Menilik Sejarah Patung Buddha Tidur di Vihara Dharma Giri Pupuan

Chairul Amri Simabur - detikBali
Senin, 16 Mei 2022 20:26 WIB
Patung Buddha Tidur di Vihara Dharma Giri, Kecamatan Pupuan saat difoto dari depan.
Patung Buddha Tidur di Vihara Dharma Giri, Kecamatan Pupuan saat difoto dari depan. (Foto: Chairul Amri Simabur )
Tabanan -

Di balik kemegahan dan keindahan patung Buddha Tidur, ikon Vihara Dharma Giri di Kecamatan Pupuan, ternyata ada proses pembuatan yang relatif lama. Ketelitian menjadi pertimbangan utamanya.

Ini sama seperti pendirian bangunan lainnya di komplek vihara yang ada di pinggir jalan utama Pupuan-Singaraja. Bahkan, Patung Buddha Tidur di vihara ini sampai dua kali dibangun.

Seperti diungkapkan Ketua Vihara Dharma Giri, I Ketut Ariana, saat dijumpai di sela-sela perayaan hari Trisuci Waisak, Senin (16/5/2022).

"Dua kali dibangun. Karena proporsi patung pertama yang dibangun pada 2010 tidak cocok sehingga dibongkar. Pembangunan yang kedua, baru cocok proporsinya," jelasnya.

Ia menyebutkan, referensi patung yang juga disebut Reclining Buddha ini mengacu patung serupa yang ada di Candi Mendut di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

"Bukan Thailand. Karena style yang di Thailand dari segi proporsi berbeda. Kami pakai referensi yang ada di Indonesia saja. Yang ada di Candi Mendut," ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan patung Buddha Tidur semula bukan untuk tujuan wisata seperti sekarang.

Di awal, pihak yayasan berkonsentrasi untuk menata lahan di sisi kanan Dharmasala atau pusat utama aktivitas keagamaan umat Buddha. "Kebetulan lahannya waktu itu miring. Dipakai untuk kebun. Kadang ditanami cabai," ujar Ketut Ariana.

Justru ikon utama vihara kala itu adalah tugu Raja Ashoka yang tuntas dibangun pada 2007 silam lengkap dengan pesan keberagaman yang diabadikan dalam bentuk prasasti.

Tugu itu selesai dibangun bertepatan dengan ulang tahun keberadaan Vihata Dharma Giri yang kesepuluh.

Baru pada 2010, pihak yayasan baru berpikir untuk melakukan penataaan lahan sekitar. Salah satunya di lahan yang semula difungsikan sebagai kebun itu.

Pihak yayasan kala itu memutuskan untuk membangun gedung bertingkat. Bagian gedung paling bawah difungsikan sebagai kantor pengurus vihara dan tempat penjualan altar atau rupang.



"Lantai duanya ada kuti, tempat istirahat bagi mereka yang mengikuti latihan meditasi. Sehingga areal vihara tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga menjadi tempat praktik dhama, meditasi, dan latihan atthasilani (displin moral yang dianjurkan Sang Buddha)," bebernya.

Setelah semuanya rampung pada 2010, barulah terpikirkan untuk menata lantai paling atas yang kini menjadi semacam anjungan tempat keberadaan patung Buddha Tidur berwarna putih.

Menurut Ariana, saat itu patung Buddha Tidur belum juga terlintas akan dibangun. Justru yang terpikirkan patung Buddha dalam posisi bersila dengan beberapa mudra atau gerak tangan.

"Tetapi dalam posisi bersila terlalu tinggi. Kami khawatir pondasi di bawahnya tidak kuat. Sehingga barulah terpikirkan untuk membangun patung Buddha Tidur. Itupun kami sesuaikan dengan kekuatan struktur bangunan di bawahnya," tuturnya.

Ia menyebutkan, dimensi patung itu memiliki panjang kurang lebih 15 meter dan tinggi sekitar tiga meter.

"Umumnya, Buddha Gautama dalam kondisi demikian (tidur) akan meninjau ke beberapa alam dan melihat siapapun yang memiliki karma baik dan matang untuk dibimbing dan diberikan pencerahan," jelasnya.

Ariana menambahkan, awalnya keberadaan patung Buddha Tidur tidak ditujukan untuk objek wisata. Pelataran yang ada di depannya lebih banyak dipakai untuk tempat meditasi.

Namun seiring berkembangnya waktu, keberadaan patung ini justru menarik minat banyak orang untuk berkunjung ke Vihara Dharma Giri. Sehingga lambat laun, patung tersebut menjadi ikon wisata religi yang kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun asing.

"Semula memang tidak ada tiket atau apapun. Kalaupun ada donasi itupun sukarela. Pengunjung mesti mengisi buku tamu. Kemudian bila berkenan memberikan donasi. Itu untuk memelihara kebersihan dan kesucian areal vihara," jelasnya.

Karena patung Buddha Tidur masih di seputar Dharmasala, tentu ada etikanya untuk berkunjung ke sana. Di antaranya, pengunjung yang datang tidak diperkenankan mengenakan celana pendek. Mereka yang bercelana pendek dianjurkan untuk memakai kamen.

Selain itu, pengunjung juga mesti melepas alas kaki yang dikenakan saat memasuki pelataran patung Buddha Tidur. Demikian juga pada beberapa bangunan lainnya, seperti kuil kecil tempat lonceng yang ada di seberang patung Buddha Tidur. Apalagi saat memasuki Dharmasala.

"Di waktu-waktu tertentu, kami juga akan menutup vihara bagi pengunjung. Bila ada kegiatan meditasi, atthasilani, dan kegiatan rohani yang memerlukan ketenangan. Biasanya kami akan memberikan pemberitahuan di pintu masuk vihara," pungkasnya. (*)




Simak Video "Prosesi Penyakralan Api Dharma di Candi Mendut"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)