Wacana guru ikut mencicipi makanan sebelum menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dibagikan ke siswa mendapat penolakan dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram. Disdik menegaskan urusan mengecek kelayakan makanan bukan tugas guru, melainkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Disdik Mataram, Yusuf, mengatakan penolakan tersebut untuk melindungi tenaga pendidik agar tidak dibebani tugas di luar fungsi dan tupoksinya sebagai guru. Menurutnya, pengujian kualitas makanan bukan kompetensi dan tanggung jawab guru.
"Mencicipi bukan tugas guru. Itu tugas SPPG, dari pembelian, pengolahan sampai distribusi, itu tugas SPPG," kata Yusuf, Kamis (17/9/2026).
Yusuf menegaskan tugas utama guru ialah mendidik, mengajar, serta membentuk adab dan karakter siswa. Karena itu, guru tidak seharusnya dijadikan penguji kualitas makanan ataupun pengangkut ompreng MBG.
"Guru hanya bertugas mendidik, mengajar, bagaimana adab siswa terhadap guru, adab siswa terhadap orang tua. Itu tugas guru," tegas Yusuf.
Yusuf menuturkan pengawasan makanan dalam program MBG sebaiknya dilakukan SPPG dengan memberdayakan guru honorer di sekolah-sekolah, tentunya dengan dukungan insentif. Jika nantinya pihak sekolah harus melakukan pemeriksaan makanan, guru cukup melakukan pengawasan secara visual dan sensorik, bukan mencicipi makanan secara langsung.
"Ya mencium saja, kalau bau sudah ada, lihat kasat mata, pakai panca indra saja. Kalau itu sudah tidak layak, nggak usah dibagikan," ungkapnya.
Wacana tersebut mencuat setelah sebanyak 352 siswa di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, diduga menjadi korban keracunan setelah menyantap menu MBG. Badan Gizi Nasional (BGN) pun meminta maaf atas kejadian tersebut.
Kepala Regional (Kareg) BGN NTB, Eko Prasetyo, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat atas keteledoran pihaknya.
"Pertama-tama kami perlu menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini, permohonan maaf kepada adik-adik, anak-anak kita yang terdampak, termasuk para keluarga/wali murid, dan pihak sekolah," kata Eko kepada detikBali melalui keterangan resminya, sebelumnya.
BGN juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penanganan para korban. Eko mengatakan peristiwa tersebut akan menjadi bahan evaluasi ke depannya.
Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan MBG Lombok Tengah memastikan 352 korban keracunan telah mendapatkan penanganan. Meski begitu, Satgas tersebut belum dapat menjelaskan secara detail penyebab keracunan.
"Kami belum bisa laporkan lebih banyak. Sebagian besar (siswa) sudah pulang, ini saya mau pastikan dulu berapa yang masih tersisa dan memastikan penanganan dulu," ujar Ketua Satgas MBG Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, Jumat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun detikBali, ratusan siswa di Lombok Tengah diduga keracunan setelah menyantap menu MBG berisi kulit kebab, buah salak, ayam suwir, nugget, salad selada, dan mentimun. Seluruh sampel makanan tersebut telah diamankan polisi.
Simak Video "Video Prabowo: Anak-anak Harus Dapat Pendidikan yang Baik, MBG Saja Tak Cukup"
(dpw/dpw)