Gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya merusak bangunan dan fasilitas masyarakat. Bencana itu juga meninggalkan tekanan psikologis, terutama bagi anak-anak yang kini harus menjalani hari-hari di pengungsian.
Di tengah proses pemulihan tersebut, anggota Satbrimob Polda Jatim turun memberikan pendampingan psikososial. Trauma healing digelar untuk membantu anak-anak korban gempa NTT mengurangi kecemasan sekaligus mengembalikan keceriaan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana di sejumlah posko pengungsian dibuat lebih cair. Personel Satbrimob Polda Jatim membaur bersama anak-anak melalui permainan, bernyanyi, berinteraksi hingga berbagai aktivitas edukatif yang menyenangkan.
Pendekatan humanis menjadi cara personel mendampingi anak-anak di tengah situasi pascabencana. Perhatian dan hiburan diberikan untuk menciptakan kembali rasa aman selama mereka berada di pengungsian.
Perlahan, suasana pun berubah. Anak-anak yang sebelumnya terlihat murung dan diliputi kecemasan mulai tersenyum dan tertawa saat mengikuti kegiatan.
Bagi Satbrimob Polda Jatim, pengabdian dalam penanganan bencana tidak berhenti pada aspek keamanan. Kehadiran personel juga diarahkan untuk membantu masyarakat melewati masa sulit setelah gempa. Melalui trauma healing anak korban gempa, personel berupaya menekan rasa takut dan trauma sekaligus menumbuhkan kembali semangat serta kepercayaan diri anak-anak.
Keceriaan mereka menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Senyum yang mulai muncul dan tawa yang kembali terdengar menjadi gambaran anak-anak perlahan beradaptasi setelah menghadapi pengalaman traumatis akibat bencana.
Pendampingan kemanusiaan tersebut akan terus dilakukan selama masyarakat masih menjalani proses pemulihan pascabencana. Satbrimob Polda Jatim memastikan personelnya tetap hadir bersama masyarakat NTT, baik untuk memberikan dukungan maupun pelayanan kemanusiaan yang dibutuhkan para penyintas.