detikBali

Waspada September! NTT Diwarnai Ancaman Tanah Bergerak hingga Longsor

Terpopuler Koleksi Pilihan

Waspada September! NTT Diwarnai Ancaman Tanah Bergerak hingga Longsor


Yurgo Purab - detikBali

Dampak gempa susulan membuat jalan aspal retak di Manggarai Timur, NTT, Kamis (20/8/2026). (Istimewa)
Foto: Dampak gempa susulan membuat jalan aspal retak di Manggarai Timur, NTT, Kamis (20/8/2026). (Istimewa)
Kupang -

Badan Geologi mengingatkan adanya potensi tanah bergerak di sejumlah wilayah Indonesia pada September 2026. Termasuk di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan pemetaan potensi tanah bergerak dilakukan berdasarkan hasil tumpang susun atau overlay antara peta kerentanan gerakan tanah Badan Geologi dan prakiraan curah hujan bulanan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peta potensi terjadi gerakan tanah ini masih bersifat regional, serta tabel informasi potensi terjadi gerakan tanah masih sebatas tingkat kecamatan. Namun demikian peta potensi ini dapat digunakan sebagai langkah awal mitigasi bencana gerakan tanah dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat," ujar Siti dalam keterangan resmi yang diterima detikBali, Jumat (21/8/2026).

Menurut Siti, peta potensi tanah bergerak dapat berubah setiap bulan karena sangat bergantung pada prakiraan curah hujan. NTT menjadi salah satu provinsi yang masuk dalam daftar wilayah dengan potensi tanah bergerak tinggi pada September 2026. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya di wilayah yang memiliki lereng curam dan rawan longsor.

ADVERTISEMENT

NTT menjadi salah satu provinsi yang masuk dalam daftar wilayah dengan potensi tanah bergerak tinggi pada September 2026. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya di wilayah yang memiliki lereng curam dan rawan longsor.

Flores Timur Masuk Potensi Menengah hingga Menengah-Tinggi

Di Kabupaten Flores Timur, sejumlah kecamatan masuk kategori potensi tanah bergerak menengah. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Adonara, Adonara Barat, Adonara Timur, Kelubagolit, Solor Barat, Solor Selatan, Solor Timur, Tanjung Bunga, Titehena, Witihama, dan Wotan Ulumado.

Sementara itu, dua kecamatan masuk kategori potensi tanah bergerak menengah-tinggi, yakni Kecamatan Ile Buran dan Wulanggitang.

Masyarakat di wilayah tersebut diminta lebih waspada ketika hujan deras mengguyur, terutama jika berlangsung dalam waktu lama. Potensi tanah bergerak juga dapat memicu longsor maupun banjir bandang atau aliran bahan rombakan.

7 Kecamatan di Lembata Masuk Potensi Menengah

Selain Flores Timur, sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata juga masuk dalam pemetaan potensi tanah bergerak.

Kecamatan Atadei, Buyasari, Ile Ape, Naga Wutung, Nubatukan, Omesuri, dan Wulandoni masuk kategori potensi tanah bergerak menengah.

Masyarakat diminta tidak mengabaikan kondisi lingkungan ketika hujan deras terjadi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghindari aktivitas di bawah atau pada lereng yang curam.

Kenali Tanda-tanda Tanah Bergerak

Siti mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal terjadinya tanah bergerak. Di antaranya muncul mata air baru atau air berubah keruh secara tiba-tiba, terbentuk pembendungan alami sungai akibat longsoran, serta muncul retakan pada tanah.

Tanda lainnya yakni tiang listrik atau pohon yang mulai miring ke arah lereng. "Jika ditemukan tanda-tanda tanah bergerak tersebut agar segera berkoordinasi dengan instansi terkait," tegas Siti.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pemotongan lereng terlalu tegak serta menghindari aktivitas di area bawah maupun lereng yang curam sebagai langkah antisipasi.

Selain wilayah NTT, wilayah yang berpotensi mengalami tanah bergerak tinggi yaitu Aceh, Bengkulu, Jambi, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat.

"Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua Selatan," imbuhnya.

Siti mengimbau wilayah-wilayah tersebut agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi terjadinya gerakan tanah dan banjir bandang/aliran bahan rombakan. Terutama pada saat terjadi hujan deras atau hujan yang berlangsung dalam waktu lama.

"Beberapa hal yang harus dilakukan dalam rangka kesiapsiagaan ini adalah tidak melakukan pemotongan lereng terlalu tegak, menghindari aktivitas di bawah atau pada lereng yang curam, " pungkasnya.



(nor/nor)











Hide Ads