Kisah Cendekiawan Muslim 

Cendekiawan Muslim Ibnu Khaldun, Sang Ahli Filsafat Sejarah Terbesar

Rahma I Harbani - detikEdu
Rabu, 14 Apr 2021 10:16 WIB
Ibnu Khaldun
Foto: Wikipedia Commons/Ilustrasi: Mindra Purnomo/Cendekiawan Muslim Ibnu Khaldun, Sang Ahli Filsafat Sejarah Terbesar
Jakarta -

Salah satu cendekiawan muslim yang lahir pada 1 Ramadhan adalah Ibnu Khaldun, tepatnya 1 Ramadhan 732 H/27 Mei 1332 M.

Dia lahir dengan nama 'Abd al-Rahman dengan nama panggilan keluarga Abu Zayd. Mendapat gelar Ibnu Khaldun ini merujuk pada nama leluhurnya Khalid bin 'Uthman.

Kata 'Khalid' dibubuhi kata waw dan nun oleh masyarakat Andalusia dan Maghribi yang melambangkan simbol takzim, sanjungan, dan kagum.

Melansir dari Buku "Falsafah Ibnu Khaldun" yang ditulis oleh Ahmad Sunawari Long, Ibnu Khaldun mulai mengenyam pendidikan formal di Tunisia selama kurang lebih 18 tahun. Tempat kelahirannya inilah yang secara tidak langsung mendukung seorang Ibnu Khaldun dalam mempelajari berbagai ilmu, seperti mempelajari dan menghafal Al Quran.

Ibnu Khaldun dibimbing oleh Muhammad ibni Sa'd ibni Burral, sastra persajakan yang dibimbing oleh Muhammad Ibni Sahr, bidang hadist dan fiqah di bawah bimbingan Shams al-Din Muhammad al-Jabir dan 'Abd al-Sala al-Hawwari, hingga ilmu syair, falsafah, dan mantiq.

Setelah dewasa, Ibnu Khaldun dikenal sebagai cendekiawan muslim pertama yang menggunakan pendekatan historis dalam bidang keilmuan Islam. Hingga pada akhirnya, Islam mempunyai metode kritik historis tersendiri ala Ibnu Khaldun.

Philip K Hitti, orientalis dan Islamolog ternama, dilansir dari Buku Historiografi Ibnu Khaldun: Analisis atas Tiga Karya Sejarah Pendidikan Islam oleh Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag. M.Ag, mengatakan, "Tidak ada penulis Arab dan Eropa yang mempunya pemikiran sejarah yang jelas seperti Ibnu Khaldun yang telah mengulas secara filosofis.

Semua orang sepakat bahwa ia adalah ahli filsafat sejarah terbesar selama negara Islam terbentang dan salah seorang ahlli filsafat sejarah terbesar selama dunia berkembang."

Sebagai ahli sejarah, Ibnu Khaldun tidak hanya mencatat peristiwa-peristiwa sejarah, tetapi ia mencermati sebab akibat dan alasan terjadinya peristiwa sejarah melalui proses historis.

Selain itu, Ibnu Khaldun juga banyak mencermati dan menganalisa peristiwa sejarah melalui pandangan filosofis. Hal inilah yang membuat Ibnu Khaldun mendapat panggilan Bapak Filsafat Sejarah. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif dalam buku Buku Historiografi Ibnu Khaldun: Analisis atas Tiga Karya Sejarah Pendidikan Islam oleh Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag. M.Ag, juga menyebutnya sebagai sejarawan filsuf sebagai seseorang yang menghubungkan sejarah dengan filsafat.

Ibnu Khaldun (https://www.detik.com/tag/mengenal-ibnu-khaldun) dan kecemerlangan karyanya sudah tidak diragukan lagi. Buah pemikiran dan karya-karyanya menjadi sumber rujukan bagi para ilmuwan muslim lainnya. Melalui salah satu karyanya yang terkenal al-Muqaddimah, ia membangun teori-teori tentang sejarah, ilmu sosial, dan kebudayaan.

Mengutip dari Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag. M.Ag, kategori isi Al-Muqaddimah adalah sebagai berikut.

Kategori Isi Al-Muqaddimah:

1. Ilmu sejarah kritis sebagai reaksi terhadap sejarawan terdahulu yang cenderung mencampuradukkan legenda atau mitos yang tidak masuk akal dengan fakta historis dalam kerangka sejarah;

2. Sosiologi sebagai upaya Ibnu Khaldun dalam menginterpretasikan fenomena-fenomena kemsyarakatan secara umum;

3. Ilmu politik yang berusaha mengkaji hukum-hukum perkembangan masyarakat dan kekuasaan negara

Tokoh orientalis Sardon dalam buku Ahmad Sunawari Long menyebut bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang filsuf terbesar sepanjang masa sejarawan klasik.

"Ahli teori sejarah terbesar, filsuf terbesar dari pengalaman manusia, tidak hanya dari abad pertengahan, tetapi seluruh periode yang membentang dari masa sejarawan klasik besar hingga Machiavelli, Bodin, dan Vico," tutur Sardon.



Simak Video "Menggapai Ketenangan Batin"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia