Jumlah bangunan rusak di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), akibat gempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Pulau Flores, bertambah. Pendataan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Bima, ada tiga rumah rusak dan kantor desa retak.
"Berdasarkan pendataan terkini, ada tiga unit rumah warga yang rusak dan ditambah Kantor Camat Lambitu yang retak sepanjang 3 meter pada dinding tembok aula," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda, saat dikonfirmasi detikBali, Sabtu (15/8/2026).
Tiga rumah warga yang rusak akibat guncangan gempa terdiri atas satu rumah panggung milik M Saleh, warga Desa Soro, Kecamatan Lambu; satu rumah batu milik M Nasir, warga Desa Rabakodo, Kecamatan Woha; dan satu rumah batu milik Mustamin, warga Desa Tolotangga, Kecamatan Monta.
"Dua rumah langsung roboh. Satu rumahnya lainnya hanya rusak pada dapur saja," terang Nurul Huda.
Nurul Huda menambahkan dampak kerusakan di wilayah Kabupaten Bima akibat gempa sudah diteruskan atau dikoordinasikan ke beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) teknis terkait. Kerusakan akan ditangani berdasarkan tupoksi dan kewenangan masing-masing.
"Sudah kami laporkan juga ke BPBD provinsi dan BNPB. Kami minta warga yang terdampak gempa agar segera melapor diri ke pemerintah desa, kecamatan atau BPBD," terang Nurul Huda.
Selain itu, Nurul Huda meminta warga untuk tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa. Warga diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
"Pastikan semua informasi berkaitan dengan gempa berasal dari pemerintah atau sumber resmi salah satunya BMKG yang disebarkan melalui kanal resmi yang telah terverifikasi," pinta Nurul Huda.
Simak Video "Menjelajahi Desa Pengumpul Madu Hutan di Sumbawa"
(iws/iws)