detikBali
Round Up

Bencana Lingkungan di Pulau Semau, 6 Ton Oli Cemari 8 Desa

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Bencana Lingkungan di Pulau Semau, 6 Ton Oli Cemari 8 Desa


Tim detikBali - detikBali

Penampakan tumpahan oli di perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, NTT. (Istimewa).
Foto: Penampakan tumpahan oli di perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, NTT. (Istimewa).
Kupang -

Bencana lingkungan terjadi di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekitar enam ton oli mencemari wilayah perairan dan pesisir delapan desa di pulau tersebut. Yakni, Desa Huilelot, Onansila, Letbaun, Uiasa, Hansisi, Uitiuh Ana, Akle dan Desa Naikean.

"Hingga saat ini, sekitar lima hingga enam ton tumpahan minyak telah berhasil diamankan dari area terdampak," ujar Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Irwan Deffi Nasution, kepada detikBali, Minggu (2/8/2026).

Irwan menjelaskan tumpahan oli hingga enam ton itu terungkap setelah polisi bersama petani rumput laut membersihkan wilayah pesisir yang terdampak pada beberapa hari terakhir. Pembersihan itu di kawasan Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo hingga Pulau Kambing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Irwan, saat ini Ditpolairud Polda NTT terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Semau, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta instansi terkait lain guna memastikan langkah penanganan berjalan optimal.

ADVERTISEMENT

Selain itu, penyisiran melalui jalur laut dan darat terus dilakukan untuk memantau kemungkinan adanya sebaran minyak di wilayah pesisir lainnya.

"Kami bersama instansi terkait akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan di lapangan. Penyisiran lanjutan akan dilakukan pada titik-titik pesisir yang berpotensi terdampak guna memastikan proses pembersihan berjalan efektif," jelas Irwan.

Kontraktor Investigasi Kebocoran

Saat ini, Irwan berujar, kontraktor masih melakukan investigasi teknis untuk memastikan sumber pasti kebocoran Marine Fuel Oil (MFO), sembari melanjutkan mitigasi dan pembersihan untuk meminimalkan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Kemudian, dalam upaya penanganan bangkai kapal tersebut, PT Nusantara Salvage Indonesia selaku pihak yang terlibat dalam pengerjaan pengangkatan bangkai kapal telah menambah armada penanganan dari dua menjadi empat unit perahu.

Selain itu, dilakukan pemasangan oil boom, penggunaan oil absorbent pads, penyemprotan oil dispersant, serta penyedotan minyak yang terperangkap di sekitar lokasi kejadian.

"Saya pastikan akan terus mengawal proses penanganan kejadian tersebut hingga kondisi perairan kembali normal dan aman bagi masyarakat maupun ekosistem laut di kawasan Semau," tegas Irwan.

Dirpolairud Polda NTT juga mengimbau masyarakat pesisir agar tetap tenang dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan sisa-sisa tumpahan minyak di wilayah pantai maupun perairan sekitar. "Segera laporkan agar segera dilakukan penanganan berupa pembersihan," pungkas Irwan.

Berasal dari Bangkai KM Kuala Emas

Ditpolairud Polda NTT mengungkap tumpahan oli yang mencemari perairan Pulau Semau berasal dari bangkai kapal KM Kuala Emas. Polisi telah mengumpulkan bahan keterangan (pulbaket) terkait dampak yang mencemari laut di wilayah tersebut.

"Itu berasal dari proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas," ujar Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Irwan Deffi Nasution, kepada detikBali, Minggu.

Irwan mengatakan tumpahan oli tersebut berdampak pada sejumlah wilayah pesisir di Kecamatan Semau. Termasuk di antaranya Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, dan Batuinan.

"Begitu menerima informasi terkait dugaan pencemaran laut, personel Ditpolairud langsung melakukan pengecekan dan koordinasi dengan seluruh pihak untuk memastikan sumber kejadian, dampak yang ditimbulkan, dan langkah-langkah penanganan harus segera dilakukan," jelas Irwan.

Menurut Irwan, tumpahan itu bermula saat proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas yang dilakukan oleh konsorsium pelaksana pekerjaan bawah air menggunakan Crane Barge Hong Bang 6. Ia menyebut proses pemotongan pada beberapa bagian kapal itu tak ada indikasi kebocoran.

Namun, saat dilakukan pemotongan pada bagian lambung kiri kapal di area antara Palka 2 dan Palka 3, terjadi kebocoran yang mengakibatkan keluarnya minyak yang diduga merupakan MFO. Hal itu terjadi pada Rabu (29/7/2026).

"Menurut penjelasan pihak kontraktor, lokasi kebocoran tersebut berada di luar perkiraan teknis karena area yang dipotong sebelumnya diperkirakan merupakan tangki balas kapal yang tidak dilalui jalur bahan bakar," tutur Irwan.

"Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak agar tidak berdampak lebih jauh terhadap lingkungan laut, aktivitas masyarakat pesisir, maupun ekosistem yang ada di wilayah Semau," sambungnya.

Petani Rumput Laut Terancam Gagal Panen

Tumpahan oli yang mencemari perairan Semau membuat para petani rumput laut dari delapan desa setempat terancam gagal panen. "Kami terancam gagal panen karena tumpahan oli mencemari laut, tempat kami budidaya rumput laut," ujar salah satu petani rumput laut, Erens Tihu, saat dihubungi detikBali, Minggu.

Erens menjelaskan tumpahan oli itu ditemukan di Pantai Katabak, Pantai Buatuan, dan Pantai Batu Hopong. Adapun delapan desa yang terdampak terdiri dari Desa Huilelot, Onansila, Letbaun, Uiasa, Hansisi, Uitiuh Ana, Akle, hingga Desa Naikean.

"Gumpalan minyak mengapung di permukaan air bahkan menempel pada tanaman rumput laut. Kami sangat khawatir akan terjadinya gagal panen dalam skala besar," jelas Erens.

Erens menuturkan pencemaran tersebut mulai dirasakan masyarakat sejak pekan ini. Pencemaran oli itu juga mengakibatkan warna air laut menjadi kehitaman di sejumlah titik dan mengeluarkan bau menyengat yang terbawa angin hingga ke kawasan permukiman.

Kondisi tersebut, Erens berujar, membuat para petani semakin cemas karena tanaman rumput laut yang sebelumnya tumbuh subur mulai menguning dan menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Masyarakat pesisir Semau sendiri menjadikan budidaya rumput laut sebagai sumber pendapatan utama.

"Sehingga pencemaran yang terjadi saat ini menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan ekonomi kami masyarakat," tutur pria asal Desa Huilelot itu.

Erens mengungkapkan saat ini sebagian petani sudah memasuki masa panen, sementara sebagian lainnya baru selesai menanam bibit. Namun kini, semuanya berada dalam ancaman kerugian besar.

"Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, kami bisa kehilangan seluruh hasil panen. Rumput laut menjadi kotor, kualitasnya turun, bahkan sulit dijual karena sudah tercemar oli," ungkap Erens.

Menurut Erens, selama beberapa bulan terakhir ini harga jual rumput laut mulai kembali menggeliat. Ia memerinci harga jual rumput laut kering mencapai Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram.

Selain itu, rata-rata setiap petani di Desa Huilelot memiliki sekitar 30 bentangan tali budidaya dengan panjang masing-masing sekitar 50 depa orang dewasa. Dalam kondisi normal, seluruh bentangan tersebut mampu menghasilkan sekitar 700- 800 kilogram rumput laut kering setiap kali panen.

Apabila dikalkulasikan dengan harga jual saat ini, nilai produksi yang dihasilkan setiap petani mencapai puluhan juta rupiah. Karena itu, kerusakan akibat pencemaran oli dipastikan akan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat.

"Kalau laut masih tercemar seperti sekarang, kami tidak tahu lagi berapa yang bisa dipanen. Banyak rumput laut yang pasti rusak," kata Erens.

Ia menduga pencemaran tersebut berkaitan dengan aktivitas pengangkatan bangkai kapal yang tenggelam di perairan Desa Bolok. Dugaan itu muncul karena lokasi pengangkatan kapal berada di jalur arus laut yang mengarah ke kawasan budidaya rumput laut di Pulau Semau.

"Kami menduga limbah oli berasal dari proses pengangkatan bangkai kapal di Bolok. Sekarang gumpalan oli sudah memenuhi pesisir dan terus menempel pada rumput laut kami," beber Erens.

Camat Semau, Morifali Yulius Enggelbert Mesakh, membenarkan adanya pencemaran oli di sejumlah wilayah pesisir Pulau Semau. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan wilayah terdampak akan terus bertambah apabila arus laut membawa lapisan oli ke pesisir lainnya.

"Iya betul dan tidak menutup kemungkinan oli itu terbawa arus laut dan menyebar ke seluruh pantai yang ada di Pulau Semau," kata Morifali.

Morifali menegaskan, pemerintah kecamatan telah mengambil langkah awal dan melaporkan kepada sejumlah instansi terkait kejadian tersebut.

"Kami juga berkoordinasi dengan Kecamatan Kupang Barat yang lebih dahulu melakukan penelusuran di wilayah perairan Desa Bolok," jelas Morifali.

Menurutnya, hingga kini sumber pasti pencemaran belum dapat dipastikan sehingga diperlukan investigasi menyeluruh oleh instansi yang berwenang.

"Kami sudah menyampaikan laporan secara lisan kepada instansi terkait. Kecamatan Kupang Barat juga sudah melakukan penelusuran di wilayah Bolok dan informasi tersebut telah diteruskan kepada instansi teknis untuk ditindaklanjuti," pungkas Morifali.



(hsa/hsa)











Hide Ads