Ekosistem kawasan Taman Nasional (TN) Tambora, Nusa Tenggara Barat (NTB), diklaim tidak mengalami kerusakan parah meski dilanda kebakaran besar. Kebakaran di TN Tambora terjadi secara berturut-turut sepanjang musim kemarau 2026.
Balai TN Tambora mengeklaim kerusakan akibat kebakaran yang melalap area sekitar 22 ribu hektare (ha) itu hanya terjadi pada sabana. Tidak ada satwa yang dilindungi yang terdampak kebakaran.
"Untuk keanekaragaman hayati yang terdampak belum ditemukan adanya dampak yang serius. Hal ini dikarenakan dominasi kejadian kebakaran berada di tipe ekosistem sabana yang didalamnya terdiri dari berbagai jenis tumbuhan bawah seperti rumput dan sebagainya" kata Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry, Minggu (11/10/2026).
Jenis pohon di tipe ekosistem sabana juga tidak ditemukan adanya kerusakan yang tinggi. Pasalnya, pada kawasan sabana, hanya terdiri dari jenis-jenis tumbuhan yang memiliki tingkat kerentanan terhadap api yang rendah.
Rusa timor adalah salah satu satwa yang dilindungi pada kawasan TN Tambora. Spesies itu terdampak secara tidak langsung akibat dari kejadian kebakaran karena keberadaannya akan mudah diketahui oleh para pemburu liar.
"Habitat Rusa timor dapat dipastikan merupakan akibat dari perburuan liar. Sehingga pada bekas bekas areal terbakar, rusa timor lebih rentan terhadap perburuan liar," tutur Abdul.
Abdul Azis mengatakan kebakaran sabana TN Tambora justru menjadi berkah karena menghanguskan bibit tanaman Sareo yang tumbuh liar, seperti pada jalur pintu masuk Kadondo Resor Oi Katupa. Tanaman ini dapat mengancam kondisi landscape sabana jika dibiarkan tumbuh kembang.
"Pada tahun 2024, di lokasi ini ekosistem sabana ditumbuhi oleh banyak bibit tanaman Sareo. Kondisi ini hampir menyelimuti keseluruhan ekosistem savana dan mengancam kondisi landscape sabana, tetapi kebakaran menjadi suksesi alami agar ekosistem ini tetap terjaga," tutur Abdul Azis.
Baca juga: Kebakaran Hutan di TN Tambora Terus Meluas |
Abdul Azis juga menegaskan TN Tambora tidak akan melakukan penanaman pohon pada area sabana bekas kebakaran. Menurutnya, kawasan sabana akan pulih dengan sendirinya dengan membiarkan alam yang bekerja pasca kebakaran.
"Suksesi alami adalah jalan terbaik dalam pemulihan ekosistem yang terjadi akibat kebakaran di sabana. Melakukan penanaman dapat mengganggu keseimbangan landscape dari ekosistem sabana juga kurang efektif karena ekosistem ini memiliki hara nutrisi yang lebih rendah dibanding ekosistem lain," jelas Abdul Azis.
Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
(hsa/hsa)