detikBali

Permintaan Sederhana Penderita Hidrosefalus kepada Gubernur Iqbal Bikin Haru

Terpopuler Koleksi Pilihan

Permintaan Sederhana Penderita Hidrosefalus kepada Gubernur Iqbal Bikin Haru


Ahmad Viqi - detikBali

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyambangi 2 penderita hidrosephalus di Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Senin (27/7/2026).
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyambangi 2 penderita hidrosephalus di Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Senin (27/7/2026). (
Lombok Tengah -

Debu beterbangan diterpa angin di sisi rumah Ahmad Yani (40). Rumah berpagar sederhana yang ia tinggali bersama sang ibu menjadi saksi bisu perjuangannya melawan hidrosefalus selama puluhan tahun.

Warga Dusun Kereak, Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya itu telah terbaring sejak berusia sekitar 10 tahun akibat penyakit yang dideritanya. Menurut sang ibu, Ahmad Yani sebenarnya masih sempat bermain bersama teman-temannya ketika kecil.

"Sejak lahir sudah menderita, saat masih 8 tahun Yani masih bisa main-main dengan temannya," kenang Sriyani, ibunda Ahmad Yani, saat ditemui Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal di kediamannya, Senin (27/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tengah keterbatasan ekonomi, Sriyani yang bekerja serabutan tak pernah mengeluh merawat putranya. Mereka tinggal di rumah reyot yang menjadi tempat Ahmad Yani menjalani hari-harinya.

ADVERTISEMENT

Ahmad Yani berharap rumahnya dapat diperbaiki agar lebih layak untuk ditempati selama menjalani pengobatan.

"Selain rumah kami diperbaiki saya minat sound ke Pak Gubernur untuk dengar radio atau musik," ujar Ahmad Yani sambil tersenyum.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Ahmad Yani yang hanya tinggal berdua dengan ibunya menghabiskan hari-hari ditemani suara musik dari telepon genggamnya. Musik menjadi hiburan sederhana yang membuat pria 40 tahun itu tetap bersemangat meski harus berjuang melawan penyakitnya.

Tak jauh dari rumah Ahmad Yani, hidrosefalus juga dialami Nadira Octavany Putri. Bayi berusia delapan bulan itu kini dirawat oleh kedua orang tuanya.

Di pangkuan sang ibu, tawa kecil Nadira mulai terdengar. Bayi itu menjadi gambaran keteguhan hati orang tua dalam mendampingi anaknya menjalani pengobatan.

"Sejak lahir anak saya Nadira sudah sakit. Baru berusia 3 bulan dia sudah dioperasi di RSUD NTB," ujar Sri Rahni (35), ibu Nadira.

Setelah menjalani operasi, Sri Rahni bersama suaminya rutin membawa Nadira menjalani kontrol ke RSUD Provinsi NTB setiap tiga bulan sekali. Terakhir, Nadira menjalani pemeriksaan pada 16 Juli 2026.

"Sekarang dia rawat jalan. Jadi sudah ada perubahan, lingkaran kepalanya dari 53 cm sekarang jadi 49 cm. Sudah mulai agak kecil," katanya.

Direktur RSUD Provinsi NTB Asrul Sani memastikan kondisi Nadira terus menunjukkan perkembangan setelah menjalani operasi. Saat bertemu Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Nadira pun tampak mulai aktif.

"Pascaoperasi, kondisinya membaik dan sudah mulai beraktivitas seperti bayi biasanya. Tapi memang kepalanya masih berat," tuturnya.

Asrul mengatakan tim medis terus disiagakan untuk memantau kondisi Nadira. Orang tuanya juga telah diberikan kontak darurat apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Seluruh biaya pengobatan Nadira ditanggung melalui program BPJS.

Berbeda dengan Nadira, Ahmad Yani belum pernah mendapat penanganan dari dokter spesialis bedah saraf. Saat ia masih kecil, layanan spesialis bedah saraf masih sangat terbatas di NTB.

"Untuk Ahmad Yani itu penanganannya dilakukan secara konservatif, berfokus pada pemberian obat dan pemantauan rutin untuk mempertahankan kondisi kesehatannya," ujar Asrul.

Menurut Asrul, waktu memang tak bisa diputar kembali untuk mengubah kondisi Ahmad Yani di masa lalu. Namun, Pemprov NTB memastikan pelayanan medis dan pendampingan akan terus diberikan kepada Ahmad Yani maupun Nadira.

Iqbal Soroti Banyaknya Kasus Hidrosefalus

Melihat kondisi Ahmad Yani dan Nadira, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan penanganan hidrosefalus harus disesuaikan dengan usia pasien.

"Yang satu memang usianya sudah di atas 40 tahun, kita sekarang tinggal memikirkan bagaimana untuk memastikan kesehatannya bisa terpantau dengan baik. Tetapi yang satu lagi 8 bulan usianya, jadi masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kondisinya," ujar Iqbal.

Iqbal mengungkapkan jumlah penderita hidrosefalus di Kecamatan Praya Barat Daya tergolong cukup banyak. Dalam setahun terakhir, ia mengaku telah bertemu hampir 15 penderita di wilayah yang saling berdekatan.

"Kayaknya memang di daerah selatan ini banyak sekali yang hidrosefalus. Saya dalam setahun terakhir ini mungkin sudah ketemu hampir 15 penderita hidrosefalus ini, dan semua di daerah selatan, mulai dari Praya Barat Daya, kemudian Praya Barat," ungkap Iqbal.

Bagi mantan diplomat itu, tingginya kasus hidrosefalus di wilayah selatan Lombok menjadi fenomena yang perlu dikaji secara ilmiah. Ia menyebut kondisi tersebut mengingatkannya pada tingginya kasus gangguan ginjal di Kabupaten Bima.

"Ini fenomena sama dengan fenomena ginjal di Bima, mirip gitu. Kenapa banyak sekali? Ini kayaknya perlu kajian khusus. Kayaknya saya perlu diskusi nih dengan teman-teman di kesehatan, ada fenomena apa gitu? Kenapa di daerah selatan ini banyak sekali yang hidrosefalus? Saya enggak tahu, ilmu saya belum sampai ke sana dan saya belum pernah diskusi jujur aja tentang hidrosefalus ini. Tapi ini menjadi atensi," tegasnya.

Kunjungan Iqbal kepada Ahmad Yani dan Nadira, menurutnya, bukan hanya untuk memastikan penanganan medis bagi keduanya, tetapi juga menjadi langkah awal mendorong upaya pencegahan di masa mendatang.

Ia berharap ada kajian khusus yang melibatkan para ahli dan tenaga medis untuk mengungkap penyebab tingginya kasus hidrosefalus di wilayah selatan Lombok.

"Kenapa ini banyak, fenomena ini butuh kajian khusus. Apa ini karena tingginya kemiskinan atau tidak, ilmu saya belum sampai di sana," tandas Iqbal.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads