Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilanda kemarau panjang. Kemarau panjang telah menyebabkan air sungai menyusut dan suhu udara menembus 37°C.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mataram, Budi Wartono, mengatakan debit sungai menyusut antara 30 sentimeter (cm) ke atas.
"Karena dari sumbernya di hulu berkurang, tinggi air yang sungai yang tadinya 1 meter kini berkurang jadi 75 cm sampai 60 cm," kata Budi saat dikonfirmasi, Senin (19/10/2026).
Selain sungai menyebabkan aliran sungai menyusut, kemarau panjang juga menyebabkan suhu udara ekstrem di Mataram. Catatan BPBD Mataram, suhu di sana sempat menembus 37 derajat Celsius.
"Prakiraan BMKG, potensi curah hujan di Mataram diprediksi akan mulai terjadi memasuki minggu ketiga di bulan November. Penurunan hujan ini diharapkan dapat segera memulihkan debit air hulu dan menormalkan kembali aliran sungai di Mataram," harap Budi.
Budi memastikan kondisi masih relatif terkendali meski terjadi kemarau panjang. Dia mengeklaim tidak ada gagal tanam maupun gagal panen akibat kemarau panjang. Dampak musim kemarau di Mataram dinilainya lebih terkendali jika dibandingkan kabupaten/kota lain di NTB.
"Dari para petani kita di Mataram, (mereka) masih bisa melakukan proses menanam dan memanen secara normal. Selain itu, kami juga belum mendapat satu pun laporan terkait sumur warga yang mengalami kekeringan," ungkap Budi.
Simak Video "Video: Antisipasi El Nino, Pramono Prioritaskan Ketahanan Pangan-Pencegahan ISPA"
(iws/iws)