detikBali

Investasi NTB Tembus Rp 33,73 Triliun, Sektor ESDM Masih Mendominasi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Investasi NTB Tembus Rp 33,73 Triliun, Sektor ESDM Masih Mendominasi


Ahmad Viqi - detikBali

Jajaran Kepala Dinas Pemrov NTB didampingi oleh Ketua TP PKK NTB Sinta Agathia saat konferensi pers capaian investasi NTB pada Semester I 2026 di Bale Kita, Kamis (6/8/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Foto: Jajaran Kepala Dinas Pemrov NTB didampingi oleh Ketua TP PKK NTB Sinta Agathia saat konferensi pers capaian investasi NTB pada Semester I 2026 di Bale Kita, Kamis (6/8/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Mataram -

Realisasi investasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai Rp 33,73 triliun sepanjang Semester I 2026. Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menjadi penyumbang terbesar dengan porsi sekitar 79 persen dari total investasi yang masuk.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB Irnadi Kusuma mengungkapkan realisasi investasi pada Triwulan I sebesar Rp 18,07 triliun dan pada Triwulan II (periode April-Juni) sebesar Rp 15,17 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Irnadi, capaian ini mencerminkan iklim investasi di NTB terus tumbuh secara berkelanjutan, baik dari sektor Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Tangan Asing (PMA).

"Secara akumulatif di Semester I tahun 2026 ini kita sudah mengantongi realisasi sebesar Rp 33,73 triliun. Untuk Triwulan II saja, realisasi investasi Non-UMKM kita menyentuh angka Rp 15,166 triliun," ujar Irnadi saat konferensi pers capaian investasi NTB di Bale Kita, Kamis (6/8/2026).

ADVERTISEMENT

Irnadi menyebut, data DPMPTSP NTB pada Triwulan II 2026 untuk investasi PMDN capai 81,85 persen atau senilai Rp 12,414 triliun. Sementara untuk sektor PMA menyumbang 18,15 persen atau sebesar Rp 2,725 triliun.

Dia menjelaskan, sektor ESDM masih menjadi pendorong utama realisasi investasi di NTB. Pada Triwulan II 2026 saja, sektor ESDM mencatatkan realisasi investasi hingga Rp 11,977 triliun atau 79 persen.

Di posisi kedua, beber Irnadi, sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyumbang angka Rp 1,095 triliun atau 7,2 persen disusul oleh sektor Perindustrian sebesar Rp 722,27 miliar atau 4,8 persen, kemudian Perdagangan Rp 390,19 miliar atau 2,6 persen dan, PUPR sebesar 245,90 miliar atau 1,6 persen.

"Sektor ESDM masih mendominasi baik di PMDN maupun PMA. Di PMDN, ESDM mencatat nilai Rp 10,29 triliun, sedangkan di PMA mencapai Rp 1,68 triliun. Sektor pariwisata juga terus berkembang pesat, khususnya dari investasi asing yang masuk ke Lombok Tengah dan lokasi potensial lainnya," jelasnya.

Dari segi pemetaan wilayah, Kabupaten Sumbawa Barat menjadi daerah penerima realisasi investasi terbesar di NTB pada Triwulan II 2026 dengan total mencapai Rp 11,444 triliun. Posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Dompu dengan nilai Rp 1,593 triliun, diikuti Kabupaten Lombok Tengah sebesar Rp 616,26 miliar.

Sementara itu, untuk PMA, negara asal investor terbesar disumbang oleh konsorsium gabungan beberapa negara sebesar USD 136,64 juta atau setara Rp 2,254 triliun, disusul oleh Spanyol dengan investasi USD 6,26 juta setara Rp 103,28 miliar, dan Australia sebesar USD 4,7 juta atau Rp 77,98 miliar.

"Selain kelompok usaha besar, sektor UMKM di NTB juga mencatatkan pertumbuhan pesat di Semester I ini dengan realisasi investasi mencapai Rp 496,67 miliar," ucap Irnadi.

Menurut dia, angka investasi UMKM mengalami kenaikan tajam sebesar 22,28 persen dibandingkan dengan realisasi investasi Semester I tahun 2025 sebesar Rp 406,19 miliar.

"Pertumbuhan investasi UMKM naik lebih dari 22 persen secara. Ini bukti kalau sistem izin berusaha berbasis risiko (OSS) mampu memicu gairah berusaha di tingkat akar rumput," tambahnya.

Irnadi menegaskan bahwa Pemprov NTB terus berkomitmen memberikan kemudahan perizinan serta perlindungan bagi para pelaku usaha kecil melalui implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2021. Dengan begitu, Pemprov NTB sendiri optimistis mencapai target realisasi investasi tahun 2026 yang ditetapkan oleh BKPM sebesar Rp 64,83 triliun.

"Jadi, kami sudah melebihi target di Triwulan II ini, artinya kita sudah mencapai angka 51 persen, dan kita punya waktu 2-3 bulan lagi," katanya.

Sektor paling menarik bagi Irnadi, dari sektor UMKM memiliki daya dorong yang kuat untuk menumbuhkan iklim investasi di NTB. Dia pun menargetkan, investasi sektor UMKM bisa mencapai Rp 1 triliun.

"Sekarang sudah mencapai angka Rp 400-an miliar. Artinya kita optimis. Jadi target kita di RPJMD sebesar Rp 68,43 triliun dapat tercapai secara maksimal hingga akhir tahun nanti," tandas Irnadi.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads