Pelatih Bali United, Johnny Jansen, menilai kartu merah yang diterima Kadek Arel Priyatna saat menghadapi Java United tidak tepat. Meski demikian, Jansen meminta bek muda berusia 21 tahun itu menjadikan insiden tersebut sebagai pembelajaran, setelah Komite Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi larangan bermain satu pertandingan dan denda Rp 10 juta.
"Saya melihat itu bukan kartu merah," kata Johnny Jansen, Jumat (23/10/2026).
Arel mendapat kartu merah langsung saat Bali United menghadapi Java United pada pekan kelima Super League 2026/2027 di Stadion Jatidiri, Semarang. Berdasarkan hasil sidang pada 19 Oktober 2026, Komdis PSSI menyatakan Arel bersalah karena menghalangi dan melanggar pemain lawan yang hendak mencetak gol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jansen menilai tindakan Arel merupakan respons terhadap pergerakan lawan, bukan upaya yang disengaja untuk menjatuhkannya. Namun, pelatih asal Belanda itu tetap meminta Arel mengambil pelajaran dari insiden tersebut agar lebih matang dalam menghadapi situasi serupa.
"Arel harus belajar dari pengalaman ini. Dia adalah pemain muda yang bertalenta dan pemain masa depan bagi Bali United. Umurnya masih muda 21 tahun," tegasnya.
Sanksi larangan bermain satu pertandingan dari Komdis PSSI telah dijalani Arel saat Bali United menghadapi Garudayaksa FC di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Rabu (21/10). Dalam pertandingan tersebut, Serdadu Tridatu menang telak dengan skor 5-0.
Kadek Arel pun berpeluang kembali memperkuat Bali United saat menghadapi Persita Tangerang dalam laga tandang pada Minggu (25/10/2026). Meski sudah menjalani hukuman larangan bermain, ia tetap harus membayar denda Rp 10 juta akibat insiden kartu merah tersebut.
Bagi Jansen, kejadian itu menjadi pengalaman penting bagi perkembangan karier Arel. Sebagai pemain muda yang diproyeksikan menjadi bagian penting masa depan Bali United, Arel dituntut menjaga kedisiplinan dan mengambil keputusan yang lebih tepat ketika menghadapi tekanan di lapangan.