Ruas Jalan Maunori-Nangaroro, Desa Mbaenuamuri, Kecamatan Keo Tengah, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tertimbun material longsor setelah gempa bumi magnitudo 7,7. Akibatnya, akses transportasi tersendat.
"Iya batu berukuran besar dengan tinggi sekitar dua meter masih ada di tengah jalan sehingga mobilitas tersendat," ujar salah satu warga setempat, Kristoforus Kese, kepada detikBali, Jumat (11/9/2026).
Pria berusia 32 tahun itu menjelaskan ruas jalan itu tertimbun batu dan material longsor lain saat gempa pada Sabtu (15/8/2026). Hingga saat ini, belum dibersihkan oleh pemerintah.
Hal itu mengakibatkan warga tujuh desa di pesisir selatan Nagekeo, seperti Desa Mbaenuamuri, Desa Udiworowatu, Desa Kotodirumali, Desa Kotowuji Timur, Desa Kotowuji Barat, dan Desa Keli, masih kesulitan melintasi jalan tersebut.
"Kami semua ada tujuh desa yang terdampak. Transportasi sangat terhambat," jelas Kris sapaan Kristoforus.
Menurut Kris, kondisi tersebut membuat warga sangat kesulitan ketika menggunakan kendaraan dan mengganggu perekonomian warga saat hendak ke Pasar Maunori serta pengurusan administrasi di Kantor Camat Keo Tengah. Jalan tersebut merupakan salah satu akses vital menuju ke Mbay, Ibu Kota Nagekeo, termasuk ke Ende.
"Kami terpaksa memilih lewat luar jalur alternatif lain yang ada di sebelah bawahnya, tetapi itu hanya bisa satu jalur saja dan agak rawan juga," terang Kris.
Kris mengaku warga merasa tidak nyaman dan takut melewati jalan tersebut karena tebing bekas longsor masih banyak material batu. Mereka berharap ada perhatian serius dari pemerintah agar jalan tersebut dan ruas-ruas jalan lain di sekitar Kecamatan Keo Tengah segera dibersihkan.
"Bukan hanya di bagian utara Pulau Flores yang rusak akibat gempa, tetapi sejumlah rumah warga di bagian selatan juga rusak parah," kata Kris.
Simak Video "Video Basarnas: Total Korban Meninggal Gempa NTT Jadi 51 Orang"
(hsa/hsa)