detikBali

Warga Tolak Rencana Proyek Energi Panas Bumi di Kawasan Gunung Rinjani

Terpopuler Koleksi Pilihan

Warga Tolak Rencana Proyek Energi Panas Bumi di Kawasan Gunung Rinjani


Sui Suadnyana, Sanusi Ardi - detikBali

Warga melakukan penolakan wacana proyek panas bumi di kawasan Gunung Rinjani. Mereka meneken petisi penolakan di TNGR, Minggu (4/10/2026) sore. (Sanusi Ardi/detikBali)
Foto: Warga melakukan penolakan wacana proyek panas bumi di kawasan Gunung Rinjani. Mereka meneken petisi penolakan di TNGR, Minggu (4/10/2026) sore. (Sanusi Ardi/detikBali)
Lombok Timur -

Masyarakat di lingkar Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menolak wacana pembangunan geothermal atau energi panas bumi. Mereka menilai proyek geothermal di Gunung Rinjani akan merusak lingkungan dan menyebabkan krisis air bersih.

Pantauan detikBali, puluhan masyarakat dari berbagai penjuru di Lombok Timur, khususnya lingkar Gunung Rinjani, menandatangani petisi penolakan rencana pembangunan energi listrik panas bumi di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Mereka juga mendiskusikan terkait dampak buruk yang ditimbulkan dari proyek tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB, Amri Nuryadin, menjelaskan belum ada kepastian terkait waktu pembangunan geothermal tersebut. Kendati demikian geotermal ini menurutnya berpotensi akan dibangun di kawasan Gunung Rinjani dan di Kecamatan Hu'u, Dompu.

"Yang sudah ini, terutama di Hu'u Dompu, itu yang sudah diorientasikan," kata Amri, Minggu (4/10/2026) sore.

ADVERTISEMENT

Menurut Amri, geotermal merupakan proyek yang sangat besar sehingga dampaknya perlu dipertimbangkan. Beberapa daerah yang telah dibangun proyek geothermal mengalami pencemaran air dan produktivitas pertanian menurun drastis

"Sementara di wilayah NTB, hari ini saja, itu produktivitas pertanian kita juga telah menurun drastis. Kemudian, lokasinya kalau di Rinjani, Rinjani ini adalah kawasan yang menopang air untuk Pulau Lombok. Kawasan hutannya maupun juga kawasan-kawasan esensial yang ada di situ. Sehingga akan berdampak serius terhadap ekologi yang ada," jelas Amri.

Sebenarnya, menurut Amri, banyak potensi energi baru terbarukan (EBT) selain geothermal di NTB, seperti energi listrik tenaga surya, pembangkit listrik tenaga air, dan pembangkit listrik tenaga angin.

"Ada banyak EBT yang kemudian itu dicatat oleh pemerintah melalui Rencana Umum Energi Daerah (RUED), tetapi tidak dimaksimalkan oleh daerah. Hanya dicatat saja, tetapi tidak kemudian mengimplementasikannya," imbuh Amri.

Walhi menilai geothermal bukan termasuk EBT karena bisa habis pada waktunya. Walhasil, bagi Walhi, geothermal bukan sebagai solusi energi yang berkelanjutan.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads