detikBali

Emak-emak di Bima Hadang Truk Pengangkut Gas Buntut LPG 3 Kg Langka

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Emak-emak di Bima Hadang Truk Pengangkut Gas Buntut LPG 3 Kg Langka


Rafiin - detikBali

Aksi penghadangan truk pengangkut LPG 3 Kg oleh ibu-ibu di Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, NTB, pada Selasa (14/7/2026). (Istimewa).
Foto: Aksi penghadangan truk pengangkut LPG 3 Kg oleh ibu-ibu di Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, NTB, pada Selasa (14/7/2026). (Istimewa)
Bima -

Puluhan warga di Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadang truk pengangkut gas. Aksi nekat warga yang didominasi emak-emak alias ibu-ibu itu lantaran LPG 3 kilogram (kg) langka dan harga jualnya sangat mahal.

Ibu-ibu menghadang truk pengangkut gas yang melintas di depan kantor Pemerintah Desa (Pemdes) Ngali. Video aksi mereka viral di media sosial (medsos). "Tadi siang kejadiannya," kata Hasnah (40), kepada detikBali, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, aksi penghadangan oleh ibu-ibu itu spontan dilakukan. Saat melihat truk pengangkut gas, mereka langsung berkumpul di tengah jalan lalu mencegat dan menahan truk yang hendak melintas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aksi tiba-tiba. Melihat truk pengangkut gas yang melintas, ibu-ibu langsung berkumpul dan menahan truk di jalan raya," beber Hasnah.

ADVERTISEMENT

Dalam aksinya, ibu-ibu menuntut agar agen dan pangkalan menjual LPG 3 Kg sesuai harga eceran tertinggi (HET) berkisar antara Rp 20-25 ribu per tabung. Sebab, belakangan harga jualnya menggila hingga Rp 75 ribu per tabung.

"Kami ingin agar LPG 3 kg dijual dengan harga normal oleh pengecer. Tidak ada yang lain," jelas Hasnah.

Warga lain, Jumriah (45), mengatakan ibu-ibu terpaksa mencegat dan menahan truk pengangkut LPG 3 kg. Aksi itu sebagai bentuk protes mahalnya harga hingga susahnya mendapatkan pasokan LPG 3 kg yang disubsidi oleh pemerintah selama ini.

"Di Ngali ada tujuh pangkalan LPG 3 kg. Namun selama ini warga tetap kesulitan mendapatkan pasokan. Padahal pendistribusian tetap berjalan satu kali dalam seminggu," katanya.

Ia menuding agen pangkalan LPG 3 kg di Desa Ngali lebih memilih menjual kepada para tengkulak ketimbang masyarakat umum. Pasalnya harga pembelian oleh para tengkulak lebih tinggi (mahal) ketimbang pengguna rumah tangga.

"Harga di tingkat pengecer biasanya Rp 25-30 ribu per tabung. Sementara di tengkulak kami membeli antara Rp 50 hingga Rp 75 ribu per tabung," imbuh.

Kepala Desa (Kades) Ngali, Ihwan mengakui adanya aksi warganya yang mencegat dan menghadang truk pengangkut gas. Menurut dia, aksi tersebut spontan dan hanya berlangsung sebentar.

"Aksi mendadak dan berlangsung sebentar. Warga kesal karena harga LPG 3 Kg melebihi HET dan sulit didapatkan," imbuh dia.



(hsa/hsa)










Hide Ads