Konsulat Jenderal Republik Rakyat China Denpasar menggelar Rapat Koordinasi Keamanan Berwisata Bagi Wisatawan China di Tsinghua South East Asia Center Bali, Kura Kura Bali, Denpasar, Selasa (21/7/2026). Pertemuan tersebut membahas berbagai aspek keamanan seiring meningkatnya jumlah wisatawan asal China yang berkunjung ke Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wakil Konjen China di Denpasar, Zhu Yu, mengungkapkan jumlah wisatawan China yang datang ke Bali pada 2025 mencapai sekitar 540 ribu orang atau meningkat 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, sepanjang Januari hingga Mei 2026, kunjungan wisatawan China telah mencapai sekitar 243 ribu orang atau naik 11 persen secara tahunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Bali, jumlah kunjungan juga meningkat di Labuan Bajo, NTT. Lebih dari 58 ribu wisatawan China telah mengikuti wisata kapal pada 2025. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan 2024.
Hingga akhir Mei tahun ini, angkanya telah melampaui 35 ribu orang, setara dengan 60 persen dari total keseluruhan tahun lalu.
"Upaya perlindungan konsuler yang dilaksanakan oleh Konsulat Jenderal kami telah mencapai hasil yang positif," kata Zhu Yu.
Soroti Kecelakaan Lalu Lintas
Zhu memaparkan sejumlah kejadian juga kerap dialami wisatawan asal China saat berlibur di Bali maupun NTT, Pertama, dari potensi bahaya pada aspek keamanan lalu lintas.
Selama satu tahun terakhir telah terjadi 25 kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan 120 warga China. Salah satunya pada Agustus 2025 terjadi kecelakaan kapal di Pelabuhan Sanur yang merenggut dua nyawa wisatawan China.
"Yang paling serius adalah kecelakaan di bagian utara Provinsi Bali pada tanggal 14 November 2025. Ini merupakan kecelakaan lalu lintas paling fatal sejak Konsulat Jenderal kami didirikan, sekaligus kecelakaan lalu lintas dengan keterlibatan warga negara Tiongkok yang paling serius di Bali selama lebih dari sepuluh tahun terakhir," jelasnya.
Ia memberikan catatan kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan perhatian serius dengan melakukan pengecekan dan pengawasan terhadap pengemudi yang bekerja melebihi jam kerja serta kendaraan yang tidak terdaftar secara resmi.
Maraknya Aksi Pencopetan
Konjen China juga menyoroti meningkatnya kasus pencopetan terhadap wisatawan. Dalam satu tahun terakhir, Konjen China Denpasar menerima puluhan laporan permohonan bantuan kehilangan barang berharga.
"Mereka melaporkan kehilangan barang berharga seperti ponsel dan paspor akibat pencopetan dari sepeda motor yang melintas di kawasan Kuta, Jimbaran, Sanur, dan sekitarnya. Terdapat pula kasus perampasan kalung dan perhiasan yang dikenakan di leher oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor di depan hotel maupun restoran," bebernya.
Hal ini tidak hanya mengakibatkan kehilangan materil, tapi juga menyebabkan wisatawan terluka akibat jatuh. Konjen China melihat ada upaya dari pemerintah untuk memasang kamera pengawas di sejumlah titik destinasi wisata. Namun, praktik copet kerap terjadi di gang-gang kecil dekat penginapan wisatawan.
"Pelaku bergerak dengan kecepatan tinggi dan menutupi identitas secara ketat, sehingga tingkat penyelesaian kasus masih rendah dan pengembalian barang curian menjadi sangat sulit," katanya.
Fasilitas Keselamatan Dinilai Belum Merata
Selain persoalan kriminalitas, Zhu juga menilai peningkatan fasilitas dan langkah pendukung keamanan belum merata. Perlu adanya fasilitas peringatan dini potensi bahaya di kawasan pantai saat musim hujan. Sebab, pada Desember 2025 dan musim hujan awal tahun 2026 telah terjadi wisatawan tenggelam di pantai.
Zhu menyampaikan menurut pengakuan keluarga korban tidak ada peringatan dari pengelola bahwa kondisi pantai sedang dalam kondisi bahaya. Selain itu, fasilitas pertolongan pertama yang dimiliki pengelola pantai juga minim.
Soroti Pengawasan Akomodasi dan Pemandu Wisata
Konjen China juga menyoroti terkait pengawasan dan manajemen akomodasi yang masih longgar. Sebagai contoh kasus wisatawan asal China mengalami muntaber berujung meninggal dunia saat menginap di sebuah penginapan di Canggu, Bali.
"Kami juga menemukan bahwa restoran di penginapan tersebut tidak memiliki izin kesehatan resmi maupun dokumen perizinan usaha lainnya, serta kondisi kebersihan di penginapan sangat buruk sehingga berisiko tinggi menularkan penyakit," ungkap Zhu.
Selain di Bali, ditemukan juga empat wisatawan China ketika mendaki Gunung Rinjani di NTB ternyata dipandu oleh pemandu yang tidak memiliki izin resmi.
"Hal ini hampir mengancam keselamatan nyawa mereka. Hingga kini, instansi terkait belum menjatuhkan sanksi kepada pemandu maupun travel agent yang menaunginya, serta belum mengarahkan pelaksanaan perbaikan," ujarnya.
Oleh sebab itu, Konjen China Denpasar memohon agar para instansi terkait memperhatikan kembali persoalan-persoalan tersebut, agar dapat menjadikan Bali, NTB, dan NTT sebagai daerah yang nyaman dan aman bagi wisatawan khususnya China.
"Kami berharap dapat terus bekerja sama dengan sungguh-sungguh dan saling mendukung, demi menciptakan lingkungan pariwisata yang kondusif di ketiga provinsi wilayah konsuler kami, mempererat hubungan antar manusia antara Tiongkok dan Indonesia, serta turut membangun komunitas senasib sepenanggungan kedua negara," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Konjen China Zhang Zhisheng menambahkan keselamatan adalah pondasi utama bagi sebuah daerah pariwisata. Tanpa jaminan itu, tidak mungkin tercapai pembangunan pariwisata yang berkualitas tinggi.
"Pemerintah Tiongkok senantiasa memperhatikan keselamatan warga negaranya di luar negeri, berpegang teguh pada prinsip mengutamakan rakyat dan mengutamakan keselamatan jiwa," imbuhnya.
(nor/nor)