detikBali

Diduga Depresi Diintimidasi 2 Anggota DPRD, Dokter di NTT Meninggal Dunia

Terpopuler Koleksi Pilihan

Diduga Depresi Diintimidasi 2 Anggota DPRD, Dokter di NTT Meninggal Dunia


Simon Selly - detikBali

Conceptual shot of feet with a hospital information ring and tag representing death
Foto: Ilustrasi jenazah. (Getty Images/nico_blue)
Kupang -

Seorang dokter perempuan, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni alias Icha Pakaenoni (27) di Kabupaten Kefamenanu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia, sekitar pukul 18.30 Wita, Jumat (26/6/2026). Diduga, Icha meninggal dunia karena depresi setelah diintimidasi dua anggota DPRD Kabupaten Timor Tenggara Utara (TTU).

"Selamat malam rekan-rekan media pukul 18.30 sore ini saya mendapat kabar dari Bapak Gabriel Pakaenoni (ayah korban) dari Kupang, kalau dokter Icha, telah berpulang ke rumah bapa di surga," ungkap paman korban, Victor Manbait, dalam pesan WhatsApp yang diterima detikBali, Jumat malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Victor menyebut penyebab Icha meninggal dunia belum bisa dipastikan. Hal itu akan disampaikan setelah penanganan medis selesai. "Belum diketahui penyebab meninggalnya," ujar dia.

Hingga berita ini ditulis, detikBali masih berada di rumah duka di Kupang. Sejumlah keluarga dan kerabat menunggu kedatangan jenazah Icha dari Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Titus Uly, Kupang.

ADVERTISEMENT

Informasi yang diperoleh, Icha diduga diintimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu. Ketika itu, Icha menangani pasien seorang anak korban gigitan ular hijau.

Pasien tersebut merupakan pasien rujukan dari RSUD Kefamenanu. Pasien awalnya diterima RSUD Kefamenanu pada 13 Juni 2026 pukul 12.50 Wita.

Dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi IGD. Mereka lantas disebut berbicara dengan nada keras kepada Icha. Diketahui, kedua pria itu adalah anggota DPRD TTU Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani. Pasien merupakan keponakan Therensius.

"Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," ungkap Victor.

Dugaan intimidasi itu membuat Icha terguncang hingga menangis di rumah sakit. Berikutnya, Icha ditemukan dalam kondisi lemah di tempat tinggalnya dan akhirnya meninggal dunia.

Sementara itu, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah melakukan intimidasi. "Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta yang sebenarnya terjadi," kata Therensius dalam keterangan tertulis yang diterima detikBali.

Therensius menjelaskan keluarga panik karena keponakannya terus mengeluh sakit. Sementara, keluarga juga belum mendapatkan penjelasan medis yang memuaskan.

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter," ujar Therensius.

Ia menyebut situasi mereda setelah dokter lain menjelaskan darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular dan serum anti bisa memang tidak tersedia.

Norbertus menambahkan, setelah mendapat penjelasan lengkap mereka minta maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, dan nakes IGD.

"Pasien sudah membaik setelah tiga hari dirawat dan kini telah kembali ke rumahnya di Kiupukan," kata Norbertus.

Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo yang dikonfirmasi detikBali mengaku baru mendapatkan informasi tersebut. Namun demikian, ia menegaskan Pemkab TTU mendukung keluarga untuk menempuh jalur hukum.

"Dari pihak pemerintah mendukung segala upaya yang akan diambil oleh keluarga almarhumah dr. Icha terhadap anggota DPR ini. Karena pemerintah tidak mau ke depannya akan terjadi dokter takut untuk tugas di TTU. Pemerintah saat ini sedang berupaya keras untuk memberikan rasa aman kepada para dokter yang bertugas di TTU, karena kami sadar akan kurangnya minat dokter ke TTU," tulis Valen dalam pesan WhatsApp-nya.



(hsa/iws)









Hide Ads