Kisah Cendekiawan Muslim

Cendekiawan Muslim Ibnu Sina, Dokter yang Kuasai Banyak Ilmu

Rahma I Harbani - detikEdu
Selasa, 13 Apr 2021 16:05 WIB
Ibnu Sina, avicenna
Foto: Wikipedia Commons/Ilustrasi: Mindra Purnomo/Cendekiawan Muslim Ibnu Sina, Dokter yang Kuasai Banyak Ilmu
Jakarta -

Bernama lengkap Abu Ali al-Hussain Ibn Abdullah Ibn Sina, Ibnu Sina lahir di Iran pada tahun 470-527 H/ 980-1037 M. Semasa hidupnya, Ibnu Sina memilki ketertarikan di berbagai bidang ilmu, mulai dari bahasa dan sastra, lalu geometri, logika, matematika, sains, fiqh, perbuatan, hingga ia mulai tertarik pada bidang ilmu kedokteran yang mengharumkan namanya.

Tidak melulu soal bidang ilmu dunia, ilmuwan yang kerap dikenal dengan nama Avicenna ini juga sudah menghafal Al Quran sejak berusia 5 tahun dan menamatkannya pada usia 10 tahun.

Buah dari mempelajari banyak bidang keilmuwan inilah yang membawanya pada berbagai gelar yang disematkan untuknya.

Melansir dari detikNews, di bidang kedokteran, Ibnu Sina mendapat gelar The Father of Farmacology (Bapak Farmakologi) dan Al-Syekh al-Rais al-Thibb (Mahaguru Kedokteran). Tidak mengherankan karena salah satu karyanya yang terkenal Al-Qanun fi al- Thibb (The Canon of Medicine) sudah diterjemahkan dalam 15 bahasa dunia.

Ibnu Sina juga disebut sebagai dokter pertama yang memperkenalkan eksperimen dan hitungan cermat berbagai jenis penyakit menular berikut dengan cara-cara menjinakkannya. Selain itu, Ibnu Sina-lah yang memperkenalkan teknik karantina sebagai upaya membatasi penularan virus pertama kalinya.

Dikutip dari jurnal Annals of Saudi Medicine dan diunggah di situs US National Library of Medicine National Institute, Ibnu Sina menganggap ilmu kedokteran tidak sesulit ilmu matematika dan metafisika. Sehingga dia bisa membuat banyak kemajuan dengan menjadi ilmuwan.

Di dunia filsafat pun, Ibnu Sina menyabet gelar "Guru Ketiga" setelah Aristoteles dan Al-Farabi. Namun, pemikiran-pemikiran Yunani berhasil memengaruhinya, seperti untuk mengenal dan membuktikan adanya Tuhan, Ibnu Sina menggunakan ilmu matematika yang berdasar dari pandangan Pythagoras.

Hal ini pun membuat Imam Al-Ghazali merasa ia telah menyimpang dari ajaran Islam dan membuat sebuah buku berjudul Tahafut al-Falasifah (Kerancuan para Filosof) yang berisi kritikan pada Ibnu Sina serta Al-Farabi.

Selain itu, di bidang geografi, Ibnu Sina mampu menjelaskan bagaimana sungai-sungai berhubungan serta kaitannya dengan gunung beserta lembah. Bahkan, ia berhasil menyatakan suatu hipotesis atau teori yang tidak bisa dilakukan oleh ilmuwan Yunani dan Romawi kuno pada masa Aristoteles masih hidup.

Melalui bidang ilmu kimia, Ibnu Sina berhasil mengembangkan dan melanjutkan apa yang telah ditemukan oleh Jabir ibn Hayyan (Bapak Ilmu Kimia). Kemudian, keahliannya dalam memperlakukan logam renda menjadi logam mulia menggunakan teknologi canggih, menarik perhatian keahlian Ibnu Sina dalam bidang geologi.

Dalam tindakannya untuk mengobati pasien pun, Ibnu Sina pernah melakukan pendekatan dengan ilmu psikologi. Dilansir dari jurnal Heart Views dan diunggah di situs US National Library of Medicine National Institute, diceritakan bahwa seorang pangeran Persia mengalami malnutrisi dan depresi melancholia hingga membuatnya mengolah makan dan berdelusi bahwa dirinya seekor sapi.

Kemudian, Ibnu Sina memanggil seorang tukang sembelih dan membuat seolah-olah tukang sembelih tersebut hendak menyembelih sang pangeran.

"Sapi ini terlalu kurus dan tidak siap dipotong. Sapi harus diberi makan yang cukup supaya cukup sehat, gemuk, dan bisa disembelih," kata Ibnu Sina yang saat itu mendekati sang pangeran sambil membawa pisau seperti hendak menyembelih sapi.

Dalam cerita, sang pangeran pun menyegerakan diri untuk makan dan berakhir dengan kondisi yang sehat.



Simak Video "Menggapai Ketenangan Batin"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia