahteraan aparatur negara. Kabinet Soekiman memutuskan memberikan tunjangan kepada para pamong pradja (kini PNS) menjelang hari raya.

Ketika itu besarnya tunjangan yang dibayarkan kepada pegawai sebesar Rp 125 (USD 11) hingga Rp 200 (USD 17,5). Jika menggunakan kurs dolar dan rupiah sekarang setara dengan Rp 1,1 juta sampai Rp 1,75 juta.

Selain THR dalam bentuk uang, kabinet Soekiman juga memberikan tunjangan dalam bentuk beras yang diberikan ke pegawai negeri sipil setiap bulannya.

Setelah itu buruh juga menuntut hak THR melalui jalur demonstrasi, mogok kerja, dan hukum. pada 1959, Menteri Perburuhan Ahem Erningpradja, dari kalangan nasionalis, mengukuhkan THR sebagai hak penuh buruh.

Sementara tradisi membagikan uang atau angpao pada anak-saat Lebaran menurut Kepala Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Sunu Wasono sudah ada sejak lama.

Kebiasaan bagi angpao saat lebaran menurut Sunu sebagai semangat berbagi dari orang yang sedang memiliki rezeki lebih di momen itu karena ada THR dari tempatnya bekerja. Lagi pula, dalam Islam sendiri diajarkan untuk memuliakan satu sama lain dan berbagi.

"Itu merupakan wujud perhatian dan kepedulian yang semuanya dilandasi oleh kasih sayang. Bagi uang kepada anak juga merupakan bagian dari kasih sayang. Kalau dasarnya tulus, semangatnya memberi perhatian atau saling membantu itu bagus, tidak ada masalah," tuturnya

Tradisi bagi-bagi uang kepada anak-anak juga bisa dianggap sebagai 'hadiah' karena telah berpuasa selama satu bulan lamannya. Dengan begitu, mereka dinilai akan lebih giat lagi menjalankan puasa di tahun selanjutnya.

Sunu juga menuturkan bahwa ada kemungkinan bahwa sejarah bagi-bagi THR dan angpao pada anak-anak dipengaruhi budaya China yang memberikan angpao saat Tahun Baru Imlek.

Dilansir dari National Library Board Singapura, angpao (ang pow) berasal dari bahasa Hokkien. Angpao juga memiliki sebutan lain yaitu hongbao.

Sejatinya, angpao ini berarti sebagai hadiah berupa uang yang dibungkus dalam amplop berwarna merah. Kenapa berwarna merah?

Warna merah dalam tradisi Cina mengandung nilai filosofis sebagai simbol keberuntungan, kehidupan, dan kebahagiaan. Sehingga, angpao atau hongbao ini diberikan sebagai harapan atau doa baik untuk penerimanya.

Menurut sejarahnya, di era dinasti Song pada abad ke-12, memberikan uang atau yang disebut li shi dalam bahasa Kanton, sudah menjadi norma. Angpao di era dinasti Song kala itu diberikan dari orang tua kepada anaknya, lalu pada para penabuh gong dan gendang di tahun baru, serta dari tuan pada budaknya.

Beberapa tradisi terkait angpao atau hongbao di Tahun Baru Cina (Imlek) adalah:

1. Orang dewasa yang telah menikah diharapkan membagikan angpao, tapi tidak harus memberi pada yang lebih tua ataupun pada yang belum menikah.

2. Angpao harus diberikan pada yang belum menikah, adik, sepupu, dan pada keponakan yang lebih tua yang belum menikah.

3. Kerabat tunggal tidak harus memberikan angpao pada yang lebih muda.

Saat ini, baik pemberian THR maupun angpao semakin meluas, tak cuma seperti tradisi yang disebutkan di atas. Akan tetapi, angpao juga diberikan pada karyawan, orang yang membutuhkan, dan sebagainya.

Berawal dari sejarah THR dan angpao untuk anak-anak, kini keduanya menjadi ungkapan simbolis untuk menyatakan perhatian, penghargaan, rasa syukur, dan sebagainya. (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia