Ditpolairud Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkap tumpahan oli yang mencemari perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, NTT, berasal dari bangkai kapal KM Kuala Emas. Polisi telah mengumpulkan bahan keterangan (pulbaket) terkait dampak yang mencemari laut di wilayah tersebut.
"Itu berasal dari proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas," ujar Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Irwan Deffi Nasution, kepada detikBali, Minggu (2/8/2026).
Irwan mengatakan tumpahan oli tersebut berdampak pada sejumlah wilayah pesisir di Kecamatan Semau. Termasuk di antaranya Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, dan Batuinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Begitu menerima informasi terkait dugaan pencemaran laut, personel Ditpolairud langsung melakukan pengecekan dan koordinasi dengan seluruh pihak untuk memastikan sumber kejadian, dampak yang ditimbulkan, dan langkah-langkah penanganan harus segera dilakukan," jelas Irwan.
Menurut Irwan, tumpahan itu bermula saat proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas yang dilakukan oleh konsorsium pelaksana pekerjaan bawah air menggunakan Crane Barge Hong Bang 6. Ia menyebut proses pemotongan pada beberapa bagian kapal itu tak ada indikasi kebocoran.
Namun, saat dilakukan pemotongan pada bagian lambung kiri kapal di area antara Palka 2 dan Palka 3, terjadi kebocoran yang mengakibatkan keluarnya minyak yang diduga merupakan Marine Fuel Oil (MFO). Hal itu terjadi pada Rabu (29/7/2026).
"Menurut penjelasan pihak kontraktor, lokasi kebocoran tersebut berada di luar perkiraan teknis karena area yang dipotong sebelumnya diperkirakan merupakan tangki balas kapal yang tidak dilalui jalur bahan bakar," tutur Irwan.
"Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak agar tidak berdampak lebih jauh terhadap lingkungan laut, aktivitas masyarakat pesisir, maupun ekosistem yang ada di wilayah Semau," sambungnya.
Diberitakan sebelumnya, tumpahan oli mencemari perairan Semau, Kabupaten Kupang, NTT, sejak beberapa hari terakhir. Hal tersebut membuat para petani rumput laut dari delapan desa setempat terancam gagal panen.
"Kami terancam gagal panen karena tumpahan oli mencemari laut, tempat kami budidaya rumput laut," ujar salah satu petani rumput laut, Erens Tihu, Minggu.
"Pencemaran yang terjadi saat ini menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan ekonomi kami masyarakat," tutur pria asal Desa Huilelot itu.